Gatotkaca Gugur Bukan Hanya Karena Senjata tapi Juga Karena Perasaannya

 

Untuk orang Jawa, mungkin tidak asing dengan kisah Baratayuda. Kisah ini mencakup semua kisah tentang peperangan antara Pandawa yang digambarkan sebagai kubu baik dan Kurawa sebagai gambaran kubu yang jahat. Dalam versi lengkapnya, Baratayuda tidak hanya dikisahkan hanya saat peperangan, namun mencakup semua kisah dari tokoh-tokohnya. Seperti bagaima kehidupan Janaka, kelahiran werkudara, dan kisah Gatotkaca sebagai tokoh golongan pemuda yang sangat ikonik yang tidak lain adalah anak dari Werkudara.

Kisah Gatotkaca diawali dengan kelahirannya yang unik. Yaitu plasenta yang tidak dapat dipotong, bahkan dengan Kuku Pancanaka –senjata Werkudara ayahnya, yang dikenal ketajamannya.

Tidak mengherankan juga kalau dia terlahir dalam keadaan aneh, Werkudara –ayahnya, pun memiliki keadaan yang sama anehnya yaitu lahir dalam keadaan en caul masih terbungkus selaput ketuban. Kelahiran en caul ini sangat jarang terjadi, maka tidak heran ada yang menyebutnya dengan keberuntungan atau bahkan sihir bagi si jabang bayi di masa yang akan datang. Namun perlu diingat bahwa keberuntungan atau apapun itu hanyalah mitos atau kepercayaan sebagian orang saja. Bertolak belakang dengan kepercayaan yang mengatakan keberuntungan. Selaput tersebut sama sulitnya dengan pemotongan plasenta Gatotkaca. Sehingga untuk melepaskan selapun tersebut, Werkudara dibuang ke Hutan Krendawahana, dan yang bertugas untuk membuka bungkus tersebut serahkan kepada Gajah Sena dengan cara diinjak. Setelah terbuka, Werkudara kaget lantas membunuh Gajah Sena.

Saat kelahiran Gatotkaca yang memiliki kesulitan selayaknya Werkudara, maka dengan kebingungan itu, Arjuna –pamannya, bertapa demi mencari petunjuk tentang senjata yang mampu untuk membuka lapisan yang membungkus jabang bayi. Diwaktu bersamaan Karna juga melakukan pertapaan. Karena rupa mereka mirip, Batara Narada memberikan senjata Kuntawijaya kepada Karna bukan Arjuna. Menyadari kesalahan tersebut Batara Narada memberitahu kepada Arjuna.

Perang tanding pun tidak dapat dihindari antara Karna dan Arjuna dalam merebutkan senjata Kuntawijaya. Dalam perang tanding tersebut, Karna berhasil kabur dengan membawa senjata Konta dan Arjuna hanya dapat merebut sarung atau wadahnya saja. Dimana sarung tersebut terbuat dari kayu Mastaba.

Dengan kayu Mastaba tersebut ternyata dapat untuk memotong plasenta Gatotkaca. Namun anehnya wadah dari senjata tersebut malah masuk ke pusar Gatotkaca. Kresna menyaksikan hal itu dan berpendapat bahwa kayu Mustaba berkhasiat untuk menambah kuatnya Gatotkaca dan meramalkan kematian Gatotkaca akan berada di tangan sang pemilik senjata tersebut.

Cerita berlanjut saat pendidikan Gatotkaca yang diceburkan ke Kawah Candradimuka di Gunung Jamurdipa. Bukannya wafat malah membuat gatotkaca semakin kuat. Sehingga mendapatkan julukan ‘otot kawat tulang besi’, saking kuatnya

----

Kita bahas melompat langsung ke peperangan.

Perang Baratayuda. Sebenarnya kata ‘perang Baratayuda’ kurang pas, karena ‘yuda’ sendiri berarti perang. Ada dua pengulangan kata yang memiliki makna yang sama. Sehingga penulis akan menyebut perang Barata atau Baratayuda saja untuk selanjutnya.

Barata yuda adalah perang antara Pandawa dan Kurawa. Dimana pandawa berisi lima tokoh utama dan Kurawa 100 tokoh utama. Perbandingan yang sangat signifikan. Dengan logika 1:20 orang. Perang ini dapat dimenangkan oleh Pandawa bukan karena mereka kuat. Hal ini disebabkan Pandawa adalah gambaran tokoh baik, dan tokoh sentral tentunya. Biasa lah alur cerita memang seperti itu, tergantung pembuat ceritanya mau bagaimana menggambarkan pemenangnya. Tidak peduli kubu baik atau jahat yang menang, yang pasti menang adalah tokoh utama dengan sifat apapun itu.

Terlepas dari ‘terserah pembuat cerita’, diasumsikan bahwa dengan kekuatan Pandawa tidak mampu memenangkan pertempuran tersebut. Hal ini dikarenakan ada Karna sang tokoh terkuat Kurawa yang membawa senjata Konta.

Pandawa dengan kelemahan tersebut, melakukan diskusi panjang dan memutuskan Gatotkaca maju pada barisan depan untuk menghalau senjata Konta milik Karna. Hal itupun disetujui oleh Gatotkaca demi membela kebenaran, dan menaikkan prosentase kemenangan kepada Pandawa.

