Mengapa Bukan Memakai “Bahasa Kita” yang Lebih Kaya?

 

Bahasa adalah salah satu budaya terbesar peradaban. Suatu ilmu pengetahuan tidak dapat bekembang tanpa perantara bahasa. Adapun tanpa ilmu, beradaban juga tak akan dapat berkembang. Seorang penemu pun membutuhkan orang lain dalam membuat karya besarnya, walaupun hanya sebatas tenaga yang dibutuhkan. Tanpa adanya bahasa, ilmuan itu tidak dapat mengkoordinir rekannya. Bahkan semua jenis keilmuan memiliki unsur kebahasaan di dalamnya, termasuk dalam matematika, misalnya saat suatu angka ditulis maka akan terlihat “1” namun jika diucapkan akan berbunyi “satu”.
Dalam suatu pertukaran informasi, dapat dilakukan dengan dua cara. Menggunakan bahasa dan menggunakan isyarat/rambu.  Isyarat sendiri juga sering disebut dengan “bahasa isyarat”. Namun keduanya memiliki perbedaan yang mencolok, dimana bahasa lebih mudah memberikan pemahaman kepada masyarakat umum dibandingkan dengan isyarat. Contoh jika bertukar informasi dengan sandi atau morse, hanya sedikit yang memahami jika dibandingkan dengan berkata langsung melalui bahasa (perkataan).
 Saking besarnya “kekuatan” bahasa, bahasa dapat dijadikan alat untuk menghancurkan suatu peradaban lain. Pernahkan kalian mendengar istilah “jika ingin menguasai suatu daerah, kuasailah bahasanya.”? Hal ini telah dipraktekkan oleh penjajah tempo dulu, yang mana mereka mengirim spionir (mata-mata) untuk memelajari budaya serta keyakinan di Nusantara. Yang tentunya bertujuan untuk mencari titik lemah dari masyarakat indonesia. Dari mata-mata tersebut ditemukan bahwa, masyarakat Nusantara terutama Islam berani mati saat melawan penjajah karena mereka berkeyakianan bahwa”membela tanah air adalah jihad, atau cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”. Tentunya kesimpulan ini tidak akan dapat dicapai jika mata-mata tersebut tidak mengetahui kebahasaan di Nusantara ini.
Sangat aneh saat ada suatu pendapat yang merendahkan suatu bahasa dengan cara membandingkannya dengan bahasanya sendiri. Walaupun hal ini akan terlihat wajar saat kita mengetahui bahwa manusia memiliki sifat “enthnocentris”. Dimana paham ethnocentris atau ethnocentrism ini akan berkembang pada manusia yang menghargai budayanya. “tresna jalaran saka kulina” bisa  dilekatkan pada manusia yang memiliki faham ini. Mereka yang terlalu terbiasa dengan budayanya, jika mendapat atau menjalani budaya lain, mereka akan mengalami “culture shock”. Kaget dengan suatu budaya baru. Sebagai contoh manusia yang biasanya makan makanan matang, akan mengatakan makanan yang berasal dari ikan mentah itu tidak enak. Atau seorang turis asing yang datang ke Nusantara, yang biasanya makan sesuatu dengan aroma yang “kalem” akan mengatakan durian tidak enak.
Tidak masalah saat kita hanya merasa saat budaya kita lah yang sangat nyaman untuk kita. Namun jika sampai merendahkan budaya orang lain maka itu yang kurang tepat. Kita pun boleh menerima boleh juga tidak atas budaya asing, namun tentunya yang tidak bertentangan dengan tata aturan hukum negara kita serta keyakinan kita.
Enthnocentrism yang berlebihan akan menumbuhkan faham Chauvinism dimana dengan keras mengatakan budaya kita yang terbaik, dan menjelek-jelekkan budaya yang lain hanya karena alasan “tidak suka” bukan karena benar-benar budaya itu buruk, seperti halnya budaya yang memang buruk adalah  seks bebas yang sudah dipandang buruk oleh mayoritas manusia di bumi.
Mengkerdilkan suatu yang besar atau merendahkan suatu yang tinggi adalah perbuatan yang kurang tepat. Dalam budaya, bahasa adalah salah satu komponen tertingginya. Dengan demikian kita dilarang merendahkan bahasa dari bangsa lain. Karena, bahasa dari setiap bangsa memiliki unsur yang kompleks dan tersruktur.
Sebenarnya sesuatu hal tidaklah memiliki kekurangan ataupun kelebihan sama sekali. Kelebihan dan kekurangan itu ada jika ada pembandingnya. Begitupun bahasa, bahasa sudah sangat sempurna terutama untuk bangsa yang memakainya.
