Tidak Semua Kelebihan Diri Sebagai Hal Positif

Kelebihan adalah keadaan dimana sesuatu memiliki kuantitas diatas standar proporsional. Setiap individu pun memiliki kelebihannya masing-masing. Ada yang lebih bisa menguasai matematika dibanding teman sekelasnya namun bisa saja ada yang lebih menguasai bahasa dibanding ahli matematika tersebut. Sehingga pemegang peringkat kedua yang kalah atas jumlah nilai bisa berkemungkinan memiliki lebih banyak nilai diatas peringkat pertama jika ditelisik dari setiap mata pelajarannya. Itu kalau membicarakan tentang ‘kelebihan’ jika disandarkan pada setiap nilai atau keahlian di sekolah.

                Pada pembahasan ini penulis tidak akan terfokus pada kelebihan pada bidangn intelektual tersebut, namun kelebihan secara –sedikit lebih berbeda yang terdapat pada diri seseorang. Ketika membicarakan kelebihan, tentu terbesit tentang kekurangan. Karena tidak akan kata ‘lebih’, tanpa adanya pembanding, entah itu standar rata-rata ataupun tentang kekurangan.

                Setiap individu memiliki potensi, hanya saja dari setiap individu potensinya berbeda-beda. Jika dianalogikan pada ‘kata panas’, ada (secara bahasa) yang namanya ‘dingin’. Padahal panas atau kalor ada pada setiap derajat suhu. Kita menganggap es batu yang diukur dengan termometer bersuhu 0oC (nol derajat celcius) adalah dingin, walaupun sebenarnya thermometer adalah alat untuk mengukur tingkat suhu, dan suhu berarti juga sebagai kalor, serta kalor adalah kata lain dari panas. Dengan kesimpulan bahwa es memiliki kalor atau panas dengan nilai 0oC (nol derajat celcius). Panas, bukan dingin!

                Pada kasus ‘panas’ tersebut, bagaimana mengukur kelebihan dan kekurangannya? Yaitu dengan tingkat toleransi indra perasa, yaitu peran dari syaraf ruffini dan syaraf krause yang terdapat pada kulit. Syaraf ruffini peka pada rangsangan panas, sedangkan krause peka terhadap rangsangan dingin (suhu rendah). Penilaian ini akan menjadi subjektif, karena –kembali pada ‘perbedaan antar individu’. Yang tidak terbiasa dengan 0oC (nol derajat celcius) akan menganggap dingin, sedangkan yang terbiasa akan menganggap tidak dingin. Misalnya Gray Fullbuster, yang awalnya menganggap es sebagai suatu yang dingin, namun setelah melakukan pelatihan sedemikian rupa dengan gurunya yang bernama Ur, membuat kulitnya beradaptasi dengan suhu rendah. Sehingga kulitnya bisa mentoleransi suhu rendah tersebut, sehingga Grey tidak ‘merasa kedinginan’ walaupun tanpa memakai baju di tempat bersalju sekalipun, namun dia tidak memiliki toleransi pada suhu tinggi. Berbeda dengan Natsu Dragneel. Ini hanya menggambarkan kesubjektivitasan dalam mengukur kelebihan panas atau tidaknya suatu zat, yaitu dengan toleransi pada penerimaan suhunya oleh kulit.

                Pada dasarnya, mengukur lebih atau kurang tidak ada dapat dilakukan dengan presisi dan tidak memiliki kepastian dalam penerimaan secara global, tergantung bagaimana metode dan media yang digunakan dalam mengukurnya.

                Pada diri manusia, tentu memiliki potensi. Namun tidak semua potensi tersebut jika dikembangkan dan menjadi suatu kelebihan akan berdampak positif. Bahkan ada yang menjadikannya alasan untuk ditolak oleh orang lain.

                Contohnya ‘bau’, manusia memiliki potensi untuk mengeluarkan bau. Bau busuk, itu yang penulis maksud. Walaupun bau adalah sinonim dari kata 'aroma', dan aroma memiliki jenisnya masing-masing. Ada yang membuat nyaman ada yang lebih baik ditinggalkan, karena tidak memberikan rasa nyaman sama sekali. Bau yang meberikan rasa nyaman, sering disebut dengan aroma wangi sehingga dipilih untuk dijadikan parfum, walaupun tidak semua aroma yang membuat nyaman dapat dijadikan sebagai parfum, seperti aroma tanah pada awal hujan turun. Nyaman memang, namun tidak dijadikan parfum, karena terkesan ‘mendekati ajal’. Begitu juga tidak semua aroma wangi membuat nyaman, seperti bau melati yang biasanya dicampur dengan teh, namun tercium di sepanjang jalan yang sepi pada waktu malam. Sedangkan bau busuk masuk pada strata bau yang tidak membuat nyaman –pada sebagian besar individu yang pernah penulis jumpai.

                Manusia memiliki potensi untuk mengeluarkan bau busuk. Jika kita telisik dari komponen yang ada pada diri manusia pun akan ditemukan objek yang sudah mengalami pembusukan, feses. Feses adalah residu dari konsumsi manusia yang tidak dapat diserap oleh tubuh, sehingga perlu dilakukannya sekresi. Dengan ini, manusia bisa disebut sebagai ‘mesin pembentuk sampah’. Seperti yang kita ketahui, sampah adalah penyumbang polusi aroma. Jika potensi sampah sebagai sumber bau ini dikembangkan, akan menjadi suatu aroma busuk yang berlebihan dan itulah yang menjadikan ‘tidak semua kelebihan yang ada pada diri seorang individu sebagai hal positif’, kadang juga bernilai negatif. Selain feses masih banyak bau yang lain yang berpotensi pada diri individu seperti: bau mulut, bau badan, dan bau-baunya seperti mau menghutang karena tumben ramah. Semua bau tersebut akan negative jika kuantitasnya ‘kelebihan’.

                Tidak hanya masalah bau, lemak yang awalnya berfungsi sebagi tempat penyimpanan energy, kalau berlebih akan berpotensi mengundang penyakit. Pembaharuan sel kulit jika tidak dibersihkan dan menumpuk secara berlabih juga akan membuat terlihat lusuh, berdaki!

                Maka dari itu, marilah hidup seproporsional mungkin! Jika tidak dapat menghilangkan kelebihan buruk, tutuplah dengan kelebihan yang baik. Misal parfum untuk menyamarkan bau badan. Apakah bau badan hilang? Tidak, hanya tertutupi!

Lantas bagaimana mengukur apakah potensi buruk kita berlebih atau tidak? Bisa dengan bertanya dengan orang lain atau melihat ekspresi orang lain,  jika ekspresinya senang maka bisa dikatakan baik, jika ekspresinya menunjukkan penolakan, saatnya bermuhasabah diri. Ini tidak berlaku untuk individu yang menilai bau kentut pasangannya sebagai syurga dunia, dan menerima apa adanya –kesubjektivitasan masih berlaku disini. Menerima apa adanya atau tidak mau mengeluarkan modal untuk perawatan, hmmm bisa menjadi pembahasan lain.

Tidak hanya masalah fisik saja, namun juga pada sikap yang kita miliki, jika yang berlebih adalah keburukan, maka saatnya taubat, nak!


Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!