Tuhan Tak Ada Nilainya di Hadapan Manusia

Berdasarkan survey tahun 2018, Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar ke dua setelah Pakistan. (Wikipedia 2024) selain Islam sebagai agama mayoritas, ada agama lain yang juga memiliki pengikut yang banyak. Hal ini memiliki arti bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama.

                Menganut agama berarti mempercayai konsep ketuhanan, terlepas bagaimana setiap kepercayaan tersebut yang mengartikannya. Sebagai penulis, saya tidak mempermasalahkan ada orang yang beragama apapun atau bahkan tidak beragama sekalipun. Karena saya percaya, semua agama mengajarkan kebaikan. Bahkan kebaikan tidak hanya bersumber dari ajaran agama, filsafat misalnya. Bahkan ayam yang tidak belajar agama di sekolah, ataupun tidak belajar filsafat, mereka tahu bahwa mengerami telurnya agar telur selalu merasakan kehangatan, sehingga menetas. Bukankah itu juga kebaikan? Tapi jika ditanya agama yang paling baik itu apa? Saya tegas menjawabnya dengan: agama pilihan yang saya anut.

                Kenapa saya menganggap agama yang saya anut adalah agama yang terbaik? Sudah jelas kan, agama bukanlah barang dagangan, alias gratis. Jika agama adalah dagangan seperti baju pada umumnya. Saat kita memilih baju, apakah selalu memilih yang terbaik? Dengan gajimu yang sedemikian, memilih baju dengan harga ratusan juta karena kwalitas terbaik, apakah masih mau? Tentu memilih yang sesuai kebutuhan dan kepemilikan biaya kan? Jadi, dengan kegratisan itu, ya yang saya pilih harus terbaik menurut saya. Yaitu agama yang saya anut. Jadi, mohon maaf nih untuk kalian yang open minded, ijin dong, saya tetap menganut fanatisme dan chauvinisme kalau soal memilih agama.

                Intro yang terlalu panjaaang, Cuma untuk menjelaskan kalau penulis adalah sosok yang beragama dan bertuhan. Butuh banget validasi, memang!

                Berkaitan dengan jalan hidup penulis yang memunculkan kesimpulan bahwa “Tuhan Tak Ada Nilainya di Hadapan Manusia”, karena memang pernah mengalami fase itu.

                Dalam pengalaman pribadi, penulis pernah menganggap tuhan itu ada tapi tak ada. Seperti tanwin, yang ada nun sukunnya ketika dibaca, tapi tulisannya tak ada nun. Seperti juga alif pada kuhum al ta’rif syamsyiyyah, alif ada, tapi waktu dibaca dia diabaikan. Seperti kamu yang berusaha membuat gebetanmu bahagia tapi usahamu tak dianggap, dan memilih orang lain. Kamu sakit kan digituin? Ini tentang Tuhan lho, Tuhan! Kuulangi lagi, Tuhan! Saya tulis ulang dengan huruf kapital agar lebih jelas TENTANG TUHAN! TUHAN DIANGGAP ADA JUGA DIANGGAP TIDAK ADA.

                Mengapa penulis menganggap ada namun juga tidak ada? Pada fase hidup itu penulis selalu berambisi dengan banyak hal. Semua hal dikerjakan dengan semangat, tekun, dan teliti. Sampai di titik, semua pencapaian karena hasil dari usaha pribadi. Memang sepintas seperti itu. Dengan selalu beranggapan usaha yang maksimal mendapatkan hasil yang maksimal pula. Sehingga lupa dengan andilnya Tuhan dalam setiap usaha.

                Penulis lupa, semua bekal yang dibawa dalam melakukan usaha asalnya dari Tuhan. Otak, diberi tuhan, kemampuan berpikir juga dari Tuhan, semuanya dari-Nya. Walaupun Ia mewajibkan hambanya untuk berusaha, tapi kemauan dan kesempatan untuk melakukan usaha juga dari Tuhan.

                Penulis lupa bahwa sehebat apapun kalau Tuhan tidak menghendaki, akan gagal juga. Seperti pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Tupai yang sudah berlatih dari kecil, sebelum tau enaknya mimpi basah, sudah latihan melompat, pun bisa jatuh. Perenang handal pun bisa tenggelam, bahkan yang katanya obat kuat, mujarab, dan langsung jreng –klaimnya, ada juga kemungkinan tetap lemah, lesu, atau tidak ada sisi kuatnya sama sekali dalam menghadapi kehidupan yang berat ini.

                Semua keahlian itu bisa digagalkan karena ada variable lain yang datangnya tiba-tiba. Seraya berbunyi ting dibarengi kalimat, ”hay, bagaimana kabarmu sekarang?”. Tiba-tiba kan? Usahamu untuk melupakan pun gagal. Dan kalimat beserta bunyi itulah contoh variable yang datangnya tiba-tiba tanpa ada antisipasinya. Misalnya yang lain, tupai, saat melompat tidak sengaja menginjak tumpahan minyak dari mi instan yang disiapkan oleh siswa kreatif kepada guru tercintanya di depan pintu. contoh lain lagi, sang perenang yang tiba-tiba kram, atau mencret sehingga didatangi ikan untuk memakan eek-nya. Yang menyebabkan dia grogi, gagap, dan kebanyakan minum air, akhirnya tenggelam.

                Nah, semua variable dadakan itu nyata adanya. Seberusaha apapun penulis, yang dengan keyakinan “Saya masih percaya dengan kemampuan Saya, Saya mampu, dan Saya bisa”, pun akan mengalami kemacetan berpikir. Hal itu terjadi beberapa waktu silam saat mengerjakan tugas akhir kuliah.

