Bukan Suudzon Tapi Waspada

    Setiap persinggungan pasti ada hambatan. Akan aneh jika benar-benar tak ada energi yang bertolak belakang. Misalnya begini, masih ingat dengan pelajaran fisika? Tentang gaya gesek?-anggap saja masih ingat lah ya. Nah, gaya gesek akan muncul ketiap ada dua benda bersinggungan, mau atau tidak mau gesekan akan muncul. 

   Beberapa perhitungan memang tidak memunculkan atau tidak memperhitungkan keberadaan gaya gesek, untuk mempermudah. Pada gerak jatuh bebas pun (saat dulu waktu SMA) gaya gesek antara benda dengan udara tidak diperhitungkan. Padahal kenyataan mengenai gesekan itu ada. Coba saja dengan benda yang sama sama memiliki massa 1 gram, bukan berat ya, kalau berat satuannya newton. Bandingkan kertas 1 lembar yang beratnya 1 gram dengan logam bulat yang 1 gram juga. Kecepatan jatuhnya akan berbeda. Kertas akan cenderung melayang jika dibandingkan logam bulat. Kenapa? Hal ini terjadi karena luas penampang mereka yang berbeda. Dan juga gaya gesek! Gesekan udara berperan dalam hal ini!
   Bersosial kadang juga seperti itu, kita tak pernah menginginkan ada gesekan (konflik) tetap saja muncul. Entah itu terlihat atau tersimpan. Konflik bukan hanya dua arah, bukan masalah dua orang yang saling marah. Kadang konflik dialami oleh sepihak saja, seperti saat kertas dijatuhkan dari ketinggian, efek gesekan yang terlihat hanya pada kertasnya kan, tapi pada udara tidak? Nah konflik memang kadang seperti itu. Misal kamu bertemu seseorang yang rambut telinga atau congeknya keluar, risi kan? Nah itu konflik tapi sepihak. Lebih ke konflik batin itu mah. Apa temanmu yang congekan terpengaruh? Tidak, biasa saja, fesyen kok! Kamu saja yang repot, hha.
   Berbeda jika kamu bilang, 'Mas, congekmu tuh bikin ruangan pengap', ini bisa jadi muncul gesekan yang berpengaruh pada dua arah. Bisa jadi bertengkar, marahan, putus kontak, hiyaaa takut kan? Nah maka dari itu kalau mau menasihati orang kudu pelan-pelan, biar enak! Nikmati prosesnya, terlalu cepat dan tergesa-gesa bikin sakit! 
  Kadang demi untuk menjaga hubungan perlu berbohong, bukan ding, tapi perlu bijak dalam memilih kata. Ya kalik berbohong, salah. Jujur tapi blak-blakan juga salah. Lantas bagaimana? Pahami 'target' bicara sesuai keadaan, jangan memaksa keadaan. Ingat, mari ngeteh mari  bicara. Maksudnya bicara pada posisi yang baik, jangan waktu lagi enak-enak tidur diganggu, diajak bicara, kan oon. Nyakar lah!!!
   Kembali pada masalah berbohong, kenapa sih manusia ada yang suka berbohong. Apakah rasanya enak? Apakah manis? Kalau senyum membuat hati meleleh? Sepertinya bukan. Berbohong adalah suatu perkataan yang mana tidak sesuai dengan kenyataan. Berbohong dilakukan untuk membentuk citra. Citra baik, agar orang lain simpati. Citra buruk agar orang lain membenci, biasanya kebohongan dengan tujuan citra buruk dilakukan oleh jamaah ghibah . Siapa yang suka ghibah? Jangan, tidak berhadiah kapling syurga.
   Konflik atau gesekan pun dapat muncul akibat suatu kebohongan. Yang tadinya terlihat baik, ternyata cuma pencitraan agar orang bersimpati. Namun kenyataan berkata lain! Ujung nya terlihat pula kebusukan yang disimpan. Marah tuh yang tadinya terlanjur percaya. Marah online, marah dikit bikin status, nagis, kecewa, bahagia pun dibikin status di media sosial, dasar.
   Ada pula konflik karena kebohongan yang bercitra negatif, misal karena kebohongan berantai plus dengan bumbu penyedapnya.
 'Jeng, ternyata anu-nya  pak itu bercabang',
 'iya, saya lho lihat cabangnya sembilan, seperti ekor kyubi'.
 'Kyubi?'. 
'Itu lho kataknya Naruto'.
   Nah kan, padahal katak tak memiliki ekor. Kecuali fase pada metamorfosis katak, setelah kecebong berkaki, itu baru ada katak berekor. Kalau dewasa mah tidak ada ekor, kurang baca ya? Nah kan bohongnya terlihat! Kebohongan itu akan semakin terlihat, entah suatu saat. Makanya jangan sering berbohong.

  Kebohongan sekali akan memunculkan kebongongan setelahnya. Karena suatu kebohongan memerlukan argumen, dan argumen itu hanya dapat dicapai dengan kebohongan yang lain. Karena tidak ada fakta yang dapat dipakai untuk mendukung kebohongan
   Setelah tahu bahwa 'ada kemungkinan' manusia akan berbohong, atau jujur tapi 'berbumbu', maka jangan mudah percaya. Ditelisik kata-katanya lihat ekspresi wajahnya. Kalau janggal, bisa saja berbohong.
   Nah begitulah hidup dengan manusia lain, yang tidak selalu sesuai antara das sein  dan das sollen. Gesekan pasti terjadi, tergantung kamu akan membesarkan keadaan gesekan atau mengabaikan. Atau begini saja, egomu yang diperkecil agar mudah menerima kenyataan. Selalulah berbuat baik, jangan berharap balasan. Karena kadang kebaikanmu cuma dimanfaatkan orang. Kalau begitu tetap santai, bersyukur saja, ingat 'Tuhat tidak menciptakan suatu apapun kecuali bermanfaat', jika kamu dimanfaatkan, berarti kamu ciptaan Tuhan.
  Nikmati saja hidup bersosialmu, suudzon itu tidak boleh, tapi waspada harus dilakukan. Begitulah bersosial, buat santai saja, kalau mencari teman tanpa cacat mana ada. Kau akan hidup hanya sendiri. Tanpa siapapun. Tanpa aku juga, kuharap kau baik saja di sana -yah, kebawa kan jadinya. Ingat, Jangan mudah percaya dengan orang lain, agar kau tak mudah kecewa. Juga jangan percaya dengan tulisan ini, isinya saja bohong semua. Hhe

Selamat membaca, jangan lupa bawa kresek kalau mau muntah. 😘😘😘😘😘

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!