Mahasiswa Sakau
Pendidikan selalu digadang-gadang sebagai alur perubahan. Dari yang tidak tahu untuk menjadi tahu. Dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Itulah yang diharapkan dengan adanya pendidikan, dengan menjunjung 'memanusiakan manusia' sebagai salah satu pengertian pendidikan. Lantas, yang tak terdidik bukan manusia? Masih tetap manusia, hanya saja kurang dalam koridor 'idealisme umum', yang mencakup idealisme moral ataupun idealisme tentang pengetahuan.
Pendidikan bukan hanya diperoleh dari bangku sekolah, ayam misalnya, mereka belajar rajin bangun pagi bukan karena sekolah. Hal tersebut adalah pendidikan dasar dimana pembiasaan suatu yang baik. Namun sayang, induk ayam kawin sembarangan di depan anaknya. Hal ini pun akan diikuti oleh anak ayam, sebab itulah, usaha selalu berbuat baik itu penting.
Masalah moral pun tak hanya diperoleh dari buku karangan ilmuan ternama saja, singa misalnya, seganas-ganasnya singa, mereka tak mengajari memakan anaknya sendiri. Memakan teman? memakan bangkai? Tidak! Singa memakan daging segar. Atau 'memakan bangkai' secara istilah? Tidak, belum ada singa kumpul menggosip, atau menghujat di media sosial.
Di Indonesia, pendidikan bukan masalah pengetahuan dan keterampilan, afektif atau sikap juga ditekankan. Terbukti dalam KI atau KD yang ada dalam RPP pun mencakup ketiganya. Tahu KI , KD, RPP? tidak??? Ayo daftar ke UIN ambil yang dari fakultas Tarbiyah atau keguruan ! Kalau perlu daftar jurusan PAI! Hhe
Idealnya, dengan tiga ranah pendidikan (sikap, pengetahuan, keterampilan) tersebut, seseorang yang telah melalui pendidikan akan memiliki sikap yang lebih baik. Jangan sampai kalah dengan mereka yang kurang beruntung sehingga tidak dapat menempuh pendidikan formal. Misalnya masalah kekeluargaan, anak punk jalanan pun punya. Mereka bahkan lebih 'berkeluarga' dari pada penduduk ruang kelas, sejauh yang pernah saya temui. Atau masalah kerjasama, paguyuban copet lebih bekerja sama sesuai porsi masing-masing tak seperti mereka yang kerja kelompok, hanya beberapa yang kerja sebagian sekedar ada -mengelompok.
Belum lama ini, saya memasuki dunia PPL (Praktek Pengalaman Lapangan), dimana dari fakultas keguruan mengirimkan mahasiswanya ke lembaga pendidikan (SMA, SMP dst) guna menambah pengalaman dan kematangan mahasiswa keguruan dalam mengajar. Ada hal yang lucu, ketika pihak sekolah meminta tolong untuk menyusun kursi untuk rapat osis. Ada celetukan 'loh kita guru kok yang melayani murid?', dari seseorang praktikan. Goblok! Malas ya malas saja jangan membawa nama guru! Saya malas pun karena saya memang malas, bukan karena 'status semu' guru saya. Coba deh dengan konsep 'mereka lebih pribumi dari saya yang menumpang', pastilah tak akan ada egoisme yang muncul ke permukaan.
Kadang bingung dengan oknum (bukan semua mahasiswa seperti itu), yang merasa lebih tinggi hanya karena status pendidikannya. Bukankan '1+1'masih tetap '2'? Lantas konsep semakin berisi padi akan semakin menunduk, jika malah semakin merasa tinggi?
Kau tahu flaka? Jenis narkoba yang membuat pemakainya menari-nari atau bergerak semaunya sendiri, tanpa peduli dengan sekitarnya. Itu sama dengan mahasiswa yang sakau dengan statusnya! Merasa tinggi, lupa kalau tidur akan rebahan. Giliran sok peduli dengan orang lain, malah anarkis, fandalis, nyampah ditempat yang tak semestinya, merugikan banyak pihak, -ini hanya oknum.
Yang salah siapa? Sistem, guru, muridnya? Materi 'Iman Terhadap Hari Akhir' yang juga membahas kehidupan setelah meninggal, yang dihubungkan dengan konsep Hukum Gaya Newton Tiga tentang aksi reaksi, dimana amal sekecil apapun, baik atau buruk akan mendapat balasan yang setimpal. Pun, itu masih saja ada siswa yang mencontek saat ulangan. Lantas saya harus bagaimana lagi??? Menggunakan penyampaian materi yang lain dengan mengajak tour anak-anak ke masa depan menonton pertunjukan matahari terbit dari barat sambil makan 'jagung pop'? Kurasa tidak mungkin.
Nah, inilah ironi pendidikan kita, sebagian anak hanya mengedepankan angka. Angka yang kecil dikata bodoh, angka yang besar dikata pintar. Itulah orang kita. Belajar banyak belum tentu juga diamalkan, sekedar menuntaskan kewajiban, sekedah menambah pengetahuan. Sehingga saat setelah semakin dia mengerti bukannya semakin menghormati. Namun semakin memaki dan tinggi diri! Ingat, hanya oknum yang seperti itu!
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.