Bukan Bawang Merah yang Salah, Tapi Ayah yang Tak Pernah Hadir – Sebuah Cermin dari Kisah Lukman Hakim
Cerita rakyat 'Bawang Merah dan Bawang Putih' telah lama menjadi bagian dari narasi moral anak-anak Indonesia. Cerita ini sederhana: Bawang Putih, anak baik hati yang rajin, dianiaya oleh ibu tiri dan saudari tirinya, Bawang Merah, yang pemalas, iri, dan kejam. Pada akhirnya, Bawang Putih mendapat balasan kebaikan, sementara Bawang Merah dan ibunya mendapat ganjaran atas kejahatan mereka. Kita terbiasa menghakimi bahwa tokoh jahat dalam cerita ini adalah ibu tiri dan Bawang Merah. Tapi, mari kita berhenti sejenak dan bertanya: "ke mana sang ayah?" Dalam beberapa versi cerita, sang ayah masih hidup namun hampir tidak disebut, seolah-olah tidak relevan. Namun justru di situlah masalahnya. Ayah hadir secara fisik, tapi tidak pernah hadir secara emosional maupun fungsional sebagai kepala keluarga. Ia tidak tahu bahwa anak kandungnya disiksa. Ia tidak peka bahwa dalam rumahnya sendiri telah terjadi ketimpangan, kecemburuan, dan kek...