Bentuk Hantu Dalam Perspektif Pembiasan
Hantu sebagai
entitas imajiner. Dikatakan imajiner karena keberadaannya antara ada dan tiada.
Secara keimanan, hantu (jin dan setan) ada dan tertulis secara eksplisit dalam
kitab suci, dalam hal ini penulis merujuk pada Islam. Hantu ada secara tulisan
namun susah dibuktikan dengan teoritik atau dilihat dengan nyata. Seperti
halnya tanwin, yang memiliki
pengertian sebagai nun sukun yang ada
ketika dibaca (secara pengertian dia ada), namun hilang ketika ditulis (tidak
terlihat oleh mata).
Sama halnya
dengan hantu yang tidak semua manusia dapat menerima keberadaannya, nun sukun atau tanwin juga hanya diterima oleh sebagian huruf hijaiyyah saja.
Golongan Izhar akan secara tegas
menerima keberadaan nun tanwin,
sedangkan idghom menghilangkan dalam
keberadaannya. Berbeda dengan ihfa
yang menerima dengan cara tanggung, hanya sebagian saja atau dalam kata lain ,samar.
Keberadaan
hantu juga sedemikian yang disebutkan di paragraf ke dua. Ada tiga golongan
manusia dalam menilai keberadaan hantu:
1.
Mengetahui: golongan ini sebagai kaum yang
percaya dengan adanya hantu, dan dapat merasakan bahkan melihat ataupun dapat
berkomunikasi dengan hantu. Umumnya kita menyebutnya sebagai 4b0082.
2.
Menolak: penolakan oleh golongan ini dikarenakan
memiliki anggapan bahwa hantu tidak dapat dibuktikan keberadaannya secara
empiris. Dan tidak pernah mengalami kejadian yang berhubungan dengan hantu.
3.
Yakin: golongan ini termasuk mereka yang
menerima keberadaan hantu, namun karena mereka belum pernah melihatnya secara
langsung, atau melihat hantu namun ‘ah paling halusinasi’. Sehingga penerimaan
tentang keberadaan hantunya sebagai keyakinan dalam hati saja, bukan mengetahui
secara empiris.
Pada kasus hantu ini, penulis mengikuti aliran yang ke tiga. Yaitu
yakin tentang keberadaan hantu, namun tidak dapat membuktikan keberadaannya
untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. apakah penulis sama sekali belum
pernah melihat ‘penampakan’? Sering! Namun karena tidak dapat mengetahui hantu
secara pasti, penulis menganggapnya sebagai ‘halusinasi’.
Penulis tidak serta-merta memvonis mengenai keberadaan hantu sebagai
‘halusinasi’ tanpa melalui pencarian sumber. Penulis pernah mencari informasi
kepada beberapa narasumber yang (katanya) dapat melihat keberadaan hantu. Namun
ketika penulis bertanya ‘bagaimana cara membedakan hantu asli dengan
halusinasi?’, mereka tidak dapat mengatakan dengan pasti ciri-cirinya. Bahkan
dalam menggambarkan bentuk hantu pun berbeda-beda. Ada yang bilang belum pernah
melihat hantu yang bersih dan hanya pernah melihat yang bentuknya mirip korban
kecelakaan. Ada yang bilang bahwa hantu persis dengan manusia. Ada lagi yang
bilang hantu tidak nempel dengan tanah, namun sebaliknya ada yang bilang hantu
memiliki jejak kaki yaitu posisi jempol kaku mirip dengan kaki kiri semua. Bahkan
ada yang bilang, bahwa hantu tidak sekadar yang bisa jalan-jalan seperti
manusia atau binatang saja, namun berupa ‘ekosistem’. Wow, ekosistem hantu! yang katanya nih, bisa saja ada air terjun di halaman depan rumah kita, yang tentunya secara mata normal hanya
terlihat halaman biasa yang bercecer tai ayam dimana-mana.
Dari informasi mengenai
keberadaan hantu tersebut, penulis percaya saja. Karena “saat menerima
pengetahuan, juga menggunakan pengetahuan, dan saat menolak pengetahuan, juga
dengan pengetahuan yang bertolak belakang”, penulis tidak memiliki data untuk
menolak keberadaan hantu. dan hanya percaya, bukan mengetahui!
