Akumah Gini Orangnya!

 Pernah nggak sih ketemu sama orang yang selalu pakai kalimat, “Akumah gini orangnya,” buat ngeles setiap kali ada yang kasih masukan? Rasanya udah capek banget deh berhadapan dengan orang yang kayak gitu. Kayak dunia ini muter cuma buat dia doang, semua orang harus nerima dia apa adanya, tapi dia sendiri nggak mau berubah sedikit pun. Nah, kalau ketemu orang kayak gini, kadang bikin kita mikir, kok bisa ya, orang ngotot sama kekurangannya, seakan-akan itu hal yang harus dimaklumi tanpa ada niatan buat memperbaiki diri?


Kenapa Dalih “Akumah Gini Orangnya” Jadi Masalah?


Oke, kita semua pasti punya kekurangan. Itu manusiawi banget. Nggak ada satu orang pun di dunia ini yang sempurna. Tapi, yang jadi masalah adalah ketika seseorang bersembunyi di balik kekurangannya dan nggak mau berusaha berubah atau memperbaiki diri. Kalimat “Akumah gini orangnya” sering dipakai sebagai alasan buat tetap stagnan, nggak berkembang, dan lebih parahnya, buat nggak peduli sama perasaan orang lain. Semacam tameng, seolah dengan ngomong kayak gitu, mereka bebas dari tanggung jawab sosial atau moral untuk beradaptasi.


Orang yang suka ngomong kayak gitu biasanya maunya dimaklumi terus, maunya orang lain paham situasinya, tapi nggak pernah mikir buat paham situasi orang lain. Coba deh bayangin, kalau kita hidup di dunia di mana semua orang berpikir begitu. Misalnya, semua orang bilang, “Gue emang orangnya nggak suka aturan, jadi jangan protes kalau gue nggak mau antre ya.” Atau, “Gue tuh emang dari dulu ngomongnya suka nyeplos, jadi wajar dong kalau gue nyakitin perasaan lo.” Wah, kalau semua orang beralasan kayak gitu, pasti dunia jadi kacau balau. Nggak ada saling pengertian, nggak ada yang mau berubah buat kebaikan bersama.


Hidup Itu Tentang Adaptasi dan Perubahan


Kalau dipikir-pikir, hidup ini kan sebenarnya tentang adaptasi dan perubahan. Nggak ada yang benar-benar stagnan. Alam aja terus berubah, apalagi manusia yang punya kemampuan untuk berpikir dan berkembang. Kita harus sadar bahwa setiap situasi menuntut kita buat beradaptasi. Misalnya, dulu kita nggak bisa bawa kendaraan, tapi dengan belajar, kita akhirnya bisa nyetir. Sama halnya dengan kepribadian. Kita nggak bisa terus-terusan bilang “Gue emang orangnya begini,” kalau udah jelas-jelas sifat itu bikin orang lain nggak nyaman atau merugikan diri sendiri.


Orang yang nggak mau berubah dan selalu pakai dalih “akumah gini orangnya” sebenarnya adalah orang yang takut keluar dari zona nyamannya. Dia mungkin nggak mau repot, nggak mau susah-susah berpikir atau berusaha buat jadi lebih baik. Padahal, kalau kita mau berkembang, salah satu syaratnya adalah keluar dari zona nyaman dan menerima bahwa perubahan itu perlu. Kita harus punya kesadaran bahwa hidup nggak cuma tentang diri sendiri, tapi juga tentang bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain dan memberikan dampak positif.


Nggak Mau Berubah = Egois?


Sekarang, mari kita lihat dari sudut pandang orang lain. Orang yang terus-terusan meminta dimengerti tanpa mau mengerti balik sebenarnya bersikap egois. Dia menuntut dunia dan orang di sekitarnya buat memahami dan menerima segala sifat dan kebiasaan buruknya, tapi dia nggak mau berusaha buat paham atau beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Ini kayak orang yang maunya makan enak, tapi nggak mau masak, atau maunya dihargai, tapi nggak mau menghargai orang lain. Lho, ini kan nggak adil namanya?


