Sisi Lain Fiksi: Timun Emas
Kamu adalah tokoh nyata namun fiksi dalam khayalanku. Itu kata-kata dari seorang pengagum rahasia, atau yang bukan rahasia karena telah mengungkapkan perasaannya namun ditolak, dan masih tetap mendambakan tokohnya. Paragraph ini tidak penting, hanya menambah kalimat saja agar tulisan ini semakin panjang.
Tokoh fiksi yang akan kita bahas adalah kisah dalam cerita rakyat yang berjudul ‘Timun Emas’. Mungkin pembaca sudah tidak asing dengan kisah ini. Cerita yang dimulai dengan dua tokoh pasangan suami dan istri yang sampai tua tidak memiliki anak, sehingga melakukan perjalanan spiritual dengan meminta kepada Buta Ijo (dibaca buto ijo, artinya raksasa hijau) –nama tetap memakai Bahasa Jawa, terserah saya kan? Kenapa emang? Gak suka? Yeeeeee…
Oke lanjut, setelah sowan ke Buta ijo, dengan gagahnya dia menyanggupi akan memberikan anak dan memberikan syarat. Bahwa pada umur setelah dewasa, anaknya akan diambil kembali. Yah seperti penitipan anak, pagi nitip sorenya diambil. Tapi ini dari bayi sampai dewasa nitipnya. Pasangan sersebut pun menyanggupi syarat tersebut.
Suatu hari, ketika berladang, pasangan ini menemukan buah mentimun emas, atau kuning, atau putih. Di buku LKS yang harganya Rp. 7000,- waktu itu warnanya putih, tapi di tulisan emas. Kita sepakati saja warna emas, sesuai judul. Setelah timunnya dibuka, taraaa ada bayi di dalam timun tersebut. Ditemukan kejanggalan pertama, kok bisa pasangan tua itu mengira-ngira kedalaman pisau agar tidak melukai bayi? Susah dooong. Ya walaupun sebelumnya itu sudah ditemukan kejanggalan, kok bisa Buta Ijo menghasilkan bayi, kan di gambarkan wujugnya laki-laki dan sendirian, apakah Buta Ijo memiliki system reproduksi selayaknya bekicot? Hermafrodit? Entah lah.
Setelah menemukan ada bayi, cantik, betapa gembiranya pasangan tersebut. Diberilah nama bayi itu Timun Emas. Jangan bayangkan bagaimana kisah bayi itu kalau masuk ke sekolah dengan menyandang nama aneh itu, pasti dirundung dong untuk jaman 2023 ini. Berhubung itu kisah masa lampau, wajar mungkin dengan nama ‘timun’, soalnya saya pernah bertemu dengan orang yang bernama ‘Getuk’, literary (anjay~~~) Getuk, hanya Getuk. Itu tahun 2014, dan ibu-ibu itu, mungkin lebih cocok dipanggil tante, sepintas mata menilai umur 30an awal. Oke, nama Timun adalah nama yang wajar.
Lambat laun dengan umurnya yang beranjak dewasa, pasangan tersebut mulai gelisah karena memikirkan syarat yang diberikan oleh Buta Ijo. Sehingga pada jatuh tempo yang ditentukan datanglah Buta ijo untuk mengambil Timun Emas dewasa tersebut. Karena saking sayangnya kedua pasangan ini, mereka menyuruh Timun Emas untuk lari, dengan sebelumnya telah diberikan ‘bungkusan’ yang mana nantinya akan dapat digunakan untuk mengalahkan Buta ijo, dan dirinya selamat.
Apa amanat cerita yang terkandung dalam cerita tersebut? Ini contoh soal yang biasa tercantum dalam bab cerita rakyat.
Jawabannya yaitu Pertama, jangan pernah bersekutu dengan Jin. Mintalah hanya kepada Tuhan Sang Maha Pemberi. Ini amanat yang sering terpikirkan oleh siswa ketika dulu saat penulis masih sekolah. Kedua, berusahalah semaksimal mungkin saat banyak rintangan yang mengejar atau yang menghalangi, ini juga banyak dilontarkan siswa saat disuruh guru menuliskan amanat cerita tersebut. Ketiga kejahatan (sosok Buta Ijo digambarkan sebagai antagonis oleh yang menulis) akan kalah dengan kebaikan.
