Bodoh: Maka Hidupmu Akan Mudah

    Kita sering mendengar istilah ‘bodoh’ dalam kehidupan sehari hari. Bahkan, bisa saja sebagian dari pembaca tulisan ini sering mendengar kata ‘bodoh’ yang dilontarkan kepadanya, bahkan dari orang terdekat. Gimana, sudah merasa sedih dan tidak berguna? Kalau iya,yuk menyelami masa lalu sejenak lalu mencari sebab ‘kenapa sih sering dilontari kata tersebut dalam bentuk umpatan?’! Apakah karena memang kesalahan pribadi, ataukah memang tidak berguna dan kehadirannya tidak diharapkan?

    Lanjut… Kata ‘bodoh’ dalam KBBI yang saya akses pada 4 juni 2023–saya beri tangkapan layar saja, karena ini bukan tugas kuliah, buat apa juga sibuk memparafrasekan. Untuk lebih lengkapnya klik link : https://kbbi.web.id/bodoh , atau silakan dibaca di bawah ini…

    Sudah? Yuk lanjut beropini… Banyak (seharusnya ada data, tapi ya sudah) yang beranggapan ketika ada orang yang mengumpat atau menganggap bahwa kita ini bodoh, maka kita akan merasa direndahkan, ada yang terpuruk juga.  Apakah menjadi bodoh selalu buruk? Belum tentu juga. Bisa saja dengan kebodohan akan mendapatkan keuntungan tersendiri. Kalau ada yang bertanya ‘kelebihanmu apa’ jawab saja ‘memiliki kebodohan’. Akui saja kalau bodoh. Setelah tahu kalau bodoh, maka tulisan ini saya buat untuk menguraikan keuntungan dari kebodohan.

    Sebelum itu, ada ulasan singkat untuk menjelaskan tangkapan layar tersebut. Pengertian bodoh ada tiga: tidak lekas/sulit mengerti, tidak memiliki pengetahuan, dan terserah (masa bodoh/bodoh amat).

    Pertama, bodoh yang berarti tidak lekas mengerti, hal ini dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan yang mana efek bawaan sejak lahir. Setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda, ada yang super cerdas, ada pula yang ,cukup tahu’. Untuk kasus ini, orang tersebut tidak dihukumi salah kalau sudah berusaha semaksimal mungkin dan tetap tidak mengerti akan sesuatu yang ia tekuni itu. Sekali lagi, setelah berusaha maksimal.

    Kedua, yang tidak memiliki pengetahuan. Kebodohan ini akan dimaafkan kalau orang tersebut memang tidak ada akses untuk mencari pengetahuan. Misalnya, manusia yang dikurung tanpa dibekali pengetahuan. Berbeda ceritanya kalau kebodohan ini diakibatkan oleh kemalasan, maka kasus yang seperti ini dianggap menerima kebodohan, dan ini salah.

    Ketiga bodoh yang berarti terserah, ini bukan bagian dari pembahasan tentang ‘bodoh yang saya maksudkan’ karena ini masuk pada ranah ‘cak/cakapan’, maksudnya yaitu karya sastra atau bagian dari percakpan. Sedangkan pembahasan kali ini berfokus kepada penjabaran pertama dan kedua. Kenapa? Mau protes? Tidak terima? Bodoh amat! Ini contoh penggunaan kata ‘bodoh’pada penjabaran ketiga.

~

    ‘Bodoh bawaan asli’ dan yang ‘menerima kebodohan’, keluar dari salah dan benar, orang akan menganggap keduanya buruk. Di dunia pendidikan misalnya, bodoh karena bawaan akan tertinggal dengan yang memang cerdas. Yang bodoh dalam segala aspek mata pelajaran akan kalah populer dengan mereka yang pintar walaupun hanya satu yang dikuasai, apalagi kalo good looking. Atau yang bodoh karena malas, mereka santai saja, nyaman dengan kemalasannya sehingga tetap tertinggal oleh mereka yang berusaha keras. Contoh lain pada selebaran penerimaan pegawai baru, ada terlampir syarat pengalaman, keterampilan dan pendidikan terakhir. Hal ini sebagai indikasi bahwa orang yang pintar lebih dihargai daripada mereka yang bodoh. Untuk yang hobi malas-malasan ayolah bangkit…

    Dengan anggapan buruk tersebut saya berusaha mencari kelebihan orang yang bodoh. Bodoh disini bukan hanya bodoh saja seperti pengertian pertama dan kedua di atas, namun juga dengan tambahan ‘dianggap bodoh’. Setelah melakukan pencarian, saya menemukan satu keunggulan orang bodoh yaitu hidupnya akan mudah. KOOOKKK BIIISSSAAA? Bukankah akan sulit? Inilah contoh pertanyaan dari orang yang cepat menyerah dalam mencari tahu pengetahuan. Yaaa… walaupun tidak salah juga bertanya seperti itu, biasanya ini muncul juga karena refleks. Untungnya masih mau bertanya.

