Haruskah Masa Orientasi Siswa???
Masa SMP dan SMA masa paling membahagiakan bagi sebagian pelajar tanah air kita. Masa canda, tawa, cinta dan luka. Dimana para manusia memasuki fase pubertas, fase pencarian jatidiri. Sebagai masa transisi dari mulai kanak-kanak menuju dewasa.
Ingatkah kalian dengan MOS, masa orientasi siswa? Yang biasanya diakukan pada saat awal sebagai siswa baru. Menurutku itu sangat asik, jika bukan diisi dengan ceramah. Karena saya pasti bosan dengan ceramah yang seperti itu.
Sebagian sekolah ada yang menjalankan MOS dilimpahkan kepada senior. Yang membuat semacam senioritas terjadi disitu. Saya melihat dari pengalaman kakak saya, dimana dia disuruh memakai tas dari karung. Ada sekolah lain yang disuruh bertopi pake besek atau ceting (wadah nasi saat kenduri). Ada yang disuruh memakai kalung dari bawang. Wow pawang hantu!!! Ada juga yang harus mengikat rambut dengan tali rafia, disuruh memakai kaos kaki warna-warni yang berbeda kanan-kirinya. Itu membuat saya trauma untuk mengikuti kegiatan permulaan sekolah waktu SMP nantinya (saat itu masih SD) , saya berfikir apa bolos saja ya?
Waktu saat masuk SMP, sekolah yang saya tempati tidak tidak seaneh-aneh itu. Aman laaah. Sebagian besar kegiatan diisi dengan ceramah. Saat itu, saya bosan, tapi bersyukur. Saya bisa tertawa kepada teman saya yang mendaftar disekolah lain “ahaha, sekolah cari ilmu atau mau jadi gila?”. Ternyata saya salah.
Mengapa saya bilang salah? karena mereka terlihat lebih bahagia saat sepulang sekolah. Mereka punya cerita. Saling mengejek satu-sama lain dengan tugas “gila” mereka. Saya membayangkan, mungkin asyik juga tuh, dari pada ceramah??? Bisa dibilang ”kegilaan” itu tidak masuk akal, berbanding terbalik dengan kebahagiaan, tapi itu terjadi. Dan benar-benar terjadi.
Tapi dalam pengalaman hidup saya berkata lain, otak saya membentuk suatu sistem teori, “menjadi gila akan bahagia, dengan bahagia akan sehat raga”. Yang seakan kegilaan berbanding lurus dengan kebahagiaan. Bukan apa-apa, pertama; saya lebih sering melihat orang gila yang tertawa, bukan malah galau ria yang dihiasi dengan update foto sedang menangis dengan caption “kamu jahat + emoticon nangis”. Ngga adaaa!!! Kedua; pernahkah kalian melihat berita orang gila dirawat di RSU menderita sakit typus, yang mana mereka sering makan dari tempat sampah? Pernah? Haaa pernah??? Tapi kenapa kau malah menyakiti akuuu? kenapaaa? jawaaab? Yang ada malahan orang sehat, dengan pendidikan tinggi, nyuri uang rakyat. Nahhh itu baru sumber penyakit yang banyak menyakiti rakyat jelata!!!
Dalam ceramah itu pemateri (guru kami) mengatakan “kami tidak melakukan perploncoan (tugas “gila”), karena kami tidak ingin budaya itu menimpa peserta didik selanjutnya secara berantai dan turun-temurun.”. Saya setuju sebenarnya, tetapi, tidak semua perploncoan itu buruk. Karena masa itulah sebagai pembentukan mental. Mental yang kuat. Namun harus dilakukan dengan cara yang manusiawi, bukan disuruh makan makanan yang kotor diludahi misalnya, minum dengan menggunakan wadah sepatu, atau dengan kekerasan fisik. Bahkan pernah diberitakan, ada yang sampai dipukuli, sampai nyawa pun hilang. Miris itu mah!
Mental pelajar yang kuat perlu ditumbuhkan. Agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi dunia pendidikan nantinya. Karena, banyaknya beban panjang yang harus diemban, yang membutuhkan kekuatan mental, tekad dan ketahanan batin. Aku kudu kuat walaupun hati ini tersayat. Motivasi itu harus tertanam dalam setiap kondisi, entah dari tugas, sulitnya materi pelajaran, guru killer, gebetan ditikung teman.
