Siswa Nakal dan Bodoh Itu Memang Ada
Kalau kita ngomong soal dunia sekolah, ada satu hal yang sering bikin debat panjang: sebenarnya ada nggak sih yang namanya siswa nakal dan siswa bodoh? Banyak motivator atau pakar pendidikan bilang, “nggak ada anak nakal, nggak ada anak bodoh, semua anak itu baik dan pintar dengan caranya masing-masing.” Kedengarannya indah banget, manis di telinga, seakan semua anak bisa disulap jadi bintang kelas. Tapi jujur aja, kalau kita mau turun ke lapangan, ke ruang kelas yang isinya 30–40 anak dengan karakter beda-beda, ya jelas kelihatan banget ada murid yang nakal, ada juga murid yang bodoh. Menganggap semua anak itu sama aja baik dan sama aja pintar, menurut saya itu cuma teori doang.
Kalau mau logika sederhana, tujuan belajar itu kan biar anak jadi pintar atau pandai. Nah, kalau pintar itu ada, otomatis lawannya—yaitu bodoh—juga ada dong. Kalau semua anak pintar, ya nggak perlu ada sekolah, nggak perlu ada ujian, nggak perlu ada target pembelajaran. Sama juga dengan pendidikan secara umum. Pendidikan itu salah satunya bertujuan biar anak punya moral yang baik. Nah, kalau ada anak yang bermoral baik, berarti ada juga yang moralnya kurang baik. Yang moralnya kurang baik inilah yang sering disebut sebagai “nakal.” Jadi nggak usah pusing pakai teori tinggi-tinggi, logika sehari-hari aja udah cukup buat nunjukin kalau murid nakal itu ada, murid bodoh juga ada.
Belum lagi kalau kita lihat kamus. Di KBBI jelas ada kata “nakal” dan jelas ada kata “bodoh.” Kalau memang nggak ada di dunia nyata, buat apa dimasukin ke kamus? Malah lebih jauh lagi, ada istilah “kenakalan remaja” yang sering dibahas di seminar, buku, bahkan kebijakan pemerintah. Nah, remaja itu kan umurnya sama persis dengan usia siswa SMP atau SMA. Berarti, kalau ada kenakalan remaja, ya otomatis ada juga siswa nakal. Nggak bisa dibantah. Jadi kalau masih ada yang bilang, “anak nakal itu nggak ada,” menurut saya itu sama aja kayak nutup mata sambil bilang “matahari nggak panas.”
Contoh nyatanya gampang banget kita temuin sehari-hari. Misalnya, ada murid yang tiap masuk kelas, kerjanya cuma bikin rusuh. Guru lagi jelasin, dia malah teriak-teriak, godain temennya, lempar kertas, atau bikin suara-suara aneh biar kelas pecah ketawa. Ada juga yang suka bolos, nongkrong di warung kopi pas jam pelajaran. Ada yang ketahuan ngerokok di kamar mandi sekolah. Bahkan ada juga yang suka ngelawan guru, kalau ditegur malah ngeyel balik. Nah, kalau perilaku kayak gitu bukan nakal, terus namanya apa?
Begitu juga dengan murid bodoh. Saya sering lihat murid kelas VIII, tapi bacanya masih terbata-bata kayak anak kelas II SD. Disuruh ngerjain perkalian sederhana aja masih bingung. Pas ulangan, lembar jawabannya kosong melompong. Temen-temennya udah belajar pecahan, dia masih nyangkut di perkalian dasar. Bahkan kadang anaknya sendiri bilang, “Pak, saya emang bodoh, nggak bisa matematika.” Kalau kita bilang dia pintar, itu namanya bohong. Fakta di lapangan memang menunjukkan dia bodoh dalam akademik saat itu. Apakah bodoh itu selamanya? Nggak juga. Tapi mengingkari fakta bahwa kebodohan itu ada jelas nggak masuk akal.
Nah, kabar baiknya, murid nakal dan murid bodoh bukan berarti nggak bisa berubah. Saya pernah lihat sendiri murid yang awalnya nakal banget, tiap hari bikin guru sakit kepala. Suka bolos, suka ribut, sampai-sampai wali kelasnya sudah hampir putus asa. Tapi kemudian anak itu diajak aktif ikut kegiatan paskibra. Karena paskibra itu disiplin banget—mulai dari latihan baris-berbaris, bangun pagi, sampai latihan fisik—perlahan-lahan sifat nakalnya mulai berkurang. Anak itu jadi lebih tertib, bahkan akhirnya dipercaya jadi komandan upacara di sekolah. Padahal dulu, jangankan jadi komandan, ikut upacara bendera aja sering kabur ke kantin.
Hal yang sama juga pernah saya lihat lewat kegiatan pramuka. Ada anak yang awalnya nggak bisa diem di kelas, sukanya usil ke temen-temennya. Tapi setelah ikut pramuka, dia jadi sering ikut kegiatan perkemahan, outbound, dan tugas kelompok. Dari situ dia belajar kerja sama, belajar tanggung jawab, dan belajar disiplin. Akhirnya, kenakalannya pelan-pelan terkikis. Jadi, nakal itu memang ada, tapi bukan berarti anak itu nggak bisa diarahkan ke hal positif.
Untuk murid bodoh juga sama. Ada anak yang awalnya nggak bisa apa-apa di pelajaran. Matematika nilainya selalu merah, bahasa Indonesia pun susah. Tapi karena guru terus sabar ngajarin dengan cara yang lebih pelan dan sederhana, anak itu akhirnya paham juga. Dia nggak langsung jadi pintar seperti anak ranking satu, tapi setidaknya dia bisa naik kelas dengan nilai yang layak. Jadi, kebodohan itu ada, tapi bisa diperbaiki.
Masalahnya, banyak orang terlalu sensitif dengan istilah “nakal” dan “bodoh.” Seolah-olah kalau guru bilang “anak ini nakal” atau “anak ini bodoh,” itu artinya guru jahat banget dan nggak peduli. Padahal sebenarnya bukan itu maksudnya. Mengakui ada murid nakal dan murid bodoh itu wajar, karena kenyataannya memang begitu. Yang nggak boleh itu kalau guru cuma ngecap tanpa usaha membimbing. Nah, itu baru salah.
Kalau ada orang bilang, “nggak ada murid nakal, nggak ada murid bodoh,” menurut saya mereka itu mungkin nggak pernah benar-benar ngajar di sekolah, atau cuma ngelihat dari jauh. Karena kalau udah nyemplung langsung di kelas, kita bakal sadar bahwa tiap murid punya kelebihan dan kekurangannya. Ada yang pinter tapi bandel, ada yang baik banget tapi nilainya selalu jeblok. Semua itu nyata adanya.
Jadi, intinya sederhana aja. Siswa nakal itu ada, siswa bodoh juga ada. Kalau nggak ada, kenapa kamus nyantumin kata nakal dan bodoh? Kalau nggak ada, kenapa ada istilah kenakalan remaja? Kalau nggak ada, buat apa tujuan belajar ditulis biar anak jadi pintar? Kalau nggak ada, buat apa tujuan pendidikan salah satunya adalah membentuk moral yang baik? Semua itu justru membuktikan bahwa realitanya memang ada murid nakal dan bodoh. Tugas kita sebagai guru bukan menyangkal fakta itu, tapi menghadapi, membimbing, dan berusaha mengubah mereka jadi lebih baik.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.