~

Orang yang memiliki citra bodoh (Baik itu asli, dibuat-buat, atau karena anggapan orang lain) cenderung hidupnya mudah. Itulah yang saya temukan dalam pencarian, baik itu pengalaman saat bersosial ataupun dalam sosial media berbasis dunia maya. Kemudahan itu sebagai berikut:

Mudah menghibur orang lain. beberapa orang ada yang membentuk citra bodoh (aslinya pintar) demi menghibur orang lain maka mereka merelakan dirinya untuk terlihat bodoh dengan kekonyolan yang mereka perankan. Namun ada juga yang aslinya memang sulit menangkap perkataan atau penjelasan orang lain (lihat pengertian pertama). Dengan berpikir yang lelet dan kadang ketika tidak nyambung saat menjawab pertanyaan pun akan dianggap lucu oleh sebagian orang, apalagi kalu cantik. Dengan begitu akan menjadi terkenal, diundang ke acara talkshow, semakin terkenal, bayaran semakin banyak. Lah… itukan karena cantik aja, coba kalau jelek, jelek pula, mana ada terkenal? Oke… kalau belum puas, masuk ke contoh berikutnya.

Hidup menjadi tenang. Orang yang bodoh akan memiliki hidup tenang dalam bersosial. Sebagai contoh dalam kehidupan penulis pernah melihat peristiwa dimana seorang kyai (yang tentu saja dianggap pintar dari orang awam) beberapa kali didatangi oleh tamu. Dalam permasalahan ini, kyai harus memiliki kemampuan apapun sesuai apa yang dibutuhkan tamu yang datang, selain mengajarkan ilmu agama islam ke santrinya. Bisa menjadi konsultan pertanian, konsultasi lulus ujian sekolah atau lulus ujian masuk kerja, menyembuhkan sakit gigi, biro jodoh, tips tambah jodoh, biro haji, ahli perdagangan, misi perdamaian keretakan rumah tangga, ahli bangunan, mencari tanggal baik, keamanan lingkungan, bahkan ketika ada anak kecil yang rewel kyai lagi yang didatangi.   Ada yang lebih aneh lagi, yaitu tamu yang minta nomer togel, kok bisa meminta tips memenangkan hal berbau dosa kok yak ke orang yang menjauhi dosa, dimana otaknyaaa??? Itulah kesusahan kalau dianggap pintar. Lebih enak jadi orang bodoh, tak perlu merasakan malam hari kaget karena ada tamu yang gedor-gedor pintu karena minta bantuan.

Mudah dalam pekerjaan. Kali ini tidak membahas bagaimana mudahnya mendapat pekerjaan ketika mencari kerja. Namun pekerjaan sebagai tugas yang dibebankan atasan. Ya bagaimana mau ditugaskan pekerjaan yang berat, kadang yang mudah saja tidak selesai, missal selesai pun hasilnya diluar harapan, kadang juga pekerjaannya molor. Maka tidak heran ketika perusahaan membuka lowongan kerja ada syarat berupa pengalaman, pendidikan atau bukti sertifikat keahlian. Ya karena susah mentraining orang bodoh, kalau sudah ahli kan gampang penyesuaiannya, masa training tiga bulan dan yang ditraining sudah ahli kan untung, kerja profesional gaji training. lah kalau bodoh? sudah susah-susah mentraining tapi tetap tidak ahli juga. Ya sudah beri aja tugas yang mudah...

                Setelah beberapa kemudahan tersebut, bukan berarti semua yang mendapatkan tugas pekerjaan dengan beban yang mudah adalah orang yang bodoh. Bisa saja karena hanya orang tersebut yang kompeten dalam mengerjakannya. Semua orang memiliki keahliannya tersendiri. Perbedaan ini haruslah selalu ada untuk skeseimbangan dunia. Dokter yang pintar belum tentu bisa mengajar di kelas, begitu pun guru yang belum tentu juga bisa mengobati orang. Seorang professor belum tentu kuat untuk menurunkan muatan dari  truk, begitu juga seorang kuli panggul belum tentu juga kuat untuk merumuskan teori keretakan pesawat seperti BJ Habibie. Ahli ekonomi belum tentu juga bisa menawarkan produknya dengan bahasa yang manis, begitupun sales belum tentun juga mampu mengaudit data perusahaan dimana dia bekerja. Dari hal ini semua manusia diciptakan sesuai dengan kemampuannya. Sebenarnya tidak ada orang bodoh, hanya saja banyak orang yang memaksakan kehendaknya tanpa tau kemampuan aslinya dimana, sehingga dia terlihat bodoh pada ambisinya dan tidak mengerti potensi pada sisi kepintaran pada porsi keahliannya. Itu kata bijaknya, tapi untuk mereka yang malas berusaha. KALAU BODOH TUH JANGAN DIPUPUK, TOLONG!!!

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!