Sekolah bukanlah melulu masalah ranking atau peringkat nilai, oke saya setuju nilai itu penting sebagai bahan evaluasi. Sebagai ukuran untuk memerbaiki diri. Tapi perlu diingat, terjatuh adalah resiko dari orang yang mau melangkahkan kaki. Waktu SMP saya selalu berlangganan remidi (nilai tidak tuntas) waktu ulangan harian. Tepatnya pelajaran IPS (Kalau saat SMA mah lebih banyak). Bukan galak, tapi beliau tegas, dengan tugasnya yang keras. Semakin nilai jauh dibawah standar minimal semakin banyak pula tugas untuk membuat soal plus jawaban, tulis tangan, untuk menghindarkan dari foto copy kecurangan. Kala itu pernah, waktu kelas tujuh (satu SMP), teman saya, dia pintar. Mungkin dalam hidupnya belum pernah mengalami kegagalan, karena dalam perjalanan panjang itu, baru sekali dia remidi. Seorang lak-laki, matannya nanar, dengan mata memerah yang berkaca-kaca. kalau cewek mah aku bakal bilang “udah,,, sini nangis di pundak abang aja!”.
Sedikit kesal memang jika remidi, tapi bahagia juga ada. Ahahahaik banyak temannya, santai ajaaa!!! Lebih kesal lagi saat tidak remidi dan dianggap mencontek teman, mungkin karena terlalu seringnya remidi. Sakit gitu rasanya, seperti kata aku mau fokus belajar buat ujian dulu, dan belum seminggu dia jadian dengan orang lain. arggh!!!
Dari pengalaman itu menurut saya sih penting diadakannya mos dengan “kegilaan” agar mental terbentuk. Agar siswa tidak mudah mudah menyerah.
Namun perlu diingat, lihat siapa yang akan di-MOS. Bagaimana karakter mereka. Namanya juga penguatan mental, berarti kan berawal yang belum kuat menuju kepada yang kuat serta tahan lama, apasih ini? Maksudnya, analisislah dampak yang akan ditimbulkan.
Orang yang bermental lemah memiliki beberapa kemungkinan, apakah dia akan menjadi pribadi yang lebih kuat. Karena ini memang yang diharapkan. Atau bahkan sebaliknya mereka akan menangis, lalu pulang dan mengadu kepada bapaknya. Dan bapaknya marah besar, memukuli guru sehingga kemungkianan kaca-kaca disekolah pecah. Atau bahkan siswa akan malu, mengurung diri di kamar, sehingga enggan untuk masuk sekolah dan gantungin cintanya seseorang! Huft -_-
Kenapa bisa terjadi? Karena, Pola pikir manusia terpengaruh oleh lingkungan dimana mereka tinggal. Contohnya: seorang anak yang hidup di daerah konflik perang, atau anak jalanan yang setiap harinya harus mencari makan sendiri, mereka akan cenderung memiliki ketahanan mental yang lebih kuat dibanding anak yang terlalu dimanja. Seakan kerasnya kehidupan sebagai vaksin untuk bekal meraka bertahan hidup. Yang mana vaksin sendiri ada yang terbuat dari virus yang dilemahkan, dan disuntikkan kepada manusia ataupun hewan. Yang membuat tubuh akan membentuk antibodi, berupa antigen pada suatu penyakit. Sehingga mereka akan kebal terhadap penyakit tertentu.
Waktu SMA, malah seperti disiksa, masa orientasi siswa diampu oleh tentara. Pendidikan tak hanya mental tapi fisik juga. Bayangkan saja, penerapan kedisiplinan dilakukan dengan cara yang relatif keras. Tiga hari, siang dan malam kita dididik. Waktu untuk istirahat hanya saat tidur. Makan bukan waktu untuk beristirahat, jika ada suara “klutik-klitik-klutik” piring harus digeser kedepan, ambil posisi push up atau sit up. Serasa mau mual. Walaupun sudah begitu adanya pihak sekolah dalam mendidik kedisiplinan untuk kita, saat menghadapi masa pendidikan di sekolah (saya, dan ada beberapa siswa) sering tertidur di kelas. Bayangkan saja jika tidak dilakukan pendidikan mental dan kedisiplinan pada saat masa orientasi! Mau jadi apa???
Dari pengalaman ini, walaupun seperti disiksa tapi inilah yang membuat saya semakin yakin. Bahwa, kerasnya masa orientasi akan membawa kebahagiaan dikemudian hari. Revolusi mental. Dengan banyak kenangan yang cukup menggelikan hati, seperti halnya ada teman yang dipanggil oleh pelatih untuk maju kedepan “hei kambing! sini kedepan! Kamu manusia atau kambing? Kenapa makan rumput?” yang dijawab “tidak pak cuma gigit-gigit saja”.
Kata guru saya, "setiap kita melangkah disitulah ada pengalaman, yang mana akan ada ilmu dan hikmah yang dapat kita ambil.". Dan dari pengalaman itulah teori baru muncul “kemalasan siswa saat disuruh mencabut rumput berbanding terbalik dengan kebiasaan mencabuti rumput saat disuruh duduk dilapangan.”
Jadi, tolong, sikapi masa orientasi dengan bijaksana, baik dari peserta atau pengampu masa orientasi. Jangan ada salah satu pihak yang terluka, atau tercampakkan nantinya. Lakukan dengan seprofesional mungkin. Jangan pula kau pergi, dan memilih dengan yang lain, kau tahu? Aku sakit melihat itu.
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.