“ASIKNYA” Menjadi Mahasiswa

  Kutulis untuk adik-adik yang sebentar lagi mencicipi bangku kuliah. eak adik, chihihihi


           Pengalaman “manis” ini, aku dapat dari beberapa tahun (dua tahun maksudnya) menjalani perkuliahan. Asik nggak sih kak??? Iya laaaah, banget. Kalau bisa menikmati, dalam catatan KALAU BISA yaa. Kenapa aku bilang seperti itu. Jagi ceritanya begini.
Dulu waktu SMA, aku sudah tidak tinggal lagi dirumah. Ke luar kota. Biar bisa ngerasain gimana rasanya mudik. Mungkin. Nah sebagai anak bungsu (ragil) melihat kakaknya yang sudah kuliah dan sering pulang ke rumah membuat logikaku berkata, “pingin cepet-cepet kuliah nih, biar bisa seenaknya libur”
Kerasnya SMA yang panjang kujalani, seperti telah penuh berjuang dianya malah lebih memilih pergi. Sakit. Tapi tak apa, akhirnya aku bisa lulus ujian dengan nlai yang cukup memuaskan, mungkin memuaskan sihh. Ya, memuaskan. Cukup membuatku PUAS  untuk terpuruk kala itu. Wkwkwk
Aku tahu rasanya ditolak TUJUH KALI, tujuh kali daftar kuliah. dan “asiknya” kuliah mulai bisa aku rasakan dari sini. Terakhir dalam keasikan itu aku browsing-browsing, manaaaa ini univ yang masih buka??. Ya walaupun yang cari bukan aku, tapi seseorang, yang meninggalkan kenangan manis. Cuma meninggalkan sih, tidak mau membawa bersama, ah apaan sih. Maka dari itu masih banyak jalan menuju keberhasilan. Jangan menyerah, jangan gores-gores lengan terus difoto,upload, kasih caption. Ini tak sepedih luka yang kau berikan. JANGAAAAAN!!!!
Alhamdulillah, UNIV yang mencoba untuk aku daftar, akhirnya ma menerimaku. Aku diterima dengan jalan terakhir, yaitu test. Banyak yang bertanya, ”kok nggak ikut snmptn?”. Aku jawab aja “ kalau test itu lebih valid dibanding dengan nilai raport, kau tidak tahu jalannya penilaian raport ya?”. Cuma alasan sih Padahal aku hanya peringkat terakhir setiap semester dikelas. Miris ya? Wkwkwk. Ya sih walaupun aslinya bukan pilihan, tapi jalani aja dulu. Kan witing trisna jalaran saka kulina. Aku yakin kok kalau cinta itu akan tumbuh. eakk
Sebenarnya aku nggak  begitu pintar dalam memahami bacaan, baik itu dari buku, internet, kode kode dari setiap chat kamu. Aku kesulitan untuk memahaminya. Dan itu berimbas sampai pada setiap tugas yang diberikan dosen. Hampir setiap dosen menyuruh membuat tugas berupa makalah, okelah kelompok. Tapi ingat saja, filosofi miring dari tugas kelompok : yang satu bertugas yang lain mengelompok. Cuma ikut ngumpul saja. ahh apaan itu mah!!!!
 Untung, aku sering dipasangkan dengan para pengrajin, maksudnya para mahasiswa rajin. Sebagai parasit gini yang hanya ambil keuntungan dari mereka, dari keringat mereka, iyuuh jijik. Enaknya tuh kalau di awal semester  aja.  Tapi lain ceritanya, jika menepati waktu-waktu tugas akhir, waktu hampir ujian semester, Tugas begitu menumpuk. Serius dah, kalau hanya mengandalkan The Power of kepepet. Capek, banget. Ibarat ngejar dia nih, yang diajak ngomong aja susah, mikir judul, kayak mikir bahan pembicaraan yang cuma di jawab “hm, -_- ,anjay, bomat, wkwwk, haha, Y”. Pusing itu, hanya perjuangan sepihak. Dan ternyata kuliah tak seindah bayangan waktu SMA, ya begitulah hidup, akan terlena jika terlalu terpaut sama bayangan, kayak bayangan mantan gituuu, hhe.
Tapi semua ini bisa kok diatasi. Gampang. Asaaal, kitanya yang harus mau merubah sifat. Tak masalah kalau dia bilang “kamu kok sekarang berubah sih?”. Biarkan saja dia, kita kan berubah ke yang lebih baik. Ya nggak?.  istilah kerennya, upgrade.
Aku hampir mengeluh juga kok, diasaat itu.  Gara-gara kesalahanku, kemalasanku. Dan akhirnya harus aku memaksakan diri, Allahumma paksa, Insya-Allah bisa. Belajar berbenah diri, yang awalnya sering mengeluh. DUHAI DOSENKU, AKU HAMPIR MATI DENGAN TUGASMU!!!.  Tiba tiba, Aku teringat pesan Pak Kyai “lhoooo, yah mene kok wes ngantuk, ngaji ki aja ngantuk. Kesel? Padha, aku ya kesel. Nek rak pingin kesel yo mati-ho, mergane mung mati tok sek ngilangi kesel nik sa-jeroning urip” = lhoooo jam segini kok sudah mengantuk, waktu mengaji jangan mengantuk. Lelah? Sama, saya juga lelah. Kalau tak pingin lelah ya mati saja, karena hanya kematian yang bisa menghilangkan lelah di dalam kehidupan. Dosenku juga nggak mau kalah, beliau juga berpesan “kalau kalian merasa lelah, aku yakin yang tidak kuliah (orang tua yang mencari nafkah) itu pasti akan lebih merasa lelah”
Dan itu pesan yang aku pakai sampai sekarang. Agar tidak mudah mengeluh.
Jadi? Sudah paham kan bagaimana “asikya” perkuliahan? Persiapkan diri kalian, jangan sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit protes dengan kebijakan aturan kampus. udah siap kan yaaaa???, hhe . Kalau nanti ada yang memprofokasi untuk demo. UKT contohnya, soalnya kami pernah, waktu ospek. Jadi nanti kalau insiden itu ada, Mikir dulu “aku jauh jauh kesini (kampus) untuk demo atau belajar?”.  Aku tahu  bahwa kalian ini para orang pintar. para terpelajar yang tidak gampang digiring opininya oleh para para singa lapar itu. jangan seperti kami ya! 😇
            Ingat juga, NEGARA KITA TIDAK BUTUH ORANG DENGAN MENTAL LEMAH. TIDAK BUTUH ORANG GALAK, TAPI BUTUHNYA YANG BIJAK.
Negara kita DIDIRIKAN OLEH PARA PEJUANG lhoo, bukan PARA PEMUDA ALAY YANG  HOBINYA DIDEPAN GADGED LALU GOYANG-GOYANG. Apaan tuh pemuda seperti itu, Emangnya ada?  

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!