Anomali Individu dalam Bersosial
Manusia diciptakan dengan dua status yang melekat, makhluk individu dan makhluk sosial. Makhluk individu maksudnya adalah manusia sebagai pribadinya sendiri yang terdiri dari fisik dan psikis. Sedangkan manusia sebagai makhluk sosial adalah manusia yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, serta tak bisa hidup seenaknya dengan seperangkat aturan yang terkonsep akibat dari terjadinya interaksi antar manusia.
Antara keduanya perlu dipenuhi. Namun yang harus dijadikan catatan adalah seimbang. Keseimbangan inilah yang akan membentuk harmoni dalam menjalani kehidupan, tanpa membebani orang lain dan juga diri sendiri.
Sebagian manusia akan lebih mementingkan kebutuhan dirinya sendiri dahulu lantas memikirkan kebutuhan orang lain. Sebagian yang lain berlaku sebaliknya, mereka akan lebih mementingkan kebutuhan oran lain dibandingkan dirinya.
Golongan pertama adalah orang yang mementingkan kebutuhan dirinya diatas kebutuhan orang lain. Orang ini akan senantiasa ‘mendewakan’ kebutuhannya sendiri, dengan tidak memertimbangkan efek yang nantinya akan berimbas kepada orang lain. Sebenarnya mementingkan diri sendiri diatas oranglain adalah hal yang lumrah, karena setiap manusia memiliki kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Misalnya kebutuhan biologisnya, makan, minum, bernafas, adaptasi, pendidikan, dan apapun yang mampu membuat manusia bertahan hidup. Konsep ini boleh saja dilakukan asalkan jangan sampai mengganggu eksistensi ‘kebutuhan pribadi’ dari orang lain. Seperti halnya konsep dalam memenuhi HAM.
Lain halnya dengan golongan yang kedua, yaitu seseorang yang lebih mementingan kebutuhan orang lain dengan cara abai atas kebutuhannya sendiri. Atau melakukan kebutuhan pribadi setelah orang lain telah ia cukupi. Keadaan ini biasanya dilakukan atas dasar ‘suka atau sayang’, walaupun oran lain yang tidak paham atas perbuatan seseorang dalam golongan ini, cenderung akan menganggapnya bodoh. Misalnya seorang bapak yang rela tidak makan selama anaknya belum kenyang dan makan setelah anaknya selesai makan. Hal ini didasari rasa sayang seorang ‘bapak’ kepada anaknya yang tidak rela anaknya sakit kalau tidak makan. Atau contoh lain, seorang pemuda yang rela menghabiskan waktu demi menyenangkan hati pujaan hatinya, mengantar-jemput wanitanya dan merelakan diri terkena hujan lebat misalnya. Orang lain akan menganggap hal itu adalah ‘goblok’. Namun, mau bagaimana lagi? Logika sudah tidak akan sampai untuk mengukur ‘kegoblokan’ itu.
Sebagai manusia yang bijak, seharusnya tahu porsi dari masing-masing kebutuhan itu. Agar nantinya tidak terjatuh sendiri. Bisa saja saat terlalu mementingkan diri sendiri akan mengakibatkan tidak adanya orang lain yang peduli. Atau saat terlalu mementingkan kebutuhan orang lain tanpa mementingkan diri sendidri akhirnya semua kebutuhan pribadi akan terbengkalai, perkerjaan yang seharusnya telah selesai akhirnya menumpuk, kesehatanpun semakin menurun akibat abai dengan diri sendiri. Lantas, Kalau kesehatanmu saja hilang, siapa lagi yang akan dijadikan budak atau pesuruh oleh ‘orang lain’, yang bisa memanfaatkanmu kapanpun?
Anehnya, ada seseorang yang menganggap orang lain egois, menganggap orang lain terlalu mementingkan diri sendiri, atau menganggap orang lain tidak peka akan sosial. Hal ini muncul ketika seseorang tersebut merasa ‘kebutuhannya’ tidak dipenuhi oleh orang lain. Misalnya saat meminta tolong sesuatu terhadap orang lain, namun tidak kunjung juga ditolong, karena objek memiliki kebutuhan lain yang harus dipenuhi terlebih dahulu, lantas orang itu menghakimi objek sebagai orang yang egois dan tidak peka sosial. Sebenarnya siapa sih yang tidak peka sosial kalau begini masalahnya?
Perlu diingat bahwa saat memenuhi kebutuhan janganlah sampai merugikan orang lain. Saat meminta tolong pun harus melihat kondisi dari objek, agar objek tidak perlu meninggalkan keperluannya sendiri demi kebutuhanmu. Jadi saat kamu meminta bantuan orang lain tanpa peduli dengan keadaan orang lain, siapa yang tidak peka sosial?
Pernah saya temui orang seperti ilustrasi tersebut, yang tak pernah merespon pertanyaan dalam forum baik offline (pertemuan forum dalam kelas) atau online (dalam grup aplikasi telekomunikasi digital). Yang tak pernah cepat dalam undangan untuk kumpul bersama, cenderung selalu telat dan menyepelekan, padahal untuk masuk perkuliahan dengan 'tepat waktu' pun selalu bisa dilakukan. Bahkan pernah hanya untuk berkumpul di suatu tempat (taman depan kelas) yang jaraknya tidak ada 50 meter dari kelas perkuliahan, pun itu membutuhkan waktu lebih dari 15 menit. Hingga, pada suatu saat, secara tiba-tiba menyalahkan orang lain, dengan menyebut ‘objek’ kurang peka terhadap sosial, hanya karena ‘objek’ mau menolongnya dengan syarat ‘dia’ harus rela menunggu sebentar setelah keperluan ‘objek’ selesai, karena objek telah memertimbangkan keperluannya dapat dilakukan searah dengan kepentingan ‘pelaku’.
Sekarang siapa yang tidak peka sosial? Objek. Mengapa ‘objek’ tidak peka sosial? Karena ‘pelaku’ merasa paling benar, merasa paling harus selalu dihargai atas semua orang, merasa kebutuhannya lebih penting diatas kebutuhan orang lain. Maka, dari sinilah pentingnya makan makanan yang bernutrisi, ikan laut misalnya, seperti kata mantan menteri kelautan, Ibu Susi Pudjiastusti, agar dapat memenuhi kebutuhan intelejensi.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.