                Saat itu penulis merasa bisa mengerjakan sendiri TANPA BANTUAN SIAPAPUN, bahkan ketika beberapa teman bahkan senior datang menawarkan bantuan, semuanya ditolak. Dengan alasan tidak mau merepotkan. Dan akan datang meminta bantuan saat benar-benar sudah mentok.

                Wal hasil, kementokan/kebuntuan berpikir itu datang. Penulis sudah tidak bisa berpikir untuk melanjutkan satu kalimat pun apalagi satu bab. Sehingga penulis menghampiri teman yang di awal menawarkan bantuan. Beruntungnya tembok kebuntuan sudah bisa dibobol. Sehingga penulis dapat melanjutkan tugas akhirnya.

                Variable tak terduga pun datang, baik dari pandemic, atau bahkan pembimbing yang sangat teliti. Penulis tidak menyalahkan pembimbing. Hanya saja dengan ketelitian beliau dan perfeksionis peneliti berujung BOOOMMM, pikiran meledak. Masalah semakin rumit. Usaha penulis memuaskan jalan pikiran pembimbing menjadi-jadi. Kemacetan berpikir fase dua muncul.

                Karena menganggap masalah semakin rumit, peneliti mendatangi senior, dengan anggapan bahwa senior akan memberikan masukan yang lebih baik. Namun keanehan terjadi. Senior tidak menjelaskan yang mengarah pada tugas akhir penulis, namun memberikan arahan lain. yaitu, minta maaf ke orang tua, minta doa restu, dan ziarah. Penulis beranggapan, tidak masuk akal, dan tidak ada hubungannya. Tapi karena sudah tidak ada lagi jalan untuk melanjutkan pikiran. Dengan senang hati, penulis melakukan nasihat itu. Dan anehnya, dalam perjalanan saat beranjak dari TKP, semua ide muncul. Penulis pun melanjutkan Tugas akhir dengan mudahnya.

                Kemacetan atau kebuntuan fase ketiga muncul beberapa saat setelah bimbingan. Judul dari penulis yang dibimbingkan selama ini sudah tidak relevan lagi. Judulnya tentang pandemic, tapi akan diujikan setelah pandemic selesai. Buntu lagi. Ganti judul. Namun tidak begitu buntu karena pembimbing memberikan arahan yang mudah dipahami. Dan penulis dengan tanpa jeda bersantai, terus mengerjakan tugas akhir. Jeda hanya saat menjalankan kewajiban dan kebutiuhan yang lain. Dan tidak lupa untuk beribadah kepada Tuhan. Tuh kan masih beribadah menganggap Tuhan ada, tapi saat berusaha lupa kalau butuh keberadaan Tuhan.

                Kebuntuan fase keempat –cukup sampai empat saja. Karena maksimal empat, itu pun kalau bisa adil. Kebuntuan ini bukan terletak pada pikiran. Tapi usus. Usus buntu yang berakhir harus potong usus. Ususnya, bukan usus buntunya saja yang dipotong, tepatnya yaitu sebelum dan sesudah usus buntu yang dipotong. Yang panjangnya tidak tahu berapa, tapi yang jelas saat dicuci, ada segenggam tangan.

                Saaat itu senior datang menjenguk, beliau tidak menyemangati, hanya berkata “kamu itu salah apa sama pondok, sama pengasuh pondok”. Disitu penulis runtuh. Pikiran yang selama ini dianggap mampu dan bisa, ternyata tertutupi oleh banyaknya kenyataan yang tidak dapat penulis utarakan disini. Ingat, ketika Tuhan telah menutupi aibmu, jangan kau umbar. Penulis berasumsi, semua jalan yang sulit, yang dilalui penulis adalah buah dari banyaknya kesalahan tersebut.Setelah sembuh, penulis berusaha meminta maaf dan melakukan sedikit demi sedikit pertaubatan.

                Jadi seberusaha apapun penulis, akan gagal pula saat Tuhan berkehendak untuk gagal. Apalagi, semua yang ada pada diri penulis, sejatinya adalah milik Tuhan, yang dititipkan kepada penulis untuk mengelolanya dengan baik. Eh malah untuk melakukan aib, ya Sang Pemilik bisa jadi tidak terima.

                Kadang, kita congkak, merasa semua milik pribadi, sehingga tidak menganggap Tuhan ikut andil. Bahkan menganggap Tuhan tak memiliki nilai sama sekali dalam hidup kita jika kita masih berselimut kesombongan. Masih untung kan saat potong usus, masih dikirim dokter ahli bedah oleh Tuhan, yang keahliannya tidak sekalian dengan variable acak sebagai penghambat. Bayangkan jika dokternya ahli, eh ada variabel yang tenyata ususnya getas (mudah sobek dan susah dijahit), sehingga susah disatukan, yang berujung operasi gagal. Kalau memang gagal, kan kalian tidak bisa membaca tulisan yang penting ini.

                Jadi, Tuhan tak ada nilainya di hadapan manusia, yaitu manusia yang sombong. Maka dari itu, mari perbanyak bersyukur, hindarkan sifat sombong, dan hadirkan Tuhan dalam setiap tindakan kita, Tindakan yang dengan berusaha baik tentunya. Kalau kalian mencuri, terus berkata, “saya mencuri karena kehendak Tuhan”. Ooo berani nantang,,,

dah ah,, capek,, daaa selamat beraktivitas,,, sekali lagi dengan tulisan kapital dan ukuran yang diperbesar dan bercetak tebal sebagai pengingat dan penutup.

 HADIRKAN TUHAN DALAM SETIAP USAHA BAIKMU.

 

               

               

               

Komentar