Sukses Ketika Dapat Melupakan Tuhan
Sulit menentukan seseorang sukses atau tidaknya. Namun jika kita membuat kesepakatan arti bahwa sukses adalah suatu keberhasilan atau keberuntungan,[1] maka itu akan lebih mempermudah dalam menilai keadaan seseorang, bahkan keadaan diri sendiri.
Sebagai insan penganut agama, tak akan lepas dengan yang namanya representasi ‘Tuhan’ dalam kehidupannya. Tentunya dengan konsep yang berbeda-beda tergantung siapa imam (panutan spiritual) yang diikutinya.
Ironisnya, ada beberapa manusia yang bermasalah kepada manusia lain namun Tuhan-lah yang dijauhi. Masih ingat tantang ketuhanan namun abai dalam ketaatan. Yah, begitulah manusia, ketika dalil agama yang berkata baik,dia berani untuk meninggalkan, sebaliknya ketika berkata buruk, dia berani melakukan. Berbeda dengan logika, ketika ada seseorang mendeklarasikan temuan teori baru ‘1+1=4’, sontak berbondong-bondong orang sepakat untuk menolak teori tersebut.
Hal ini menjadi PR untuk tokoh agama dalam menyampaikan dalil agama untuk diselaraskan dengan logika. Agar sifat alami manusia yang lebih mudah percaya dengan suatu hal jika itu logis, atau serasa logis. Namun jangan pukul rata, ada juga manusia yang melakukan peribadatan yang tidak dapat diterima dengan logika. Ya itulah agama,jika semua ajaran agama dapat dilogika, lantas apa bedanya dengan sains?
Seiring berjalannya waktu, manusia lahir tanpa beragama menjadi manusia yang beragama tergantung lingkungan dimana dia hidup. Tak hanya itu, kebutuhan manusia juga semakin meningkat. Yang tadinya pintar hanya diukur dari bagaimana bayi berkata ‘pa-pa’ atau bembuat mimik wajah ‘mata genit’, berlanjut harus pintar matematika, pintar mencari uang, pintar mengurus rumah tangga, pintar berdalih untuk cuci tangan atas semua kesalahannya, dan masih banyak lagi tergantung bagaimana komentar orang. Pencapaian ini menjadi tolok ukur suatu kesuksesan manusia pada jenjang dan situasi tertentu.
Melihat lingkungan yang ‘mengharuskan’ A sampai Z, membuat kita sendiri sebagai pribadi manusia akan merasa kurang dalam melakukan sesuatu, dalam kata lain tidak sukses. Tapi, ya begitulah, stereotip manusia, akan menjadi berbeda dimana dia dibesarkan. Jika hidup dilingkungan 100% petani, akan berkata sukses adalah mereka yang punya lahan luas atau yang punya sapi. Atau yang hidup dilingkungan perkantoran, sukses adalah mereka yang dapat naik jabatan. Bahkan yang mereka yang hidup dilingkungan 100% petani menganggap bahwa yang kerja dikantor lebih sukses dibanding yang punya lahan luas. Padahal kalau dihitung pendapatan pertahun belum tentu A lebih besar dari B atau sebaliknya. Namun perlu diingat, sukses bukan semata-mata berupa harta.
Harta, atau lebih luasnya disebut dengan keduniaan, adalah sebuah pencapaian fisik selama hidup. Penulis sendiri hidup dilingkungan dimana mengharuskan sekolah, sekolah untuk ilmu (lebih ke kerja sebenarnya), kerja untuk harta sebagai penunjang kehidupan. Apakah ini salah? Tidak juga ketika kita memakai perspektif keduniaan bahwa hidup perlu makan yang sehat dan bergizi. Untuk mencapai itu mau-tidak mau harus punya pemasukan pribadi, tidak dapat hanya dengan meminta-minta saja setiap hari, walaupun ‘pengemis’ termasuk subjek pekerja dari kata kerja ‘mengemis’.
Selain doktrin tentang pendidikan dunia, penulis juga mendapat dokma mengenai ketuhanan. Salah satu mikro-ajarannya mengatakan ‘dunia adalah tipu daya’, bahwa semua yang ada didunia ini hanya tipu daya! Sesuatu yang menjauhkan diri kepada Tuhan kalau terlalu fokus untuk menggapainya. sehingga lupa bahwa (mikro-ajaran juga) bahwa akan ada kehidupan lain setelah meninggal.
Tentu saja mikro-ajaran diatas tidak dapat dilogika dengan pasti, dan sampai saat ini, penulis hanya dapat meyakini (iman), tanpa mendapatkan bukti konkret apapun. Mengapa bisa meyakini? Karena banyak ajaran-ajaran yang disampaikan oleh imam dengan melibatkan logika, sehingga sesuatu yang tidak berlandaskan logika pun mengikuti dengan suka rela.
Sehingga, seseorang yang meyakini bahwa ada kehidupan setelah meninggal, dia tidak akan merasa puasa hidup didunia dan selalu berusaha mencari bekal untuk fase hidup selanjutnya. Manusia golongan ini tidak akan merasa sukses dalam hidupnya, cenderung merasa kecil dihadapan Tuhannya, namun merasa bersyukur atas pemberian Tuhan yang diikhtiarkan diperolehnya. Karena sesukses-suksesnya manusia, sekaya-kayanya manusia akan menjadi miskin jika dibandingkan dengan kekayaan alam (terlalu kurang ajar kalau membandingkan manusia dengan Tuhan).
Berbeda dengan orang yang hanya fokus dengan hidupnya di dunia saja, dia akan merasa sukses ketika tujuannya tercapai, tujuan yang hanya ada di dunia saja. Tanpa melibatkan campur tangan Tuhan. Jadi cara untuk benar-benar suskses di dunia, yaitu dengan hanya menganggap hidup hanya di dunia saja, tanpa percaya adanya kehidupan setelah meninggal dan dengan melupakan bahwa Tuhan (penguasa seluruh alam) itu ada.
[1] kbbi web, ‘Arti Kata Sukses - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online’ <https://kbbi.web.id/sukses> [accessed 9 March 2021].
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.