Cerminan Perasaan

    Berbicara mengenai perasaan, kita sering mengiblatkan kepada hati. Contoh perasaan hati yang sedih, hati yang marah, hari yang bahagia. Apakan perasaan itu memang benar-benar dari hati atau mungkin dari pikiran? Kalau dari pikiran berarti kita merasakan dari otak. Bingung kan kenapa hati? Oke tak usah dipikirkan. Kita merujuk saja pada materi tentang perjalanan informasi melalui system saraf pusat dan system saraf tepi pada kelas 11 jenjang SMA serta materi tentang sistem pencernaan pada manusia –tentunya pada tahun tulisan ini dibuat yaitu 2023. Dari materi tersebut, tidak membahas ‘hati berfungsi sebagai merasakan’, justru yang bertugas untuk merasakan sesuatu adalah sistem saraf pusat yaitu otak  dan sumsum tulang belakang sebagai prosesor dan dibantu oleh system saraf tepi berupa saraf sensorik sebagai input dan saraf motoric sebagai output.

    Dari kombinasi kedua system saraf tersebut maka akan terjadi keseimbangan dalam bertindak. Misalnya ketika saraf tepi yaitu sensorik berupa kulit menyentuh api, dan siteruskan ke saraf pusat  yang akan memproses informasi sedemikian kompleks lalu hasilnya dikirimkan  ke saraf tepi kembali melalui saraf motoric dengan pesan “itu panas, menghindarlah” seketika bagian tubuh yang terkena api akan menjauhi api. Seraya mulut bengucap “innalillahi wa inna ilaihi rojiun”, “duh… jabang bayi!” atau  dengan umpatan yang kasar, tergantung kebiaaan orang tersebut.

    Sebagai prosesor, system saraf pusat memegang peran penting untuk mengendalikan setiap informasi yang datang seraya memberikan solusi tindakan. Informasi tersebut berjalan sangan cepat, kecuali jika ada permasalahan dalam system syaraf tersebut. Misalnya jika saraf sensoriknya, indra penciuman, yang bermasalah, semenyengat apapun aroma tak akan ada informasi yang dapat terinput ke otak, sehingga tak memunculkan reaksi menutup hidung. Atau jika saraf motoriknya yang bermasalah, saraf sensorik melalui mata mengirimkan informasi berupa gambar ular di dekat kaki lantas otak memposesnya lalu menyuruh kaki untuk lari, apa daya kaki mengalami perestesia, maka kaki tak sanggup melaksanakan perintah untuk lari. atau ketika sensorik dan motoric normal tapi saraf pusat yang tak normal, contoh kulit mengirim informasi berupa hawa dingin, namun otak tak bisa memproses hal itu karena terlalu panik, sehingga tak mampu mengirimkan informasi yang jelas kepada saraf motoric untuk memerintahkan, “buat api unggun kek, selimutan kek, ngopi kek apalah yang penting anget, atau pengen peluuukkk”, sehingga terjadilah kasus hipotermia. Ternyata berpikir jernih itu penting~    

    Kadang kita memang terjerumus dengan sengkarut pikiran kita sendiri, dimana dapat memengaruhi laju informasi pada system saraf. Keadaan fisik yang terlalu lelah misalnya, akan membiaskan penglihatan yang seharusnya hanya mukena yang digantung, terproses menjadi pocong oleh otak. Sehingga dengan kesalahan pemrosesan ini akan memunculkan persepsi yang berbeda dengan kenyataan.

    Kesalahan persepsi ini juga dapat ditemukan pada hubungan sosial. Kenyataan akan menjadi bias ketika ada campur tangan ‘perasaan’. Ketika merasa nyaman kepada seseorang, semua hal yang datang dari orang tersebut akan dianggap benar. Begitupun sebaliknya ketika merasa benci kepada seseorang maka semua yang muncul dari orang tersebut akan dianggap salah. Walaupun perasaan tersebut belum tentu juga sesuai dengan kenyataan. Missal kita telah nyaman dengan seseorang, kita akan dengan mudah bercerita dengan orang tersebut tentang banyak hal apapun itu, dan orang tersebut memberikan respon yang selalu positif. Kenyatannya bisa jadi memang benar sebagai orang baik, atau bisa jadi hanya respon memuaskan (nglegakake) saja yang aslinya tidak perduli dan hanya menganggap cerita kita sebagai angin lalu. Dengan begitu, kita perlu mengasah perasaan kita atau pikiran kita –apapun itu otak lah, hati lah, terserah bagaimana membahasakannya, sehingga kita dapat membembentuk perasaan yang sesuai dengan kenyataan.

    Belajar dari sifat cermin, apakah perasaan kita sesuai dengan sifat cermin cekung, cembung atau seperti cermin datar. Dimana cermin cekung dan cembung membentuk bayangan yang berbeda dengan benda yang dipantulkan. Seperti contoh ketika kita merasa penting dimata orang lain, aslinya tidak dianggap penting. Merasa berguna karena banyak orang yang senang dengan keberadaan kita aslinya Cuma karena memanfaatkan saja, tapi kita tak sadar. Atau perasaan kita seperti cermin datar yang dapat memantulkan bayangan sesuai dengan bendanya, yaitu merasakan sesuatu sesuai dengan kenyatan yang ada. Contoh menganggap orang lain baik dan bentul saja aslinya memang baik. Nah,kalau sudah bisa seperti cermin datar, itulah yang namanya intuisi, yaitu kemampuan untuk mengetahui dan memahami tanpa dipikirkan lagi. Biasanya, intuisi itu tepat sasaran.

    Kalau menganggap orang lain sebagai sosok yang baik, aslinya memang baik, kita pun merasa merasa orang tersebut adalah pilihan yang tepat dan merasa orang itu menganggap kita pilihan yang tepat. Tapi kenyatannya kita bukan pilihan orang tersebut. Berarti kita seperti halnya bercermin pada benda yang tidak bersifat solid, seperti bercermin di air misalnya, kadang tenang kadang gelombang. Maka dari itu, sering seringlah berdoa “Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubana alaa diinika” . Nb: tulisan arabnya cari sendiri agar makharijul hurufnya benar.

 

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!