Lihatlah yang Dibicarakan Jangan Lihat yang Bicara
Dakwah adalah kegiatan dalam menyampaikan kebaikan, mengajak kepada hal baik dan melarang perbuatan buruk. Dakwah atau ajakan ini seyogyanya dilakukan dengan cara yang baik pula. Contoh mudahnya saja, ketika ada teman yang wudunya kurang sempurna seperti membasuh tangan tidak sampai siku, sampaikanlah cara wudu yang benar. Jangan ditempeleng pake kaki. Jadi ketika menyampaikan sesuatu kebenaran jika disampaikan dengan cara yang kurang tepat maka informasi yang seharusnya tersampaikan akan tertolak.
Seraya dengan kita sebagai penerima dakwah, kita jangan serta merta menolak ajakan yang baik. Pikirkan lebih dulu, rasakan dengan nurani agar kita tahu poin penting dari ajakan tersebut.
Kadang kita terbelenggu ego, untuk terlanjur menolak apapun kata yang keluar dari orang yang kita benci. Atau bahkan orang yang memiliki kedudukan lebih rendah dari kita. Dengan merasa sudah paling benar, akan membuat malas untuk mendengar koreksi dari anak kecil. Padahal hal itu benar. Atau merasa terdidik sehingga meremehkan orang lain yang tidak sekolah. Padahal saat kita terpaku pada teori akan membuat pikiran kita rumit. Misal saat ada orang yang meninggal dan mengukur luas liang lahat. Jika terpaku dengan teori akan membuat pikiran kita ribet dengan ukuran sekian CM, iya kalau ada meteran, kalau tidak? Namun orang yang biasa menggali kubur tidak akan risau, hanya bermodalkan galah untuk mengukur panjang mayat dan dapat mengaplikasikan pada calon liang yang akan digali, tanpa tahu sekian CM-nya.
Apakah yang ribet dengan ukuran CM salah? Tidak juga, karena setiap manusia memiliki jalan pengalamannya masing-masing. Asalkan tidak saling menyalahkan, yang nantinya berakhir bentrok. Tidak baik juga, hanya karena perbedaan cara mengukur panjang mayat, bentrok, dan menambah daftar mayat.
Begitu juga saat proses pendidikan, baik secara formal dalam lembaga pendidikan, atau dalam setiap sisi kehidupan. Posisikan kita sebagai orang bodoh yang selalu haus akan ilmu, agar mudah menerimanya. Jangan menilai ilmu atau informasi salah hanya karena siapa yang mengatakannya.
'Aku hanya percaya jika A yang berbicara', biasa berlaku pada kita entah disadari atau tidak. Bahkan pernah merasa 'halah tau apa si? Berisik!'. Itu kalau yang menyampaikan adalah orang yang entah berantah. Anggap saja masalah wudu, kalau anak kecil yang mengoreksi kita, otomatis sebal. Coba kalau seorang kyai atau ustadz ternama, pasti senang. Padahal informasi yang dikatakan sama saja benarnya. Jadi lihatlah sesuatu yang dikatakan jangan hanya melihat yang berbicara, kalau itu soal kebenaran.
Di kondisi tertentu jangan juga menelan mentah-mentan sebuah informasi. Sementah-mentahnya rujak buah masih butuh sambal dengan gula yang telah diproses dengan matang. Kritis masih diperlukan untuk setiap informasi, kritis bukan antagonis. Setelah kita menerima informasi, tentunya dengan lapang dada, masih perlu mencari konfirmasi ke pihak-pihak yang kredibel. Jika masalah agama ya ke ahli agama, kesehatan ya ke dokter. Pada kasus lain misal pada kejadian ukuran liang lahat untuk mayit diatas tadi, carilah jalan tengah untuk menghindari sengketa, tanya pada mayitnya, karena dia yang lebih tahu tinggi badannya, kalau sudah ada jawaban, jangan meributkan ukuran liang lahat lagi!
Teruslah belajar jangan mudah menyalahkan.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.