Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat
Ketika kita mendengar istilah ‘sampah masyarakat’ sontak kita langsung menyandarkan pada status yang kurang baik kan? Memang, terus kenapa saya menyarankan jadilah sampah masyarakat bukan menjadi orang yang berguna?
Sebelumnya, kita tahu bahwa sampah adalah sisa atau benda buangan yang tidak terpakai lagi atau dapat diartikan sebagai sesuatu yang hina. Sedangkan sampah masyarakat adalah orang yang dianggap tidak berguna dalam masyarakat.
Orang dengan penyandang gelar ‘sampah’ cenderung diabaikan, bahkan keberadaannya saja dianggap sebagai pengganggu. Merusak estetika dalam hierarki masyarakat bermoral. Tapi apakah semua sampah masyarakat mengganggu? Hal ini akan penulis ulas lebih dalam dengan cocokologi sederhana sebagai berikut.
Sebelumnya, kita anggap ‘manusia sebagai sampah masyarakat’ ini benar-benar sampah selayaknya daun berguguran, tisu bekas ingus, atau balon panjang yang ditemukan di semak-semak. Sampah, dibagi menjadi dua golongan, organik dan an-organik. Sampah organik adalah sampah yang cenderung dapat dengan mudah diuraikan oleh mikroorganisme, sebaliknya dengan sampah an-organik. Sampah organik misalnya daun, kayu sisa makanan, upil yang ditempel si sudut bawah meja sekolah dll. Sampah an-organik misalnya pecahan kaca, kain perca, plastik, ijazah cumlaude yang dilaminating dibuat bingkai yang biasanya dipamerkan ke tamu oleh orangtua SEDANGKAN OTAK TETAP KOSONG!!! Itu pembagian sampah secara singat.
Sesuatu dikatakan sampah ketika ‘itu’ berada pada tempat yang tidak semestinya. Debu yang dapat untuk tayamum akan dianggap sampah ketika ditabur ke lemari. Atau daun yang berserakan di halaman akan dianggap sampah karena melanggar ‘estetika’. Coba kalau mereka berada di hutan? Atau salat, boleh kita salat di tempat yang suci, wajib malahan. Misal nih, ketika sudah memakai sajadah sebagai alas, suci dong, namun salat di tengah jalan tol? Yang ada malah menjadikan diri sendiri hina.
Manusia juga akan dianggap sampah, ketika dia tidak memiliki nilai guna pada suatu lingkup masyarakat tertentu. Mahasiswa yang biasa memimpin diskusi di kampus, keren. Tapi ketika pulang ke kampung halaman menjadi alien? Terasing dengan lingkungannya sendiri, mau bergaul dengan orang lain canggung, akhirnya hanya memasung raga di goa yang disebut dengan ‘rumah’, sampah itu! Karena tidak sesuai dengan kaidah kebiasaan masyarakat dimana ia hidup.
Apakah semua sampah hina? Tidak, ketika hidup atau berada pada porsinya. Pilihan kita mencari tempat tinggal hanya dua, beradaptasi atau mencari yang kita inginkan. Begitu juga saat mencari kenalan.
Ketika kamu tidak memiliki
karisma, wibawa atau daya dominasi. Mending tidak menjadi siapa-siapa kalau
kamu hanya dapat memberikan kemanfaatan saja. Apalagi kalau menjadi pribadi
‘tidak enakan’, yang ketika mau meminta tolong ke orang lain merasa tidak enak
hati tapi orang lain dengan seenaknya antara A sampai Z ke kamu. Hidupmu hanya
akan dimanfaatkan saja tanpa berani menolak. Mending menjadi diri sendiri,
tanpa memerdulikan orang lain, membentuk kemanfaatan pada diri sendiri, itu pun kalau kamu tahan dengan omongan
orang.
Untuk menghindari hal itu terjadi, gampang! Carilah lingkungan yang dapat mendukungmu. Yang menghargai keberadaanmu. Yang memperdulikan keadaanmu. Yang jelas tidak menyusahkanmu.
Atau pilihan kedua, cobalah beradaptasi. Dengan menjadi pribadi yang
kuat. Yang dapat menerima segala cobaan yang menimpa. Yang selalu iklhas dengan
takdir yang ada. Kenapa? “karena orang lain yang membutuhkanmu tidak akan
peduli dengan keadaanmu, dan jika kamu menolaknya kamu akan dianggap sebagai
orang yang tidak peduli dengan orang lain”.
Jadi mau menjadi yang bagaimana? Keduanya memiliki resiko. Ketika menjadi
orang bermanfaat malah dimanfaatkan, ketika menjadi sampah ya diremehkan. Semua
ada dalam hatimu dan pikiranmu.
Satu puisi untuk mereka yang sering meminta tolong tapi tidak peduli dengan keadaanmu: https://azharkata.blogspot.com/2019/02/menangislah-sendiri.html
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.