Mirip Bukan Berarti Sejenis

    Sebagai mahasiswa jurusan PAI, bukan berarti saya menafikan atau menolak hadits yang menyerukan 'barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari kaum tersebut', saya tetap percaya itu. Masalahnya, menyerupai hal apa? Apakah segala aspek? -repot dong. Hidung saya lubangnya menghadap bawah. Sedangkan saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan juga memiliki posisi lubang hidung yang sama. Kan ribet???

   Jadi, menyerupai yang bagaimana? Cara berpakaian? Oke, saya setuju. Tapi tidak 100%, pakaian itu budaya. Yang membedakan adalah syara'. Di dunia Islam, memakai pakaian apapun boleh kok, asal tidak memperlihatkan aurat, serta tidak menjadikan harga diri  pemakai menjadi turun. Misal nih, seorang laki-laki yang auratnya hanya dari pusar sampai lutut, lantas ia berangkat ke kantor atau sekolah hanya minimalis sebatas menutup aurat, konyol!!!
   Islam tidak hanya mengajarkan 'hukum' saja, tapi mengajarkan estetika. Pantas, juga sebagai pedoman dalam menentukan cara berpakaian. Jadi, bukan hanya 'Al-Quran dan Sunnah' saja yang sebagai pedoman. Etika dan moral dari suatu daerah juga bisa dipakai, asal tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah tentunya. Islam menyeru untuk menutup aurat, apakah ada dalil yang menyeru kalau ke sekolah harus pakai seragam? Ikat pinggang? Dasi? Sepatu? Tidak ada!!! Lantas ketika 'sak karepe dewe' yang penting menutup aurat, dan saat upacara dihukum karena atribut tidak lengkap lantas mau berteriak 'ini pembodohan! Tidak ada dalilnya sekolah memakai sepatu!'. Miris kan kalau terlalu 'kaku' hanya bermodal ikut kajian sebentar, nonton ustad ceramah di media sosial, lantas merasa paling benar?
   Akhir-akhir ini ada yang membahas mengenai lambang suatu agama. Benar kok, tidak ada yang salah, kalau tidak ada kemungkinan untuk disebarluaskan. Masalahnya, walaupun tertutup, yang notabene 'kalangan sendiri' ada pula jamaah alay yang kerjanya 'selfie', nulis kata 'kapan kita kesini bareng', basi! Dari situ ada kemungkinan pula, saat bicara pun ada yang merekam, entah dari panitia atau pengunjung. 
   Kembali ke masalah 'menyerupai suatu kaum'. Dari beberapa sumber, terntunya bukan dari sekedar comot penjelasan yang 'sanad keilmuannya' entah-berantah, mengatakan gini 'sama maksudnya adalah pada sisi yang merujuk akidah'. Misal, salat kan boleh dimana saja asal suci, dan segala macamnya mengenai syarat dan rukunnya ( buka 'fathul qorib'). Ketika melakukan salat tetapi tidak bersuci (secara Islam) dulu, sekedar membersihkan diri - suci dan bersih adalah hal berbeda, dengan dalih di agama lain tidak ada yang namanya 'wudu'. Seperti ini yang rusak. Salat pakai bikini boleh kok, yang penting menutup aurat. Yang cerdas dong, konteksnya 'memakai' bukan 'hanya memakai'. Atau bikininya banyak, dijahit menjadi satu, seakan pakaian ihram. Secara aurat, boleh, tapi kan kelihatan oon! Ya jangan dilakukan dong...
   Masalah lambang pun merambah pada 'palang merah'. Masalah lambang palang merah mengapa seperti itu, silakan baca sejarah palang merah dunia! Sebagian mereka mempermasalahkan lambang tersebut, tapi tidak mempermasalahkan lambang (+×÷=) pada matematika, ada yang mirip kan? Jenaka memang.
   Belum lagi masalah 'Garuda Pancasila' yang disebut-sebut sebagai manifestasi berhala. Ya kalau disembah-sembah ya jelas salah, tapi kan lambang tersebut dibuat bukan untuk disembah? Dalam mata kuliah media pembelajaran, dikatakan, pembelajaran akan lebih mudah jika menggunakan media yang sesuai. Nah, selain sebagai lambang, itu juga sebagai media, agar lebih mudah mengingat. 
   Ada lagi masalah 'api', katanya kalau suka mengelilingi api akan mirip dengan kaum Majusi, penyembah api. Kalau mirip, akan jadi bagian dari kaum itu??? Pikiranmu terlalu repot, Nak, belajar lagi! Anak-anak gunung akan protes kalau tahu kau berkelakar seperti itu! Tidak kasihan kah dengan saudara kita yang hidup di dataran tinggi? Yang hidup pada musim dingin? Para pendaki? Mereka mengelilingi api bukan untuk menyembah, tapi menghangatkan tubuh! 
  Sekali lagi, jadi yang dimaksud 'mirip', bukan sekedar mirip saja. Lantas semena-mena 'dineraka-nerakakan', tapi kalau kamu memang menganggap itu salah, ya dijelaskan baik-baik. Bukan langsung dihakimi. Kalau kamu masih bersikap keras seperti itu, bisa-bisa seruan untuk 'memukul anak' saat dia sudah baligh dan tidak mau salat akan benar dilakukan. Memukul membabi-buta, dengan balok kayu yang gede, mati lah! Tak jadi dah dia salat, yang ada malah dikubur! Memukul disitu ya yang tidak melukai, atau, memukul kebiasaan/pola pikir, bukan orangnya. Ingat! lembutlah, agar yang tadinya salah, lantas dengan senang hati mau memperbaiki diri dari kesalahan. 
Terimakasih, buat kamu yang pernah mengajariku toleransi, berdampingan (hingga tidak lagi berdamping, hiyah) tanpa ada permusuhan. 😙😙😙

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!