Postingan

Populer

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

  Ketika kita mendengar istilah ‘sampah masyarakat’ sontak kita langsung menyandarkan pada status yang kurang baik kan? Memang, terus kenapa saya menyarankan jadilah sampah masyarakat bukan menjadi orang yang berguna? Sebelumnya, kita tahu bahwa sampah adalah sisa atau benda buangan yang tidak terpakai lagi atau dapat diartikan sebagai sesuatu yang hina. Sedangkan sampah masyarakat adalah orang yang dianggap tidak berguna dalam masyarakat. Orang dengan penyandang gelar ‘sampah’ cenderung diabaikan, bahkan keberadaannya saja dianggap sebagai pengganggu. Merusak estetika dalam hierarki masyarakat bermoral. Tapi apakah semua sampah masyarakat mengganggu? Hal ini akan penulis ulas lebih dalam dengan cocokologi sederhana sebagai berikut. Sebelumnya, kita anggap ‘manusia sebagai sampah masyarakat’ ini benar-benar sampah selayaknya daun berguguran, tisu bekas ingus, atau balon panjang yang ditemukan di semak-semak. Sampah, dibagi menjadi dua golongan, organik dan an-organik. Samp...

Tawakal Versi Tempe

 Kalau ngomong soal tawakal, kebanyakan orang langsung ngebayangin sesuatu yang berat dan serius. Kayak orang yang lagi bangkrut tapi masih bilang “Saya pasrah sama Allah,” atau mahasiswa yang abis ujian bilang “Udah, tawakal aja,” padahal waktu ujian tadi cuma buka lembar soal terus ngelamun mikirin harga bakso naik. Tapi sebenarnya, tawakal itu nggak serumit itu. Bahkan dalam hal sepele kayak fermentasi tempe, kita bisa belajar arti tawakal yang sesungguhnya—plus dapet bonus latihan kesabaran dan pengendalian emosi biar nggak ngamukin ragi.   Coba deh bayangin kamu lagi bikin tempe. Udah semangat banget, siapin kedelai dari pagi. Dicuci bersih, direbus, dikupas, dikeringin, dikasih ragi. Pokoknya udah kayak ilmuwan mikrobiologi versi rumahan. Setelah semua proses selesai, tinggal nunggu. Nah, di situlah ujian iman dimulai. Kamu taruh kedelai yang udah dikasih ragi di tempat hangat, terus kamu mulai gelisah. Setiap setengah jam buka bungkusnya, ngecek, “Udah jadi belum, ya?” ...

Memaknai Iman dengan Rumus Volume Lingkaran

   Kalau kita buka buku pelajaran matematika di SD, pasti kita akan menemukan rumus yang paling mudah diingat, yaitu rumus luas lingkaran: L = πr²  Rumus ini sederhana, tapi kalau kita mau merenungkannya lebih dalam, ternyata bisa juga mengajarkan banyak hal tentang keimanan dan kehidupan. Karena sebenarnya, antara lingkaran dan iman itu punya kemiripan. Keduanya punya pusat, punya batas, dan bisa terus diperluas seiring waktu.    Dalam rumus luas lingkaran, ada dua hal utama, yaitu phi (π) dan jari-jari (r). Nilai phi biasanya 3,14 atau 22/7. Angka ini tetap, tidak pernah berubah. Sementara jari-jari bisa berbeda-beda, tergantung seberapa besar lingkarannya. Nah, kalau hidup ini kita ibaratkan sebagai lingkaran, maka iman adalah pusatnya. Sedangkan jari-jari adalah kedekatan kita dengan Allah. Semakin jauh jari-jari itu menjangkau dari pusat, semakin luas lingkarannya. Artinya, semakin besar dan dalam keimanan seseorang, semakin luas pula pengaruh kebaikan yang...

Opini: Kebodohan dari Kebaikan Memberi Makan Kucing Liar

Kebaikan seringkali dipandang sebagai sesuatu yang mulia, luhur, bahkan heroik. Namun, tidak semua kebaikan benar-benar membawa hasil yang baik. Ada kalanya kebaikan justru berubah jadi kebodohan yang dibungkus rasa iba. Salah satu contohnya adalah kebiasaan memberi makan kucing liar. Banyak orang merasa dirinya penyelamat hanya karena menaruh sisa nasi, tulang ayam, atau pelet murahan di pinggir jalan. Sekilas tampak penuh welas asih, apalagi kucing yang lapar tampak begitu kasihan. Tetapi kalau kita berpikir lebih dalam, tindakan semacam itu justru bisa menjadi bom waktu yang mengacaukan keseimbangan alam, merusak fungsi kucing sebagai predator alami, dan menciptakan masalah baru bagi lingkungan. Sejak awal, kucing diciptakan sebagai karnivora. Nalurinya berburu. Mereka bukan pemakan tepung atau pengunyah nasi basi, melainkan predator kecil yang menjaga keseimbangan ekologi. Peran kucing dalam rantai makanan jelas: menekan populasi tikus, burung kecil, atau serangga tertentu. Cob...

Siswa Nakal dan Bodoh Itu Memang Ada

   Kalau kita ngomong soal dunia sekolah, ada satu hal yang sering bikin debat panjang: sebenarnya ada nggak sih yang namanya siswa nakal dan siswa bodoh? Banyak motivator atau pakar pendidikan bilang, “nggak ada anak nakal, nggak ada anak bodoh, semua anak itu baik dan pintar dengan caranya masing-masing.” Kedengarannya indah banget, manis di telinga, seakan semua anak bisa disulap jadi bintang kelas. Tapi jujur aja, kalau kita mau turun ke lapangan, ke ruang kelas yang isinya 30–40 anak dengan karakter beda-beda, ya jelas kelihatan banget ada murid yang nakal, ada juga murid yang bodoh. Menganggap semua anak itu sama aja baik dan sama aja pintar, menurut saya itu cuma teori doang.   Kalau mau logika sederhana, tujuan belajar itu kan biar anak jadi pintar atau pandai. Nah, kalau pintar itu ada, otomatis lawannya—yaitu bodoh—juga ada dong. Kalau semua anak pintar, ya nggak perlu ada sekolah, nggak perlu ada ujian, nggak perlu ada target pembelajaran. Sama juga dengan pend...