Akhir-akhir ini ada suatu pernyataan yang mengatakan bahwa bahasa A lebih lengkap dengan bahasa B. Memang jika dibandingkan akan menemukan perbedaan itu. Dan fatalnya, jika pembandingan ini hanya menilai melalui satu sisi bukan keseluruhan, dan terlalu mengangkat bahasanya namun malah menjatuhkan bahasa yang lain.
Hal ini muncul saat membahas suatu “kitab suci” yang mengatakan “kenapa bukan bahasa kita, padahal bahasa kita yang lebih lengkap?”. Dan dengan mencontohkan serta menjabarkan tumbuhan padi, mereka mengatakan bahwa dalam bahasanya, padi memiliki namanya masing-masing pada setiap prosesnya, entah itu saat padi yang masih berkulit, yang sudah dipisahkan dengan kulitnya (beras), pecahan beras yang kecil-kecil, beras yang sudah dimasak (nasi), nasi yang dikeringkan, itu semua memiliki nama yang berbeda-beda. Dan mereka membandingkannya dengan bahasa Arab. Seandainya dengan contoh padi, maka akan menjadikan bangsa Arab terlihat “miskin bahasa”, karena geografis disana tidak semendukung di Nusantara dalam masalah penanaman padi. Sehingga untuk memudahkan masyarakat, maka digunakanlah kata yang mewakili semuanya, ar-ruz. Coba saja dengan kata “gandum” yang notabene produk mentahnya kurang familiar di kehidupan kita, kita cenderung akan menyebutnya dengan hanya kata “gandum” saja, berbeda dengan Arab.
Jika memang akan membandingkan maka haruslah dengan adil, agar dapat diketahui kelebihan dari masing-masing  bahasa terhadap bahasa lain, sebagai contoh:
1    1.  Dalam bahasa Jawa ada yang namanya “unggah-ungguh bahasa”, dimana ada pembagian tingkatan bahasa, contoh kata “makan” akan menjadi : badog (kasar, biasanya untuk hewan), maem (bukan bahasa resmi disebut juga sebagai bahasa madya, namun lazim digunakan, biasanya untuk anak kecil), nedho/nedhi (tingkatan tengah), dhahar (tingkatan teratas/krama inggil). Dalam bahasa Inggris pun ada tingkatan seperti itu, walaupun tidak sekompleks bahasa jawa. Contohnya pada saat meminta tolong yaitu dengan kata “would” ataupun “can”.
2   2.  Bahasa Arab dan Inggris, walaupun tidak sekomplek untuk “unggah-ungguh bahasanya” namun dalam bahasa ini ada perubahan bentuk kata yang dipengaruhi oleh pembagian waktu, dalam bahasa arab ada yang namanya fiil madzi (masa lalu), mudzori’ (sekarang dan atau yang akan datang). Dalam bahasa inggris pun ada pembagian bentuk kalimat yang dipengaruhi oleh waktu yang disebut “tense”. Dengan pengaruh waktu ini maka bentuk kata dalam bahasa Arab akan berubah, contohnya : فعل (masa lalu/terlewat), يفعل (masa sekarang dan atau yang akan datang), begitupun dalam bahasa ingris sehingga adanya "verb 1,2 dan 3".
Adapun faktor lain dalam mengubah bentuk kata ini dapat pula dipengaruhi oleh subjeknya, yang mana membuat satu kata dalam bahasa Arab akan berubah menjadi 25 lebih bentuk yang lain (pelajari kitab  amtsilatu tasrif atau kitab lainyang membahas tentang ilmu shorof). Dalam bahasa inggris pun begitu, antara subjek antara “aku” dan “dia” akan membentuk kata yang berbeda. Kedua perubahan bentuk kata ini tidak ada didalam bahasa jawa maupun indonesia.
 3.      Dalam bahasa Indonesia, bahasa ini memiliki kesesuaian bentuk tulisan dan pengucapan yang relatif  mirip dibanding dengan bahasa lain (yang telah disebutkan).
a.       Dalam bahasa inggris banyak tulisan yang cara bacanya berbeda dengan tulisannya (lihat kamus).
b.    Dalam bahasa Arab, tidak selamanya yang berharokat fathah akan mengikuti huruf A adapula yang condong ke O, contoh تَ (ta), نَ (na), قَ (qo). Bahkan untuk masalah ة (ta marbuthoh) akan dibaca H jika saat waqof atau berhenti, dan tetap dibaca T(huruf ta) jika washal (tidak berhenti).  
c.    Dalam bahasa jawa, terkadang huruf A pun dibaca O, contohnya kata budaya dibaca bodoyo, Surabaya dibaca suroboyo. Hal ini akan sulot jika pengalaman bahasa dan perasaan akan kebahasaan kurang.
Dari sini kita belajar, bahwa bahasa adalah suatu bentuk anugrah dari Allah. Yang mana memiliki keunggulannya masing-masing jika dibandingkan satu sama lain. Maka dari itu jangan sekali-kali merendahkan bahasa lain saat kita meninggikan bahasa yang kita pakai.

#wallohu a’lam

Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!