Penulis beberapa melihat sekelebat bayangan manusia, bahkan bentuknya
persis dengan manusia dengan mimik wajah yang menyeramkan. Logika penulis
berkata ‘itu bukan manusia’, karena dengan banyak indikasi bahwa penulis memang
sendiri di suatu ruangan yang terkunci dari dalam (kamar). Ada lagi pengalaman
penulis di jalanan panjang yang kosong, biasanya tidak ada manusia saat malam,
saat itu terlihat jelas gerombolan mobil berhenti di bahu jalan. Kejadian itu
terlihat dari kejauhan sekitar 100 m. Namun saat dekat, gerombolan itu hilang. Penulis
membentuk keyakinan bahwa kejadian itu semata berupa halusinasi, karena memang
tidak dapat memastikan bahwa mereka sebagai hantu.
Sekali lagi, apakah penulis
percaya kalau kejadian itu hantu? tidak juga. Penulis menganggap bahwa
kejadian itu sebagai pembiasan yang diterjemahkan oleh otak. Secara tidak sadar
otak menerima informasi yang salah karena mata sebagai kamera menangkap
bayangan yang ‘seakan mirip’ manusia, dan otak menjelaskannya sebagai manusia.
Fenomena ini disebut paraedolia.
Paraedolia adalah fenomena
psikologis yang mana dapat melihat gambar wajah pada suatu benda. Misal melihat
noda pada baju yang sebenarnya abstrak, namun otak menerjemahkannya sebagai gambar wajah. Hal ini mirip pada kasus pohon
pisang saat gelap dan terlihat seperti seseorang yang sedang melambai.
Dalam teori lain dapat menggunakan teori pembiasan, tentu kita pernah
melihat pelangi yang memiliki spectrum warna. Namun jika didekati apakah akan
terlihat warna-warna tersebut? Atau fatamorgana saat hari sangat terik, di
tengah jalan terlihat genangan air, namun sebenarnya tidak ada air sama sekali.
Padahal kita yakin akan keberadaan pelangi ataupun genangan air. Tapi saat
didekati mereka tak sudi. Ini contoh beberapa pembiasan.
Pembiasan tidak hanya karena mata dan otak kita yang terbias dalam
menilai informasi gambar. Namun karena efek cahaya. Misalnya saja kolam renang
yang terlihat dangkal aslinya dalam. Pensil yang terlihat bengkok ketika setengah
bagian dicelup pada air dalam gelas aslinya lurus. Hal ini terjadi karena air
membiaskan cahaya, sehingga informasi yang mata kita terima sesuai dengan yang
terjadi pada benda setelah terbiaskan bukan informasi keadaan asli dari benda
tersebut. Bahkan kalimat abstrak, yang ambigu akan memiliki bias dalam
pemaknaan.
Pembiasan juga dapat terjadi saat otak merasa lelah, saat prosesor otak
bekerja tidak maksimal. Misal saat sangat lelah dan mengantuk, mata kita
melihat tulisan yang ada pada tugas sekolah terlihat seperti tanda tangan yang
sangat banyak. Yang terbias disini bukan gambaran bendanya seperti paragraph sebelumnya,
tapi hasil penerjemahan otak yang yang salah kaprah. Otak kita yang membuatnya
menjadi bias!
Bagaimana jika hantunya dengan ‘suara’, coba saja tutup telinga
serapat-rapatnya. Ada suara ‘nguuung’. Atau bayangkan orang lain sedang ngobrol
dengan anda atau penyanyi kesukaan anda menyanyi. Suara mereka akan terdengar
oleh otak, namun sebenarnya tidak ada suara yang masuk melalui telinga.
Jadi, bagaimana keadaan hantu tersebut menurut penulis? Hantu itu ada,
namun secara bentuknya, tergantung setiap orang yang menggambarkannya. Karena
tidak semua mata akan menggambarkan sama persis tergantung bagaimana otak
membiaskannya.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.