Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka
Dari dulu kita diajarkan bahwa ‘laa ilaaha illallah’ atau syahadad sebagai kunci syurga. Satu bacaan saja menjadikan kita dijamin syurga? Tentu saja bisa, dangan syarat dan ketentuan berlaku. Bacaan ini tidak terlepas dari keimanan seseorang.
Keimanan memang tidak dapat diukur dengan alat ukur selayaknya mengukur derajat kalor pada suatu benda, atau tingginya tegangan listrik. Namun keimanan dapat diindikasikan dengan tiga pembagian: hati, lisan, dan perbuatan.
Hati, seseorang yang iman harus mamiliki keyainan penuh dengan yang diimaninya, pada konteks ini, iman kepada Tuhan.
Lisan, keimanan yang selanjutnya ditunjukkan dengan ikrar menggunakan perkataan. Anda mempertanyakan tentang bagaimana untuk yang tuna wicara? Tenang, Tuhan tidak akan mempersulit hambanya di luar kemampuannya. Banyak hal yang perlu dilakukan dengan ikrar, seperti syahadad atau ijab qabul diantara dua orang yang saling menerima dan menyerahkan. Apakah dengan kekurangan tersebut, mereka tidak boleh memasuki ‘ruang’ ketika prasaratnya tidak dapat diucapkan? Masih bisa, dengan isyarat. Ingat Tuhan maha pengasih dan maha penyayang.
Perbuatan, orang yang beriman akan cenderung melakukan sesuatu yang diperintahkan Tuhan dan meninggalkan sesuatu yang dilarang-Nya. Tentu saja ‘berita ketuhanan’ tidak dapat diterima secara langsung oleh manusia secara umum. Jangankan itu, mendengarkan suara ‘knalpot brong’ yang katanya 'hobi mahal malah terkesan bodoh', itupun telinga tidak mampu kalau harus menempel lubang knalpotnya secara langsung. Maka perlunya tim khusus untuk menerima 'berita ketuhanan’, yang selanjutnya disebut dengan nabi atau rasul.
Perbuatan ini akan selalu berkesinambungan, ketika kita mengimani Tuhan maka harus mengimani Rasul-Nya, karena Tuhan memberikan ‘perintah’ untuk mengimani rasulnya juga.
Jadi ‘kunci syurga’ bukan sekedar mengucap sebagai formalitas saja, seperti saat "saya turut berduka cita” atau “hebat sekali kamu, saya ikut senang mendengarnya”, nyatanya tidak! Itu munafik namanya.
Berbeda dengan kunci neraka. Kunci neraka dimiliki (merasa dimiliki) oleh mereka yang superior, yang dapat dengan mudahnya memberikan label ‘neraka’ pada setiap orang di luar golongannya.
Sekelompok hakim akhirat yang menjelma di bumi inilah yang membuat setiap orang akan kesusahan dalam menjalankan ibadahnya. Betapa tidak, beda sedikit langsung dikatakan salah. Tidak ada kompromi sama sekali, kecuali harus mengikuti pandangan mereka. Mereka lupa padahal yang dipermasalahkan hanya pada lingkaran furuiyyah saja.
Dengan superioritasnya, akan menganggap semua ibadah orang lain menjadi salah. Seseorang pernah memberikan petuah "ibadahmu saja sudah sebagai bentuk kesalahan, apalagi tidak beribadah". Maka ibadahlah!
Dalam masalah idadah ada dua golongan, yang pertama seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, yaitu selalu menyalahkan. Yang kedua adalah mereka yang selalu membenarkan dengan dalih ‘yang penting niatnya’. Lantas kalau niatnya benar, namun syarat dan rukun dalam beribadah tidak terpenuhi bagaimana? Sah kah? Diterima kah?
Beribadah memang semampunya. Selagi dia masih mau mencari kebenaran dan terus belajar. Tidak dengan mereka yang masa bodoh dengan mengabaikan proses belajar dalam memperbaiki ibadahnya.
Perlu diingat, ‘sah’ dan ‘diterima’ dalam beribadah adalah sesuatu yang berbeda. Sah, dapat dicapai jika syarat rukunnya terpenuhi. Berbeda dengan ‘diterima’ yang keputusannya terserah kepada Sang Tujuan Beribadah. Namun paling tidak, yang bisa kita usahakan, kita harus mengusahakannya, bukan hanya berpendapat ‘yang penting niatnya!’. Memangnya kalau saya niat salat namun gerakannya dengan kayang sambil makan beling langsung yakin diterima karena ‘yang penting niatnya salat’?
Jadi, ketika kita beribadah tanpa memperdulikan ilmunya, atau cenderung meremehkan ibadah kita, misalnya “ah yang penting beribadah saja lah, sudah cukup”. Otomatis anda akan masuk neraka. Itu kata mereka yang superior!
Kalau saya? Belajar terus, amalkan yang anda pelajari, dan berdoa minta pertolongan kepada Allah (yang dari awal saya sebut Tuhan, biar terkesan Universal). Terus semangat dalam beribadah jangan sedikitpun meremehkan ibadah walaupun anda anggap kecil. Baik itu ibadah vertikal kepada pencipta dan ibadah horizontal kepada sosial dan lingkungan. Dan untuk yang belum mengucapkan ‘kunci syurga’, yuk kapan nih syahadad-nya...hihi
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.