Pintar Hanya Soal Matematika

           Matematika sebagai primadona patokan kecerdasan oleh beberapa orang tua. Mungkin ini tidak akan memiliki relasi dengan fakta saat pembaca membaca tulisan ini. Penulis merujuk pada tahun 2021 M ke belakang. Walaupun sekarang (2021) mulai banyak orang tua yang sadar bahwa anak memiliki kecerdasan masing-masing, sesuai bidangnya.

 Di era penulis masih menginjak sekolah (sebelum tahun 2021), penulis pernah mendapati pendaftaran ‘sekolah favorit’ entah itu SMP ataupun SMA menggunakan patokan Matematika sebagai ranking (peringkat) dalam penerimaan siswa baru. Begitupun  pada ranking saat pembagian raport. Misalnya budi memiliki jumlah nilai tertinggi di kelasnya yaitu 1962, dan Ijon memiliki jumlah nilai yang sama, namun nilai Matematika Ijon lebih tinggi, maka Ijon akan menempati ranking pertama dan Budi menempati ranking kedua. Padahal faktanya lebih banyak nilai Budi yang melebihi Ijon. Begitupun saat penerimaan siswa baru, ketika ada dua siswa yang terendah dan hanya membutuhkan satu siswa lagi, lagi-lagi nilai matematika mana yang lebih tinggi digunakan sebagai pedoman untuk diterima, dan nilai calon siswa baru yang matematikanya lebih rendah akan gagal.

Tak hanya lembaga sekolah yang menjadikan patokan tingkat kecedasan berdasarkan matematikanya, namun beberapa orang tua juga ada yang seperti itu. Beberapa orang tua menganggap anakanya yang sering mengalami remedial Matematika sebagai anak yang bodoh, walaupun lukisan anaknya sangan bagus dan cenderung diatas rata-rata teman sekitanya.

Kenyataan diatas, hanya beberapa yang penulis tahu (mengalami), bukan yang penulis teliti. Bedakan antara hasil penelitian dan yang hasil pengalaman. Hasil pengalaman adalah hal-hal yang didapat tanpa menggunakan metode penelitian yang ketat, berbeda dengan hasil penelitian, sehingga hasil penelitian dapat digunakan sebagai perwakilan dari kesimpulan suatu ilmu, sehingga dapat digunakan sebagai ilmu pengetahuan. Kalau pengalaman saja, hanya dapat digunakan sebagai pengetahuan, bukan ‘ilmu pengetahuan’.

Dalam menghadapi kehidupan, tidak akan cukup hanya menggunakan Matematika. Misalnya dalam menjalankan perekonomian, antara distributor dengan konsumen. Tidak cukup hanya menggunakan angka, namun perlu menggunakan kemampuan berbahasa saat berkomunikasi. Juga dalam kegiatan  makan sebagai kegiatan memenuhi nutrisi tubuh, memang matematika diperlukan dalam menghitung kalori kecukupan tubuh. Namun makanan akan lebih bisa dinikmati, jika adanya perpaduan rasa makanan yang serasi, agar tidak hanya kenyang yang didapat pelaku namun juga perlu sebuah perasaan ‘senang’ dalam menikmati makanan. Untuk dapat membuat makanan yang lezat, tentu tidak hanya matematika saja dalam mengukur bahan makanan, tapi kemampuan memasak keseluruhan, misalnya kemampuan dalam mengkombinasikan rasa setiap bahan makanan sehingga menjadi padu.

Misalnya lagi, jika hanya matematika yang penting, akan muncul permasalahan sebagai berikut:

Contoh Soal matematika,

Budi saat lahir memiliki tinggi badan 40 Cm. saat umur lima belas tahun tinggi badan Budi mencapai 160 Cm. Berapa tinggi badan budi di umur 30 tahun?

            Jika kita masih berpedoman kecerdasan diukur ‘hanya dengan matematika’, kita akan menghitung dengan,

h0            = 40 cm

h15          = 160 cm

b          =h15-h0=120 Cm

ditanya h30=…?

h30=h15+b=160 + 120= 280

 

maka tinggi budi pada umur 30 tahun yaitu 280 Cm

 

            Padahal pada kehidupan yang penulis sendiri alami, belum pernah menemui manusia dengan tingkat pertumbuhan seperti itu. Mengapa demikian? Ada pengaruh dari yang namanya hormon pertumbuhan yang nantinya berhenti aktif pada usia tertentu. Dan untuk mengetahui masalah hormon tersebut, dapat melalui Biologi bukan Matematika. Belum lagi kalau Budi memiliki tekanan dari lingkungan, lantas sakit atau depresi yang akhirnya bunuh diri di usia 16 tahun misalnya, pada usia 30 tahun sudah tak bisa lagi tinggi badannya diukur, kecuali kalau diawetkan, pun kalau itu tumbuh bukan menyusut. Untuk bahan pengawetnya diketahui melalui kimia, dan lagi bukan matematika.

Maka dari itu, kehidupan tidak hanya soal Matematika, tapi perlu melihat ilmu mana yang harus digunakan pada situasi tertentu. Tidak ada ilmu yang lebih baik dari ilmu lain, namun ilmu akan proporsional dan lebih baik jika diimplementasikan pada situasi yang sesuai dengan ilmu tersebut.

Jadi, masihkah kita akan menjadi generasi pemuja kecerdasan hanya dengan Matematika?

 

Selamat membaca!!!

“Jangan lupa beribadah, dengan menggunakan ilmu tentang peribadatan yang sesuai dengan ibadah apa yang kau laksanakan”

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!