Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Bentuk Hantu Dalam Perspektif Pembiasan

Hantu sebagai entitas imajiner. Dikatakan imajiner karena keberadaannya antara ada dan tiada. Secara keimanan, hantu (jin dan setan) ada dan tertulis secara eksplisit dalam kitab suci, dalam hal ini penulis merujuk pada Islam. Hantu ada secara tulisan namun susah dibuktikan dengan teoritik atau dilihat dengan nyata. Seperti halnya tanwin , yang memiliki pengertian sebagai nun sukun yang ada ketika dibaca (secara pengertian dia ada), namun hilang ketika ditulis (tidak terlihat oleh mata). Sama halnya dengan hantu yang tidak semua manusia dapat menerima keberadaannya, nun sukun atau tanwin juga hanya diterima oleh sebagian huruf hijaiyyah saja. Golongan Izhar akan secara tegas menerima keberadaan nun tanwin , sedangkan idghom menghilangkan dalam keberadaannya. Berbeda dengan ihfa yang menerima dengan cara tanggung, hanya sebagian saja atau dalam kata lain ,samar. Keberadaan hantu juga sedemikian yang disebutkan di paragraf ke dua. Ada tiga golongan manusia dalam menilai kebera...

Tidak Semua Kelebihan Diri Sebagai Hal Positif

Kelebihan adalah keadaan dimana sesuatu memiliki kuantitas diatas standar proporsional. Setiap individu pun memiliki kelebihannya masing-masing. Ada yang lebih bisa menguasai matematika dibanding teman sekelasnya namun bisa saja ada yang lebih menguasai bahasa dibanding ahli matematika tersebut. Sehingga pemegang peringkat kedua yang kalah atas jumlah nilai bisa berkemungkinan memiliki lebih banyak nilai diatas peringkat pertama jika ditelisik dari setiap mata pelajarannya. Itu kalau membicarakan tentang ‘kelebihan’ jika disandarkan pada setiap nilai atau keahlian di sekolah.                 Pada pembahasan ini penulis tidak akan terfokus pada kelebihan pada bidangn intelektual tersebut, namun kelebihan secara –sedikit lebih berbeda yang terdapat pada diri seseorang. Ketika membicarakan kelebihan, tentu terbesit tentang kekurangan. Karena tidak akan kata ‘lebih’, tanpa adanya pembanding, entah itu standar rata-...

Pintar Hanya Soal Matematika

           Matematika sebagai primadona patokan kecerdasan oleh beberapa orang tua. Mungkin ini tidak akan memiliki relasi dengan fakta saat pembaca membaca tulisan ini. Penulis merujuk pada tahun 2021 M ke belakang. Walaupun sekarang (2021) mulai banyak orang tua yang sadar bahwa anak memiliki kecerdasan masing-masing, sesuai bidangnya.  Di era penulis masih menginjak sekolah (sebelum tahun 2021), penulis pernah mendapati pendaftaran ‘sekolah favorit’ entah itu SMP ataupun SMA menggunakan patokan Matematika sebagai ranking (peringkat) dalam penerimaan siswa baru. Begitupun  pada ranking saat pembagian raport. Misalnya budi memiliki jumlah nilai tertinggi di kelasnya yaitu 1962, dan Ijon memiliki jumlah nilai yang sama, namun nilai Matematika Ijon lebih tinggi, maka Ijon akan menempati ranking pertama dan Budi menempati ranking kedua. Padahal faktanya lebih banyak nilai Budi yang melebihi Ijon. Begitupun saat penerimaan siswa baru, ketika ada d...

Lihatlah yang Dibicarakan Jangan Lihat yang Bicara

    Dakwah adalah kegiatan dalam menyampaikan kebaikan, mengajak kepada hal baik dan melarang perbuatan buruk. Dakwah atau ajakan ini seyogyanya dilakukan dengan cara yang baik pula. Contoh mudahnya saja, ketika ada teman yang wudunya kurang sempurna seperti membasuh tangan tidak sampai siku, sampaikanlah cara wudu yang benar. Jangan ditempeleng pake kaki. Jadi ketika menyampaikan sesuatu kebenaran jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat maka informasi yang seharusnya tersampaikan akan tertolak.     Seraya dengan kita sebagai penerima dakwah, kita jangan serta merta menolak ajakan yang baik. Pikirkan lebih dulu, rasakan dengan nurani agar kita tahu poin penting dari ajakan tersebut.     Kadang kita terbelenggu ego, untuk terlanjur menolak apapun kata yang keluar dari orang yang kita benci. Atau bahkan orang yang memiliki kedudukan lebih rendah dari kita. Dengan merasa sudah paling benar, akan membuat malas untuk mendengar koreksi dari anak kecil. Pad...

