Kerelaan atau Keikhlasan?

 

Kerelaan berasal darikata ‘rela’ yang berarti kesungguhan hati dalam menerima sesuatu. Menerima dalam arti luas, baik itu buruk ataupun baik. Menerima kehilangan misalnya, atau cobaan, atau permintaan tolong orang lain.
Sedangkan keihlasan, hampir sama dengan kerelaan. Namun memiliki artian yang sedikit berbeda. Dalam ilmu tasawwuf, iklas diartikan ‘karena Allah’ bukan karena yang lain. Dalam hal ini memang sulit untuk mendeskripsikan ‘ikhlas’ itu sendiri. Bahkan ketka kita melakukan sesuatu pun, belum tentu karena Allah, bisa saja karena orang lain. Misalnya, rela menyapu halaman yang ditujukan untuk sebuah pujian atau nilai rupiah (pesangon) dari orang tua bertambah.
Pernah, ada seorang guru yang mendefinisikan tentang keikhlasan yaitu seperti surah al-Ikhas. Coba deh, dibuka dan dibaca. Artinya saja, bukan maksud saya merendahkan, Cuma biar lebih paham saja. Sama kok, saya pun belum bisa membaca al-Qur’an sembari faham artinya di setiap kalimat yang tersusun itu. Di dalam surah tersebut tidak terkandung sama sekali kata ‘ikhlas’ bahkan definisinya pun tidak ada. Hanya menerangkan bagaimana sifat Allah. Nah itulah ikhlas, bukan karena siapapun dan tidak mengharapkan apapun, hanya karena Allah.
Kerelaan ataupun keikhlasan bertumbuh karena beberapa faktor. Untuk kerelaan tersendiri, jika dihubungkan dengan sosial, maka sikap ini akan tumbuh kalauada jalinan rasa ‘kasih’ atau mengkasihani. Dengan dalih ‘saling’, demi mengikat kerelaan tersebut. Atau bisa hanya searah, misalnya seseorang yang mencintai orang lain, walaupun tidak terbalas, dia akan rela untuk mengorbankan sesuatu, waktu misalnya, demi yang dicintainya.
Berbeda dengan ikhlas. Keikhlasan akan tumbuh jika dilatih, tidak datang dengan spontan. Bagaimana cara melatihnya? Tinggal berbuat saja, sedekah misalnya. Untuk mencapai tingkat ikhlas dalam bersedekah tidak hanya sekedar iba terhadap seseorang lantaran bersedekah, perlu latihan!
Pernah tidak kalian bersedekah, baik itu berupa harta atau pertolongan terhadap seseorang, lantas ketika kalian membutuhkan bantuan, orang tersebut tidak hadir membantu? Sekedar hadir menemani agar kamu merasa “aku tidak hidup sendiri’, orang tersebut tidak hadir. Tiba-tiba terbesit pikiran, “padahal setiap dia butuh sesuatu, saya selalu ada buat dia”. Nah, ini sebuah gambaran bahwa kalian sudah masuk pada fase kerelaan, pada saat memberi, namun kerelaan kalian hilang saat minta timbal-balik. Bukan sesuatu yang dapat dikatakan sebuah ‘keikhlasan’. Seandainya saja kalian sudah menggunakan keikhlasan dalam saling berbagi, maka tidak ada yang namanya mengungkit.
Lanjut, masalah ibadah baik ibadah yang vertikal maupun horisontal. Pernah kan dengar, “ibadah tidak akan diterima jika tidak ikhlas?”. Pernah salat sampai ke taraf iklas? Hanya karena Allah! Padahal ke taraf khusyu’ dari awal sampai akhir saja tidak, ingat jemuran lah, makanan lah, bahkan ingat dimanakunci yang sedari tadi hilang kemana. Lantas setelah salat langsung mencari kunci dimana tempatnya teringat saat salat, dan ketemu, Alhamdulillah. Padahal teringat hal di luar salat adalah salah satu upaya syaithon agak tidak khusyu’ saat salat. Lantas dapatkah pahala? Ya entah, terserah bagaimana Sang Pemilik Kebijakan mau memberi pahala atau tidak. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal yang kita bisa, dan ingat tetap optimis untuk berdoa mengharap diterima, entah dari prosesnya atau dari kerelaan dalam melaksanakan salat.
Beramal atau melakukan sesuatu jangan menunggu untuk memastikan ikhlas dulu baru beramal, karena takut tidak diterima oleh Allah. Karena, hal itu adalah sebuah penghinaan terhadal Allah. Allah itu baik kok, bahkan dalam pertama dikatakan sifat kasih Allah lebih banyak daripada sifat kuasa. Dan sifat kasih tersebut malah disebutkan dalam ayat yang pertama –itu untuk yang percaya bahwa bismillah diikut sertakan dalam surah al-Fatihah. Yang penting jalani saja dulu barang kali cinta bersemi.
Jika setelah beramal belum mencapai taraf ikhlas bagaimana? Ya sudah, santai saja, optimis, cari sisi baiknya. Misal dengan dalil ‘salat dapat mecegah suatu kemungkaran’, ya sudah syukuri saja karena sudah salat. Paling tidak, selama 5 menit anda salat, tidak melakukan dosa dari menggunjing tetangga, saling berargumen dalam mengeluarkan gosip terhangat, tawuran, nyolong komputer, misalnya. Paling tidak dalanm lima menit anda salat bisa terlihat baik, dan itu akan mengurangi mencegah dosa orang lain yang ditimbulkan dari anda. Misal anda hobi kencing sambil berlari, orang lain akan membatin yang buruk pastinya, berbeda kan dengan salat? Orang lain akan husnudzon, dan itu baik. Karena salat anda, bisa memberikan peluang pahala bagi orang lain, makanya syukur karena telah berbuat baik juga perlu.
Misalnya lagi, sedekah. Jangan terlalu terobsesi dengan ikhlas, berat. Ya sudah sedekah saja. Misalnya anak kecil, anda kasih sejumlah uang atau makanan. Dia tidak akan perduli hati anda pamrih atau ikhlas, yang penting mendapatkan sesuatu. Dari sini bisa saja jika ternyata anda pamrih, namun karena kegembiraannya anak kecil tersebut, lantar memberikan laporan kepada orang tuanya telah diberi sesuatu. Lantas dari situ, anda didoakan. Siapa tahu, amal anda yang tadinya ditolak karena pamrih namun akan mendapat pahala yang lebih besar karena doa dari orang lain, karena membuat orang lain senang. Namun jika ketika anda mendapat perlakuan yang buruk dari orang lain, ya doa saja yang baik. Masa cuma doa saja, mau mendoakan yang buruk. Terasa pelit sekali itu mah, padahal kan sekedar doa tidak membuat kita kehilangan sesuatu.
Lantas jika ada pertanyaan dari pacar anda, “kamu iklhas, gak sih, meluangkan waktu jalan sama aku?”, atau “kamu ikhlas kan nganterin aku mangkal mumpung orderan rame nih?”, jangan jawab dengan kata ‘ikhlas’ –karena Allah kok dalam perkara dosa, kan menghina. Mungkin bisa dengan kata ‘rela’. Tapi kan rela terhadap berlangsungnya kemunkaran juga dosa kak?. Bukankah kalau ada kemungkaran harus dicegah dengan tangan, mulut, ataupun hati yang tidak rela dengan kemungkaran tersebut, kak? Bahkan katanya jika hanya dengan hati yang ‘tidak rela’ dikatakan apes-apesnya iman, terus gimana kak?. Iya juga ya, Terus bagaimana dong?

Semarang, 9 Maret 2020

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!