Kehilangan? Rayakan lah!
Sedih, bingung, atau kecewa, merupakan spontanitas pikiran saat ada perintah untuk membayangkan ekspresi seseorang yang sedang kehilangan sesuatu. Suasana tersebut banyak terjadi di sekolah-sekolah periode 2012-2016 –tahun ini dipilih karena sepengalaman penulis dan hasil riset sederhana terhadap teman-teman penulis ,yang mengadakan perenungan sebelum melakukan Ujian Nasional. Perenungan ini dilaksanakan disertai dengan istighosah (doa bersama), dengan tujuan untuk meminta pertolongan kepada Allah.[1] Hanya saja, penulis merasa sanksi ketika harus ada perenungan untuk membuat siswa menangis. Bukankah siswa sudah tertekan dan mungkin setres untuk menghadapi Ujian Nasional? Namun ada upaya dari pihak sekolah mengundang motivator untuk -bukan memotivasi, sebaliknya memberikan setres yang lain kepada siswa. Dengan kalimat,”bayangkaaan, banyangkaan jika saat kalian pulang ke rumah ada bendera kuning di pagar depan rumah kalian”. Pertama, untuk apa membayangkan bendera kuning? Kedua, tidak semua rumah memiliki pagar. Ketiga, di tempat penulis tinggal, budayanya menggunakan bendera putih, bukan kuning. Belum juga ada variable lain yang mungkin siswa ada yang yatim, ada yang yang musuhan dengan orang tuanya, ya malah berharap itu terjadi! Kalau ada yang berteriak ‘AAAMIIIN’ apa ya tidak kaget tuh yang katanya motovator??? Dengan tiga kesalahan tersebut, seharusnya kalau mau mengundang motivator harusnya telah melakukan riset terlebih dahulu agar perkataannya relevan. Masa iya, sudah dibayar tapi malas melakukan riset, dan Cuma mengatakan kalimat template setiap ada undangan, ayolah, riset!!! Tapi ya sudah, bukan ini yang akan dibahas.
Itulah penggambaran bagaimana ekspresi seseorang ketika kehilangan sesuatu. Jadi, paragraph diatas adalah bagaimana kita membayangkan seseorang yang seseorang yang orang tersebut sedang membayangkan kehilangan.
~
Jadi, apakah kehilangan adalah sesuatu yang selalu menyedihkan, mengecewakan, atau membingungkan? Belum tentu juga, ada kok kehilangan yang menyenangkan. Namun pada kasus dalam paragraf pertama ada pengandaian peristiwa seorang siwa yang mengucap amin. Apakah bisa disebut kehilangan yang menyenangkan? Penulis beranggapan, bukan. Karena kita bisa menganggap kehilangan sesuatu karena ada perasaan memiliki. Ibaratnya gini, contohnya feses, dia pernah bersama kita, menemani selama 1-3 hari[2] namun hal itu tidak dapat dikatakan kehilangan, karena ada niatan untuk ‘membuang’ atau melenyapkan.
Merujuk paragraph diatas, kalau tiba-tiba temanmu seakan tak mau mengenalmu lagi, ingat, mungkin sifatmu kayak tai atau baumu. Hey… ada produk yang namanya sabun, parfum, pasta gigi dan deodorant!!!
Masuk lagi ke pembahasan ‘kehilangan yang menyenangkan’. Perlu diingat poin penting dalam kehilangan adalah ‘rasa memiliki’. Kehilangan yang menyedihkan biasanya (menurut teori penulis) adalah kehilangan yang tidak diusahakan. Sedangkan kehilangan yang menyenangkan adalah kehilangan yang diusahakan, ya walaupun tetap menangis sedih juga. Dalam tulisan ini yang menjadi pembahasan adalah kehilangan yang menyenangkan saja. Contohnya, siswa yang kehilangan kesempatan belajar di suatu sekolah karena dia sudah lulus, tak mau dong kalau tak lulus-lulus? Ini bentuk suatu kehilangan yang diusahakan. Senang pastinya tapi ada sedihnya juga. Kedua suasana hati tersebut juga diekspresikan dengan cara yang sama, yaitu menangis. Lantas cara membedakan tangis bahagia dan tangis sedih yaitu dilihat arah langkah siswa tersebut. Jika menangis mendekati orangtua artinya ‘Hey orang tua, saya berhasil lulus! Hebat kan saya?’. Kalau berjalannya ke arah siswa yang lain yang artinya ‘sekian tahun bareng, akhirnya lulus bareng, tidak tahu apakah bisa bertemu di jenjang selanjutnya atau tidak, uuunnnccchhh cayaaang”
Dari penjabaran diatas, dapat dikatakan bahwa setiap kehilangan maka akan mendapatkan sesuatu yang baru. Dapat juga dengan pengertian sebaliknya, ketika mendapatkan sesuatu yang baru maka harus siap kehilangan entah sesuatu yang datang tersebut dikemudian hari atau kehilangan sesuatu yang lain seketika pada hari itu karena kedatangan sesuatu yang beru tersebut. Seperti dalam lirik lagu dari Endank Seokamt dengan judul Sampai Jumpa, yang didalamnya menyatakan setiap yang datang akan pergi. Maka dari itu, setiap kehilangan perlu perayaan, terserah, bisa dengan air mata, ataupun tawa. Karena yakin lah, kehilangan itu pasti, tergantung bagaimana hati untuk menikmati. Dan percayalah, setiap kehilangan pasti ada yang datang.
[1] Kemenag, https://bandungbarat.kemenag.go.id/news/view/570 ,diakses 17 Juni 2023
[2] Klikdokter, https://www.klikdokter.com/info-sehat/pencernaan/berapa-lama-makanan-dicerna-oleh-tubuh , diakses 17 Juni 2023
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.