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Dari dulu kita diajarkan bahwa ‘laa ilaaha illallah’ atau syahadad sebagai kunci syurga. Satu bacaan saja menjadikan kita dijamin syurga? Tentu saja bisa, dangan syarat dan ketentuan berlaku. Bacaan ini tidak terlepas dari keimanan seseorang. Keimanan memang tidak dapat diukur dengan alat ukur selayaknya mengukur derajat kalor pada suatu benda, atau tingginya tegangan listrik. Namun keimanan dapat diindikasikan dengan tiga pembagian: hati, lisan, dan perbuatan. Hati, seseorang yang iman harus mamiliki keyainan penuh dengan yang diimaninya, pada konteks ini, iman kepada Tuhan. Lisan, keimanan yang selanjutnya ditunjukkan dengan ikrar menggunakan perkataan. Anda mempertanyakan tentang bagaimana untuk yang tuna wicara? Tenang, Tuhan tidak akan mempersulit hambanya di luar kemampuannya. Banyak hal yang perlu dilakukan dengan ikrar, seperti syahadad atau ijab qabul diantara dua orang yang saling menerima dan menyerahkan. Apakah dengan kekurangan tersebut, mereka tidak boleh memasuk...

Nafsu Pada Manusia Menjadi Sebab Bumi Masih Ada

       Banyak anggapan bahwa nafsu yang berada pada manusia memiliki potensi buruk, bahkan keseluruhannya buruk. Memang benar nafsu punya potensi buruk. Namun, tidak semua nafsu berkiblat pada keburukan. Nafsu dibagi pada dua cabang  besar, yaitu nafsu baik dan buruk.     Nafsu buruk cenderung mendorong manusia pada hal-hal yang bertentangan dengan seruan syariat. Sedangkan nafsu baik mendorong manusia pada ketenangan hati untuk selalu mengingat Allah.          Manusia akan lebih buruk dari binatang jika hanya mengikuti nafsu buruk saja. Karena, pada dasarnya manusia punya kemiripan dengan binatang jika diukur dari pusar ke bawah. Selalu ingin kenyang dan seks, misalnya, persis dengan kebutuhan binatang kan? Jika tubuh atas (pusar-kepala) dapat mengendalikan tubuh bawah, manusia akan menjadi manusia sempurna. Namun sebaliknya jika tidak dapat mengendalikan tubuh bawah, manusia akan menjadi selayaknya binatang. Hal ini karena na...

Marah Dengan Tetap Ramah

     Manusia normalnya terlahir dengan disertai emosi. Emosi secara umum menyangkut perasaan seseorang yang muncul secara intens dan cenderung bersifat reflek. Emosi muncul sebangai respon perasaan dalam menanggapi situasi yang berkaitan dengan diri manusia. Seperti sedih, marah, dan senang. [1]      Marah, atau kemarahan muncul sebagai jawaban sistem tubuh untuk perlindungan diri terhadap sesuatu yang membahayakan. [2] Kemarahan dapat muncul dari manusia ataupun hewan, dengan menunjukkan sifat agresif misalnya mimik wajah, mata melotot dan keadaan siap memberikan perlawanan.      Labeling ‘buruk’ biasa digunakan untuk melabeli sifat marah itu sendiri. Padahal tidak semua kemarahan memiliki nilai negatif, tergantung penempatan pada situasi apa marah tersebut dilakukan. Ketika negara dijajah, misalnya, penduduknya marah maka dapat dikatakan sebagai sikap nasionalisme. Namun beda ketika marah diposisikan pada saat diskusi dan terjadi perbeda...

Sukses Ketika Dapat Melupakan Tuhan

                Sulit menentukan seseorang sukses atau tidaknya. Namun jika kita membuat kesepakatan arti bahwa sukses adalah suatu keberhasilan atau keberuntungan, [1] maka itu akan lebih mempermudah dalam menilai keadaan seseorang, bahkan keadaan diri sendiri. Sebagai insan penganut agama, tak akan lepas dengan yang namanya representasi ‘Tuhan’ dalam kehidupannya. Tentunya dengan konsep yang berbeda-beda tergantung siapa imam (panutan spiritual) yang diikutinya. Ironisnya, ada beberapa manusia yang bermasalah kepada manusia lain namun Tuhan-lah yang dijauhi. Masih ingat tantang ketuhanan namun abai dalam ketaatan. Yah, begitulah manusia, ketika dalil agama yang berkata baik,dia berani untuk meninggalkan, sebaliknya ketika berkata buruk, dia berani melakukan. Berbeda dengan logika, ketika ada seseorang mendeklarasikan temuan teori baru ‘1+1=4’, sontak berbondong-bondong orang sepakat untuk menolak teori tersebut. Hal ini menjad...