Maklum Bukan Nabi BOOOYYY!!!

Bayangkan sejenak jika manusia diberikan mukjizat seperti para nabi. Seorang pria bisa mengubah tongkat menjadi ular, yang lain mampu membelah bulan layaknya origami, sementara sebagian besar lelaki memiliki ketampanan setara Nabi Yusuf. Di permukaan, ini terdengar seperti anugerah luar biasa. Namun, mari kita berpikir lebih jauh: apakah manusia mampu menjaga keistimewaan tersebut dengan bijak? Jawabannya, hampir pasti tidak. Justru, dunia akan berubah menjadi tempat yang lebih kacau dan penuh kekacauan.

Mukjizat dalam kisah para nabi bukanlah sekadar kelebihan atau kekuatan super layaknya dalam dunia fiksi. Mukjizat diberikan sebagai bukti kenabian dan alat untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk pamer atau mempermainkan orang lain. Namun, jika manusia biasa diberikan mukjizat, apakah mereka akan mempergunakannya sebagaimana mestinya? Sangat kecil kemungkinannya.

Misalnya, jika seseorang bisa mengubah tongkat menjadi ular seperti Nabi Musa, bukannya digunakan untuk menegakkan kebenaran, mungkin malah digunakan untuk mengerjai teman-temannya. Bayangkan seorang siswa yang kesal karena gurunya memberi nilai jelek, lalu mengubah penghapus atau penggaris menjadi ular hanya untuk membalas dendam. Dunia akan dipenuhi dengan lelucon yang membahayakan, dan bukannya ketertiban, kita justru akan mengalami kekacauan luar biasa.

Atau bayangkan jika manusia bisa menghidupkan orang mati seperti Nabi Isa. Apakah mereka akan menggunakan kemampuan tersebut untuk menolong orang-orang yang benar-benar membutuhkan? Mungkin tidak. Yang ada justru manusia akan menggunakan kekuatan ini secara sembarangan. Seorang anak yang kehilangan orang tuanya bisa saja menghidupkan mereka kembali tanpa memikirkan akibatnya. Atau lebih buruk lagi, orang-orang akan seenaknya melakukan "Edo Tensei" ala Naruto, menghidupkan kembali tokoh-tokoh sejarah untuk kepentingan pribadi atau malah untuk menciptakan peperangan baru.

Nabi Yusuf adalah simbol ketampanan yang luar biasa, bahkan para wanita yang melihatnya sampai tidak sadar melukai tangan mereka sendiri. Namun, yang perlu kita pahami adalah Nabi Yusuf memiliki ketampanan luar biasa bersama dengan akhlak yang luar biasa pula. Bagaimana jika semua laki-laki di dunia diberikan wajah setampan Nabi Yusuf, tetapi tanpa akhlak yang menyertainya? Dunia akan penuh dengan "buaya darat" yang tidak bertanggung jawab.

Saat ini saja, dengan penampilan yang biasa-biasa saja, banyak pria sudah memanfaatkan wajah tampan mereka untuk bermain hati dengan banyak wanita. Jika semua laki-laki setampan Nabi Yusuf, bisa dipastikan angka perselingkuhan melonjak drastis, hubungan antar manusia menjadi semakin rusak, dan banyak wanita yang akhirnya tersakiti karena wajah rupawan tidak dibarengi dengan ketulusan hati. Oleh karena itu, wajar jika manusia tidak diberikan ketampanan luar biasa seperti Nabi Yusuf. Tanpa akhlak yang kuat, ketampanan itu hanya akan membawa kehancuran.

Nabi Muhammad SAW diberikan mukjizat membelah bulan sebagai tanda kenabiannya. Namun, bayangkan jika manusia biasa bisa melakukan hal yang sama. Apa yang akan terjadi? Mungkin manusia akan memperlakukan bulan layaknya origami, membentuknya sesuka hati. Ada yang ingin bulan berbentuk hati untuk menyatakan cinta, ada yang ingin bulan berbentuk logo klub bola favoritnya, dan ada yang mungkin akan iseng menghapus bulan sepenuhnya dari langit.

Kita lihat saja sekarang bagaimana manusia memperlakukan lingkungan. Hutan dirusak, lautan dicemari, udara dikotori. Jika diberikan kemampuan untuk mengubah bentuk bulan, bisa dipastikan manusia tidak akan bertindak bijak. Mungkin ada negara yang mengklaim bulan sebagai "milik pribadi" dan memanfaatkan kekuatan ini untuk kepentingan politik atau ekonomi. Ini hanya akan menambah daftar panjang kerusakan yang telah dibuat oleh manusia di bumi.

~~~

Mukjizat diberikan kepada nabi bukan tanpa alasan. Selain sebagai tanda kenabian, mukjizat hanya bisa dijaga oleh orang yang memiliki akhlak yang luar biasa tinggi. Para nabi tidak tergoda menggunakan kekuatan tersebut untuk kesenangan pribadi atau membalas dendam. Sebaliknya, mereka menggunakan mukjizat untuk menegakkan keadilan, mengajak manusia kepada kebenaran, dan menolong umat manusia.

Manusia modern, di sisi lain, bahkan dengan teknologi terbatas saja sudah sering menyalahgunakan kekuasaan yang mereka miliki. Bayangkan jika manusia diberikan mukjizat sehebat nabi, dunia akan semakin kacau. Ada yang menggunakan kekuatan tersebut untuk kejahatan, ada yang menggunakannya untuk memperkaya diri, dan ada pula yang sekadar memamerkan kehebatan tanpa peduli dampaknya pada orang lain.

Maka, tidak heran jika manusia tidak diberikan keistimewaan seperti para nabi. Bukan karena Tuhan tidak sayang kepada manusia, tetapi karena manusia tidak memiliki akhlak sebaik para nabi. Jika manusia diberikan mukjizat tanpa akhlak yang menyertainya, yang terjadi bukanlah kebaikan, melainkan kehancuran.

~~~

Bayangkan dunia ini jika manusia bisa menghidupkan orang mati seenaknya, mengubah tongkat menjadi ular untuk iseng, membentuk bulan sesuai selera, atau semua laki-laki menjadi terlalu tampan tanpa akhlak. Yang terjadi bukanlah dunia yang lebih baik, melainkan dunia yang semakin hancur. Oleh karena itu, Tuhan telah menetapkan bahwa mukjizat hanya diberikan kepada nabi yang memiliki akhlak mulia, bukan kepada manusia biasa yang masih terjerat hawa nafsu dan egoisme.

Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk manusia. Sebagai gantinya, manusia diberikan akal dan ilmu pengetahuan agar bisa berkembang dan menciptakan kemajuan yang bermanfaat. Namun, dalam segala kemajuan itu, tetap harus ada batasan agar dunia tetap seimbang dan manusia tetap memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.

Jadi, bersyukurlah bahwa kita tidak memiliki mukjizat seperti para nabi. Jika kita ingin menjadi istimewa, bukan mukjizat yang harus kita kejar, melainkan akhlak mulia dan hati yang bersih. Itulah yang akan membuat manusia lebih dekat kepada Tuhan dan menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik, tanpa harus memiliki keistimewaan seperti nabi.

Karena pada akhirnya, manusia dengan akhlak buruk dan mukjizat besar hanya akan menjadi monster yang menghancurkan dunia, bukan menyelamatkannya.

Komentar