Bukan Kamu yang Malas, tapi Quran yang Malas Didekati Olehmu
Kalau kita belajar IPA, salah satu hal yang sering kita temui itu tentang makhluk hidup dan benda mati. Makhluk hidup, ya manusia, hewan, tumbuhan, gitu-gitu kan? Sementara benda mati, ya seperti batu, kursi, air, dan sebagainya. Nah, dalam pengertian IPA, yang bisa merasakan, berpikir, atau punya perasaan cuma manusia. Kenapa? Karena manusia punya akal. Di klasifikasi IPA, manusia itu unik karena bisa protes, bisa marah, bisa sedih. Hewan atau tumbuhan, apalagi benda mati, gak punya kemampuan itu, ya kan?
Tapi kalau kita lihat dari perspektif agama, khususnya Islam, konsepnya beda nih. Menurut Islam, bukan cuma manusia yang bisa bicara atau merasakan. Bahkan, kelak di akhirat, semua makhluk, termasuk benda mati sekalipun, bisa menjadi saksi. Jadi, misalnya tangan kita, kaki kita, bahkan anggota tubuh yang lain akan bisa berbicara di hadapan Allah sebagai saksi atas apa yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia.
Ini kadang bikin kita mikir, kok bisa ya tangan atau kaki kita bicara? Kan mereka cuma bagian dari tubuh kita, yang secara logika gak punya akal. Tapi kalau kita lihat dari sudut pandang tasawuf, semua itu sangat mungkin. Tasawuf itu bagian dari ajaran Islam yang mendalam, mengajarkan kita tentang kedekatan dengan Allah dan makna spiritual di balik segala sesuatu. Dalam tasawuf, bukan cuma tangan atau kaki yang bisa menjadi saksi. Bahkan, semua benda di sekitar kita, benda yang kita anggap mati, seperti nasi, air, bahkan tanah yang kita injak, bisa merasakan dan bereaksi atas perbuatan kita.
Mungkin kamu pernah dengar orang tua dulu bilang, "Ayo, habisin nasinya, nanti nasinya nangis." Waktu kecil, kita mungkin nganggep itu cuma sekadar nasihat biar kita gak mubazir. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini sebenarnya ada hubungannya dengan pemahaman dalam tasawuf. Nasi yang kita makan, meski secara sains itu cuma benda mati, dalam pandangan spiritual dia juga makhluk yang punya "rasa". Dia bisa merasakan kalau kita menyia-nyiakannya, bahkan bisa jadi saksi nanti di akhirat. Hanya saja, orang tua dulu mungkin gak bisa menjelaskan secara detail atau ilmiah konsep ini, jadi mereka pakai bahasa yang lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh anak-anak.
Terus, ada satu perkataan dari seorang guru yang menarik banget buat kita renungkan. Beliau bilang, “Bukan kamu yang malas membaca Quran, tapi barangkali Quran yang malas dibaca olehmu.” Wah, ini agak nyelekit ya. Tapi kalau kita renungkan, ada benarnya juga. Mungkin kita merasa, kok rasanya berat banget ya mau baca Quran? Kok susah banget ya mau ibadah? Bisa jadi, bukan karena kita yang malas, tapi karena kitab suci atau ibadah itu sendiri ‘menjauh’ dari kita. Kenapa? Karena kita sering bermaksiat, sering lupa sama Allah, atau sering menyepelekan ibadah.
Ini juga bukan cuma berlaku buat Quran. Bisa juga buat ibadah-ibadah lain, seperti sholat, dzikir, puasa, atau apapun yang mendekatkan kita pada Allah. Kalau kita sering lalai, sering bermaksiat, sering lupa, ibadah itu bisa jadi terasa berat. Mereka ‘malas’ dikerjakan oleh kita. Ini bukan dalam arti harfiah tentunya, tapi lebih ke makna spiritual bahwa amalan-amalan baik ini menjauh dari kita karena kita sendiri yang menjauh dari Allah.
Dalam tasawuf, ibadah itu bukan sekadar ritual fisik yang kita lakukan, tapi juga ada aspek spiritual yang dalam. Benda-benda di sekitar kita, bahkan ibadah yang kita lakukan, punya ‘jiwa’ dan bisa merasakan apakah kita tulus atau nggak. Jadi, kalau kita sering bermaksiat, ya wajar saja kalau ibadah terasa berat, karena kita sendiri yang menjauhkan diri dari rahmat Allah.
Maka dari itu, yuk, kita mulai perbaiki diri. Kurangi maksiat, perbanyak ibadah, dan selalu ingat Allah. Kalau kita sering lupa, sering menyepelekan ibadah, ya jangan heran kalau kita merasa berat saat melakukannya. Sholat terasa berat, baca Quran jadi malas, padahal semua itu bisa jadi akibat dari perbuatan kita sendiri. Ibadah yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah malah terasa jauh karena kita sering lupa sama tujuan hidup kita yang sebenarnya.
Jadi, kalau kita merasa berat buat ibadah, mungkin ini saatnya kita introspeksi. Mungkin bukan ibadahnya yang berat, tapi kita yang terlalu jauh dari Allah. Dan ingat, semua benda di sekitar kita, apapun itu, bisa jadi saksi nanti di akhirat. Jangan anggap remeh nasi yang kita makan, air yang kita minum, atau tanah yang kita injak. Mereka semua bisa berbicara dan menjadi saksi atas setiap perbuatan kita.
Bayangkan, nanti di akhirat, tangan kita bisa bicara, kaki kita bisa bicara, bahkan benda-benda di sekitar kita juga bisa memberi kesaksian. Maka dari itu, mulai sekarang, yuk kita jaga perbuatan kita. Jangan sampai tangan kita nanti bersaksi bahwa kita sering bermaksiat, atau kaki kita bersaksi bahwa kita sering pergi ke tempat-tempat yang gak baik. Lebih baik kita gunakan tubuh kita untuk hal-hal yang baik, supaya nanti di akhirat mereka bisa bersaksi baik juga buat kita.
Dan buat urusan ibadah, jangan sampai kita biarkan Quran atau sholat ‘malas’ dikerjakan oleh kita. Kita yang harus mendekat, kita yang harus berusaha untuk mencintai ibadah. Caranya? Dengan mengurangi maksiat, memperbanyak zikir, dan selalu berusaha ingat Allah dalam setiap langkah kita. Karena pada akhirnya, semua amalan kita akan menjadi saksi di hadapan Allah.
Yuk, mulai sekarang, kita coba lebih sadar dalam setiap perbuatan kita. Jangan sampai benda-benda di sekitar kita malah menjadi saksi yang memberatkan kita nanti di akhirat. Sebaliknya, kita jadikan mereka saksi yang mendoakan kebaikan untuk kita, dengan cara memperbaiki diri dan terus mendekatkan diri pada Allah.
Jadi, bukan soal kamu yang malas ibadah, tapi mungkin karena kamu terlalu sering lupa, terlalu sering menyepelekan. Mulai sekarang, yuk kita perbanyak ingat Allah, kurangi maksiat, dan insya Allah, ibadah akan terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.