Dari simpulan amanat yang dicantumkan nomor tiga tersebut, sepertinya ada yang janggal. Apakah Buta Ijo antagonis? Menurut penulis, sepertinya tidak, kalau seram mungkin iya. Tapi kalau jahat? Hmmm mari kita bahas…
Buta Ijo sedang nyepi, rebahan tiba-tiba ada orang minta minta ke kediamannya. Dengan suka rela dia memberi, walaupun dengan syarat. Tapi kan kita harus ikhlas tanpa pamrih kalau memberi sesuatu? Okeee siaaap si paliiing ikhlas… Gini, konsep ikhlas itu kan ditujukan ke anda wahai golongan manusia, dia kan Buta Ijo, apakah terlihat seperti manusia? Kenapa anda mewajibkan ajaran manusia ke yang bukan manusia? Terserah dia dong mau memberi syarat atau tidak. Anda tahu konsep muzakki dan mustahiq? Muzakki itu orang yang wajib zakat, mustahiq itu yang berhak menerima zakat. Apakah anda rela, kalau ada seseorang menjadi mustahiq dan selamanya menyandang status itu? Apakah anda tak menginkan orang miskin menjadi kaya? Justru Buta Ijo mengajarkan bahwa jangan selalu meminta minta, suatu saat harus siap memberi, jadilah orang yang kaya, kaya harta ataupun kaya hati. Sungguh baik sikap Buta Ijo memberikan pembelajaran yang bernilai agamis nan spiritual yang berguna ke orang lain.
Buta Ijo rela melepaskan anaknya (tidak tahu anaknya atau bukan tapi anak-anak) untuk memberikan kepada kedua pasangan tersebut. Dan memberikan tenggang waktu sampai Timun Emas dewasa. Betapa pedulinya Buta Ijo dengan keadaan pasangan tersebut, kan banyak tuh literasi yang mengatakan pasangan tersebut miskin atau sudah tua. Buto Ijo memikirkan itu, dengan asumsinya bahwa saat Timun Emas dewasa, umur pasangan tersebut terlalu tua untuk merawat Timun Emas. Selain itu, coba Tanya ke saudara saudara kalian wahai para pembaca, adakah yang rela dan bangga bahkan hore-hore kalau anaknya diadopsi orang? Jarang kan ya… Sungguh visioner dan baik hatinya Buta Ijo itu. Bahkan kalau para pembaca mau mencari literature lain nih, tentang umur jin (anggap saja Buta Ijo itu jin), umur jin itu lebih panjang daripada manusia. Dengan kemungkinan Timun Emas itu anak Buta Ijo, berarti dia juga jin. Bayangkan kalau Timun Emas yang umurnya panjang, kedua pasangan itu sudah meninggal. Sedih pasti, mana dalam cerita, dia tidak punya kenalan dengan laki-laki yang calon pendamping hidup. Missal punya, terus nikah, laki-lakinya sudah menjadi renta dianya masih muda. Sedih lagi nanti.
Segmen selanjutnya saat Buta Ijo mau mengambil Timun Emas kembali, dia sampai harus bersusah payah menangkap Timun Emas, hingga akhirnya dia mati tenggelam. Padahal dia hanya menagih janji, janji adalah hutang. Namun seakan kedua pasangan ini mengajarkan Timun Emas sebagai anak yang durhaka, walau bagaimanapun orang tua aslinya adalah Buta Ijo. Tapi dia diajarkan untuk membunuh orang tuanya. Selain itu, pasangan tersebut merasa mereka yang tertekan karena Timun Emas akan diambil Buta Ijo, padahal sekali lagi, Buta Ijo hanya menagih janji dan hanya mengambil haknya. Apakah ini yang menjadikan banyak oknum penghutang yang lebih galak ketika ditagih? Padahal yang mau diambil ya uang milik penagih, haknya penagih. Sungguah playing victim.
Terakhir, saya sebagai penulis tidak menemukan adegan Buta Ijo merusak rumah pasangan suami istri tersebut. Bisa saja Buta Ijo datang dengan baik-baik dan akan berkata “pertama saya datang silaturahmi, kedua saya menawarkan bahwasanya bagaimana jika Timun emas sekeluarga tinggal bersama saya saja, karena melihat kondisi bapak dan ibu yang miskin dan tua renta ini. Insyaallah kehidupan bapak-ibu sekalian akan lebih baik dan nyaman, jangankan memberikan makanan tiap hari, memberikan anak tanpa istri pun saya mampu”, misalnya. Namun karena melihat wajah Buta Ijo yang mengerikan itu. Kedua Pasangan tersebut sudah berpikir negatif terlebih dahulu. Yang secara tidak langsung mereka memberikan ilmu parenting yang kedua selain durhaka yang tadi, yaitu memberikan didikan bahwa orang jelek pasti jahat, atau dalam kata lain sifat suudzon (prasangka buruk) . Kan belum tentu juga. Saya punya teman, mukanya judes, mata belo, kalau diam saja terlihat galak, tapi kalau sudah kenal tidak ada galaknya sama sekali. Menye-menye dan nangisan malah, rapuh dulu dia tuh. Hey orang tua, ingat, jangan mudah menilai manusia hanya dri sampulnya saja. Jadi siapa yang sebenarnya tokoh antagonis? ah dah lah, capek.
Sekian sepertinya kisah kita harus berhenti di sini dulu, terimakasih datang dan merelakan waktumu untuk tulisan yang sangat penting dari seorang yang sekadar aku.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.