Sesuai dengan ramalan Kresna. Saat Gatotkaca melawan Karna, senjata Konta langsung pulang ke dalam wadahnya. Seketika itu pula gatotkaca tumbang, karena kepulangan senjata kedalam wadahnya harus melalui proses menusuk Gatotkaca. Dia gugur beserta hilangnya julukan manusia kuat yang di sematkan kedalam dirinya. Ternyata sekuat apapun Gatotkaca dengan semua senjata, dia tetap memiliki kelemahan. Yaitu senjata Konta sebagai predator alaminya.

Setelah kematian Gatotkaca, senjata konta tidak lagi dapat digunakan untuk berperang. Senjata tersebut sudah terlalu nyaman untuk keluar lagi dari rumahnya. Karena rumah memang tempat ternyaman untuk kembali, kata musyafir pencari pundi kehidupan.

Dengan wafatnya Gatotkaca dan senjata yang telah kehilangan fungsinya, Karna tidak lagi menjadi tokoh terkuat. Sehingga Kurawa pun dengan mudah dikalahkan oleh Pandawa.

Tamat.

---

Untuk intermezonya segitu saja ya. Itu untuk menambah opini dibawah ini agar ada gambaran saja ‘siapa tokoh gatotkaca’. Lanjut beropini…

Gugurnya Gatotkaca bukan semata-mata karena kesalahannya pribadi yang tidak dapat menghindari senjata Konta, ataupun bukan karena dia lelaki lemah. Perlu diingat bahwa dia adalah lelaki kuat yang bahkan kuat sejak lahir.

Pemuda perkasa itu juga bukan tokoh yang mudah lengah, hanya saja dia tidak mudah mengatakan ‘tidak’. Bayangkan saat rapat anggota keluarga ketika Puntadewa (kakak sulung dari Werkudara dari lima bersaudara), atau pak de tertua dari Gatotkaca saat memimpin rapat. Diasumsikan ada percakapan begini, “wahai saudaraku, kakanda membuka rapat perang hari ini akan menyampaikan kelebihan dan kekurangan dari kelompok kita”. Lalu dia menjabarkan bahwa kelompoknya memiliki kelebihan akan kekuatan tempur, namun memiliki kekurangan kalau dibandingkan senjata Konta milik Karna yang dapat menghancurkan siapapun dan apapun. Sehingga diakhirnya dia mengatakan, “kita butuh solusi untuk menghalau senjata itu, ada yang punya pendapat?”. Semua terdiam dan termenung sehingga ada ide yang tercetus dari salah kelima bersaudara tersebut. Yang menyatakan bahwa kelemahan senjata Konta adalah wadahnya, karena saat setelah terpasang sudah tidak dapat dicabut lagi dan tidak dapat digunakan kembali. Dan itu ada pada Gatotkaca, dimana kematiannya sudah jelas diramalkan oleh Kresna yaitu karena senjata Konta.

Gatotkaca karena hanya seorang pemuda mau bagaimana lagi, mau tidak mau harus mengikuti golongan orang tua. Dan dia pun setuju. Dan perang terjadi, dia wafat, sesuai strategi, Pandawa menang, dia hanya dikenang.

Kasihan sebenarnya dengan Gatotkaca, dimana jaman itu kekuatan adalah salah satu daya tarik terbesar. Beda dengan sekarang yang harus mapan, kaya, ganteng, dan royal dengan pasangan. Dia telah menjadi sosok idaman jaman itu, eh meninggal demi keegoisan golongan tua yang melakukan perjudian. Bagaimana tidak judi? Dengan perbandingan yang sangat besar itu dengan kemungkinan kemenangan kecil harus ada dirinya yang dikorbankan sebagai modal untuk bertaruh gacha agar pandawa mendapatkan maxwin.

Andai saja, dia bisa berkata “tidak paman, lebih baik kan damai hidup rukun, ngapain sih harus perang, kita kan golongan baik, kenapa tidak memberantas keburukannya dengan cara merangkul dan menyadarkan mereka, kenapa harus orangnya yang dibantai, kan barangkali mereka akan melakukan pertobatan pada suatu hari?” mungkin dia akan hidup nyaman. Tidak perlu ada pertumpahan darah. Namun karena tidak enak mungkin karena orangtua yang memaksa, sehingga dia mati bukan hanya sebagai pehlawan, namun mati karena rasa tidak enakan.

Rasa tidak enakan perlu kita miliki, sebatas sebagai kontrol sistem ketika akan berucap atau bertindak agar tidak menyakiti orang lain. Sifat memikirkan perasaan orang lain itu juga perlu, dengan kita menjaga perasaan orang lain, diharapkan orang lain juga menjaga perasaan kita. Ya walaupun parktiknya banyak orang yang seenaknya dengan kita ketika kita tidak enakan dengan orang lain. Ya sudah kan? Hidup sewajarnya saja, ketika orangnya baik ya kita balas kebaikan, kalau jahat, cukup menghindarinya saja, kalau kita kuat membalasnya tetap dengan kebaikan itu lebih baik. Jangan seperti Gatotkaca, yang gugur karena perasaannya yang tidak enakan untuk menolak. Terus dapat apa setelah Gatotkaca gugur atau setelah kau terpuruk, setres, overthinking? Memangnya orang yang seenaknya denganmu peduli? Tidak! Masih mau terus-terusan 'tidak enakan' dengan semua orang ketika jelas kau adalah korban?

 

Komentar