Marah Dengan Tetap Ramah

    Manusia normalnya terlahir dengan disertai emosi. Emosi secara umum menyangkut perasaan seseorang yang muncul secara intens dan cenderung bersifat reflek. Emosi muncul sebangai respon perasaan dalam menanggapi situasi yang berkaitan dengan diri manusia. Seperti sedih, marah, dan senang.[1]

    Marah, atau kemarahan muncul sebagai jawaban sistem tubuh untuk perlindungan diri terhadap sesuatu yang membahayakan.[2] Kemarahan dapat muncul dari manusia ataupun hewan, dengan menunjukkan sifat agresif misalnya mimik wajah, mata melotot dan keadaan siap memberikan perlawanan.

    Labeling ‘buruk’ biasa digunakan untuk melabeli sifat marah itu sendiri. Padahal tidak semua kemarahan memiliki nilai negatif, tergantung penempatan pada situasi apa marah tersebut dilakukan. Ketika negara dijajah, misalnya, penduduknya marah maka dapat dikatakan sebagai sikap nasionalisme. Namun beda ketika marah diposisikan pada saat diskusi dan terjadi perbedaan pendapat, hal ini dapat dianggap sebagai sikap arogansi.

    Kebanyakan orang akan merasa kurang nyaman ketika dimarahi orang lain, atau mendapat perlakuan kasar dari orang lain. Namun tidak untuk penganut faham masokhisme,yang justru merasa mendapat kepuasan batiniah ketika mendapat perlakuan kasar. Maka dari itulah, diusahakan betul ketika marah jangan sampai melakukan tindakan yang kasar yang memilki potensi membahayakan orang lain.

    Implementasi marah dengan tetap menggunakan tindakan yang masih terkontrol inilah, yang dapat membuat seseorang tidak menyakiti orang lain. Bertindak secara logis dengan menekan kemarahan agar  tidak meluap dalam bentuk tindakan arogan. Sehingga ketika semarah apapun masih berperilaku ramah terhadap orang lain.



[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Emosi

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Kemarahan

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!