"90+6=99 ?" Kita Analisis dengan Kepala Dingin

 Sebenarnya, saya tidak terlalu ambil pusing soal kasus "90+6=99" yang ramai dibicarakan belakangan ini. Banyak yang bilang itu salah karena, ya, secara matematika memang salah. 90 ditambah 6 itu 96, bukan 99. Tapi yang membuat saya kurang tertarik ikut-ikutan dalam spekulasi adalah narasi yang berkembang di luar sana, yang mengaitkannya dengan dugaan suap, keberpihakan kepada tim tertentu, dan hal-hal semacam itu. Saya tidak bisa menelan mentah-mentah anggapan-anggapan seperti itu, karena, jujur saja, saya tidak punya bukti apa pun untuk mendukung klaim-klaim tersebut.


Alih-alih menuduh tanpa dasar yang jelas, saya lebih suka melihat kasus ini dari sudut pandang yang berbeda, tanpa memberikan justifikasi yang terlalu berlebihan. Saya memilih untuk membahasnya dari perspektif yang lebih sederhana: kesalahan hitung. Ini adalah hal yang bisa terjadi pada siapa saja. Kita semua pernah melakukan kesalahan hitung, entah dalam situasi santai maupun saat menghadapi tekanan. Kasus seperti ini bukan hal baru, bahkan dalam skala yang lebih besar, miskalkulasi pernah berdampak besar pada sejarah dunia.


Salah satu contohnya adalah insiden Mars Climate Orbiter pada tahun 1999. NASA kehilangan pesawat luar angkasa yang seharusnya berfungsi untuk mengorbit Mars dan mengumpulkan data. Apa penyebabnya? Kesalahan perhitungan. Tim yang mengerjakan proyek tersebut menggunakan dua satuan ukuran yang berbeda—sistem metrik dan sistem imperial—dan hasilnya, wah, malapetaka besar. Pesawat itu malah terbakar habis ketika mendekati Mars. Ini bukan soal suap, keberpihakan, atau kepentingan tersembunyi. Ini adalah kesalahan murni dalam hal teknis dan perhitungan.


Atau kita bisa bicara soal kegagalan jembatan Tacoma Narrows di Amerika Serikat pada tahun 1940. Jembatan ini ambruk hanya beberapa bulan setelah dibuka karena para insinyur gagal memperhitungkan dampak angin terhadap struktur jembatan. Lagi-lagi, ini kesalahan hitung, atau lebih tepatnya, miskalkulasi dalam analisis dinamika struktur.


Contoh lain tentang kasus Titanic, yang mana ada kesalahan perhitungan perbandingan jumlah sekoci dan jumlah penumpang. Hal ini karena sanking percaya dirinya dengan kemampuan kapal Titanic. Sehingga saat menabrak gunung es, banyak berjatuhan korban. Lagi-lagi, karena salah hitung. 


Tapi kalau kita kembali ke kasus "90+6=99", saya lebih melihatnya sebagai kesalahan sederhana yang mungkin terjadi karena kelelahan atau gangguan fokus. Banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang salah hitung, dan ini bukanlah hal yang luar biasa. Dalam statistik, ada yang namanya "human error", kesalahan yang disebabkan oleh faktor manusia. Entah itu karena kurang tidur, stres, atau bahkan kurang minum. Tidak percaya? Coba deh lihat iklan-iklan air mineral di televisi. Ada kampanye yang menyarankan agar kita lebih fokus dengan minum air yang cukup, ada tagar #adaairmineral yang sering muncul di situ. Sebenarnya, sih, kampanye asli pakai tagar #adaaqua, tapi karena saya nggak niat promosi merk, kita sebut saja air mineral, ya.


Kembali lagi ke kesalahan hitung ini. Mungkin saja yang bersangkutan saat itu kurang minum, sudah mulai merasa kelelahan, atau mungkin kepanasan. Lihat saja kondisinya saat kejadian, terlihat tangannya dan kepalanya basah oleh keringat. Ini pertanda bahwa kondisi fisiknya sedang tidak optimal. Dan saat tubuh kita lelah atau mengalami dehidrasi, otak pun jadi tidak bisa bekerja dengan maksimal. Kesalahan hitung jadi sesuatu yang lebih mudah terjadi.


Nah, yang sering kita lupa adalah bahwa kesalahan-kesalahan seperti ini manusiawi, dan kita semua pasti pernah melakukannya. Apalagi jika kita berada dalam situasi yang penuh tekanan, seperti dalam pertandingan besar yang penuh dengan ekspektasi dan sorotan dari berbagai pihak. Tekanan mental dan fisik bisa membuat seseorang kehilangan fokus, dan kesalahan kecil seperti salah hitung angka pun bisa terjadi.


Jadi, apakah ada kemungkinan kesalahan ini terjadi murni karena human error? Sangat mungkin. Tidak perlu spekulasi macam-macam atau mencoba menghubungkannya dengan hal-hal lain yang tidak ada buktinya. Kita sebagai manusia cenderung suka mencari penjelasan yang rumit untuk hal-hal yang sebenarnya sederhana. Kesalahan hitung, miskalkulasi, adalah bagian dari kehidupan, dan ini bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja.


Saya sendiri juga sering mengalami hal-hal seperti ini. Dalam situasi tertentu, saya pernah salah menghitung uang kembalian saat berbelanja, atau bahkan ketika sedang mengajar, bisa saja ada salah hitung dalam menjelaskan soal matematika ke murid. Ini bukan hal yang luar biasa, karena otak manusia bukanlah mesin yang selalu bekerja dengan akurasi sempurna. Ada kalanya kita salah, dan itu tidak berarti kita tidak kompeten. Yang penting adalah kita sadar akan kesalahan tersebut dan segera memperbaikinya.


Kasus "90+6=99" ini mungkin adalah contoh dari fenomena human error dalam situasi yang penuh tekanan. Daripada terus-menerus mencari kambing hitam atau membuat teori konspirasi tanpa dasar, mari kita lihat dari sisi yang lebih masuk akal. Bisa saja ini terjadi karena faktor kelelahan, dehidrasi, atau mungkin kurang fokus akibat panasnya situasi di lapangan.


Pada akhirnya, ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa kesalahan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Tidak perlu terlalu membesar-besarkan atau mencari kesalahan di tempat yang sebenarnya tidak ada. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan dalam banyak kasus, kesalahan seperti ini terjadi karena kondisi yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. 


Sekian dari saya, dan terima kasih telah membaca.

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!