Kita hidup dalam lingkungan sosial di mana interaksi itu berjalan dua arah. Kalau kita maunya dimengerti, kita juga harus mau mengerti. Kalau kita pengen orang nerima kita apa adanya, kita juga harus bisa menerima orang lain apa adanya. Tapi, itu semua harus dilakukan dalam batas yang wajar, bukan dengan alasan buat tetap mempertahankan kebiasaan atau sifat yang jelas-jelas merugikan diri sendiri dan orang lain.


Contoh sederhana, misalnya ada orang yang punya kebiasaan ngomong seenaknya dan sering bikin orang lain sakit hati. Pas dikasih tahu, dia cuma bilang, “Akumah emang gini, udah dari lahir kayak gini, jadi ya lo harus terima.” Nah, yang kayak gini nih, bisa bikin orang lain jengah. Bukannya intropeksi atau coba lebih baik, malah ngotot dengan dalih “emang dari sananya.”


Perubahan Itu Perlu Buat Kebaikan Bersama


Ada pepatah yang bilang, “Orang bijak belajar dari kesalahan, orang bodoh mengulangi kesalahan yang sama.” Di sini kita bisa lihat bahwa perubahan itu penting buat kebaikan kita sendiri. Kalau kita nggak mau berubah, kita nggak akan pernah berkembang. Sifat buruk atau kebiasaan yang salah itu, kalau terus dipertahankan, lama-lama akan merugikan diri sendiri. Orang lain yang awalnya mungkin sabar menghadapi kita, lama-lama bisa hilang rasa sabarnya. Lingkungan yang awalnya mendukung bisa jadi menjauh karena kita nggak mau beradaptasi.


Jadi, sebenarnya dengan berubah, kita bukan cuma menyenangkan orang lain, tapi juga membangun diri kita jadi pribadi yang lebih baik. Bukankah setiap hari kita seharusnya berusaha jadi versi terbaik dari diri kita? Kalau kita terus-terusan ngotot sama sifat jelek kita, kapan mau majunya?


Tantangan untuk Berubah


Tentu aja, berubah itu nggak gampang. Mengubah kebiasaan yang udah mendarah daging atau sifat yang udah kita bawa sejak lama itu butuh usaha ekstra. Tapi, di situlah tantangannya. Orang yang dewasa dan bijak adalah orang yang mampu menerima kritik dan melakukan introspeksi. Mereka sadar bahwa hidup ini adalah proses pembelajaran tanpa henti. Sifat-sifat kita yang mungkin dulu dianggap biasa aja, bisa jadi sekarang sudah nggak relevan lagi dengan keadaan atau lingkungan.


Misalnya, dulu mungkin kita terbiasa ngomong blak-blakan dan itu dianggap hal yang wajar. Tapi, seiring waktu, kita belajar bahwa ada momen-momen di mana kita harus lebih menjaga kata-kata kita. Atau mungkin dulu kita gampang marah dan meledak-ledak, tapi sekarang kita sadar bahwa menahan emosi itu jauh lebih baik daripada meluapkannya tanpa kendali.


Setiap proses perubahan itu berharga. Dan nggak ada salahnya buat mulai berubah dari hal-hal kecil. Kita bisa mulai dengan mendengarkan kritik tanpa langsung defensif, atau berusaha lebih peka sama perasaan orang lain. Percaya deh, orang yang mau berubah itu justru lebih dihargai daripada orang yang keras kepala mempertahankan sifat buruknya.


Jadi, Gimana Nih?


Kesimpulannya, dalih “akumah gini orangnya” sebenarnya cuma alasan buat menutupi rasa malas dan ketakutan buat keluar dari zona nyaman. Hidup ini tentang perubahan dan adaptasi. Kita nggak bisa terus-terusan ngotot dengan sifat buruk kita dan berharap orang lain selalu memaklumi. Justru dengan berubah, kita nggak cuma jadi pribadi yang lebih baik, tapi juga bisa bikin hubungan dengan orang lain jadi lebih harmonis.


Ingat, dunia ini nggak berputar cuma buat kita. Orang lain juga punya hak untuk dimengerti, dan kita pun punya tanggung jawab untuk belajar jadi lebih baik. Jadi, daripada terus berlindung di balik kalimat “akumah gini,” kenapa nggak coba buka diri buat berubah dan berkembang?


Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!