Definisi Teman Sejati?
Teman sejati adalah mereka yang tak akan pergi saat kita membutuhkan dan datang hanya saat butuhnya saja. Sebuah ungkapan yang sering dilontarkan dalam media sosial, sebagai bentuk kekecewaan saat ada seseorang yang pergi saat kita butuhkan namun selalu datang saat mereka membutuhkan kita.
~
Manusia adalah makhluk individu dan juga makhluk sosial. Itulah takdir manusia sebagai bagian dari masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia membutuhkan manusia lain untuk kelangsungan hidupnya.
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain. Ya, ini pasti. Entah hanya tokoh figuran sebagai pemecah sepi. Atau orang yang berjasa seperti supir angkutan umum misalnya. Orang yang berjasa namun kadang tak dianggap. Karena kita memiliki konsep berfikir, ah itukan wajar kita sudah membayar. Hanya karena uang yang tak seberapa kita sudah sombong! Hal yang terlalu wajar dari manusia.
Sosok orang lain lagi yang diperlukan adalah kehadiran teman. Ya teman. Pernah ada seseorang yang memberi nasehat kepada saya. Suatu ungkapan “urip dewe kuwi susah, banjur yen ana kancane aja seneng nyusahake”. Sebuah ungkapan nasehat dengan menggunakan bahasa Jawa yang artinya “hidup sendiri itu susah, lantas jika sudah ada temannya jangan suka menyusahkan”. Beliau pun menambahkan nasehatnya yaitu agar senantiasa menolong orang lain.
Banyak yang marah saat dimanfaatkan oleh temannya. Jangan marah. Berbanggalah. Karena, dengan dimanfaatkan oleh orang lain, justru itulah tanda bahwa kalian benar-benar berguna dan bermanfaat, tidak sia-sia telah diciptakan Tuhan. Mungkin sebuah cermin perlu diletakkan di depan muka, atau sistem mata manusia dibuat se-elastis mata Garry , siput peliharaan Tuan Spons bercelana kotak, agar dapat untuk melihat diri sendiri dengan jelas.
Pertanyaan saya mudah, apakah kalian sama sekali tidak memanfaatkan teman kalian? Saya rasa tetap pernah, saat anda merasa kehadiran mereka membuat tidak sepi pun termasuk kemanfaatan yang berasal dari teman kan? Apa itu bukan mengambil manfaat dari mereka? Ayolah jangan mudah menyalahkan kalau sebenarnya anda juga melakukan!
Problem-problem sering muncul saat ada interaksi. Setiap problem atau masalah yang muncul jangan dijadikan alasan untuk melancarkan kata perpecahan. Tapi cerdaslah, selesaikan dengan bijak. Karena dengan kebijakan, bumi akan terasa damai dan suasanya tak akan mencekam.
Kehadiran teman apakah selalu dibutuhkan? Mungkin saja hanya saat saat tertentu saja. Saat kita butuh, ya saat kita butuh saja. Kita mengharap kehadiran mereka ya saat butuh saja, atau sekedar saat kita tak memiliki kesibukan lain. Jadi saat kita berfikir “Teman sejati adalah mereka yang tak akan pergi saat kita membutuhkan dan datang hanya saat butuhnya saja” saya rasa kurang tepat.
Coba saja ketika kita berada pada momen dimana saat kita ingin tidur pulas dan teman kita datang, sekedar datang tanpa tujuan apapun kepada kita. Sekedar datang saja. Dengan menjunjung anggapan –teman yang baik adalah yang datang bukan saat butuhnya saja. Apa yang akan anda perbuat dengan sikap teman yang seperti ini? marah? Saya rasa iya, karena mengganggu. Jadi “anggapan” itu benar? Tidak. Karena tanpa tujuan yang jelas lah membuat alur interaksi akan abstrak.
Kita kadang marah saat kita memiliki –teman yang datang hanya saat butuhnya saja. Inilah ungkapan, yang bahkan sering dijadikan sumpah serapah di media sosial. Pertanyaan saya kembali, apakah anda tidak pernah melakukan hal demikian? Yaitu datang pada saat butuhnya saja. Saya rasa tetap anda melakukan. Sekedar menolak sepi atau dari pada cuma sendiri, sebagai teman ngobrol lah atau hanya sekedar untuk dilihat lentik matanya yang indah. Itu namanya datangnya anda karena butuh!
Jadi apakah masih akan marah jika teman anda datang pada saat butuhnya saja? Padahal anda pergi ke WC atau kamar mandi hanya sekedar saat buang air? Bukan kah itu hanya saat butuh saja? Dan saat tidak merasa ingin buang air anda pun lupa kalau sebenarnya anda memiliki kamar mandi yang berbentuk seindah istana. Itu namanya juga datang saat butuhnya saja! Ayolah jangan menyalahkan orang lain lagi kalau anda selalu melakukan hal yang sama.
Tolong menolong dalam interaksi itu juga penting, namun perlu diingat bahwa manusia selain makhluk sosial juga makhluk individu. Jangan tuntut teman anda selalu selaras dengan anda. Karena mereka memiliki kesibukan sendiri sebagai makhluk individu. Kesibukan yang perlu dituntaskan. Walaupun anda tidak tahu. Mungkin saja karena mereka ingin menyelesaikannya sendiri tanpa menyusahkan orang lain.
Sayangnya, kegiatan-memenuhi kebutuhan pribadi, sering dianggap sebagai bentuk sikap apatis. Sikap tidak peduli terhadap orang lain. Atau egois yaitu sikap lebih mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain. Bahkan ada yang bilang-dahulukan kepentingan sosial di atas kepentingan pribadi.
Mari kita membuat analogi. Yaitu dengan anggapan keluarga adalah diri anda sebagai individu dan teman-teman anda adalah kelompok sosial atau masyarakat sekitar. Pertanyaan saya mudah:
1. Idealnya, lebih baik mengeluarkan waktu yang lebih banyak untuk keluarga atau tetangga?
2. Ketika anda -sebagai kepala keluarga,akan memilih bekerja untuk keluarga atau tetangga?
Atau pada contoh lain, saat anda ingin buang air besar sudah diujung tanduk antara hidup dan mati. Dan saat itu pula teman anda sangat membutuhkan bantuan untuk menurunkan pasir dari atas truk, dan hanya ada anda saja pada saat itu yang dapat dimintai pertolongan. Apakah anda akan langsung menolong? Atau anda akan buang arir besar dahulu?
Permasalahannya, pertama ketika anda buang air besar dahulu, anda akan dianggap apatis. Karena tidak mementingkan kepentingan sosial diatas kepentingan pribadi. Apakah anda terima begitu saja dengan anggapan demikian? Kedua ketika anda lebih memilih membantu dahulu dan mengabaikan rasa yang tertahan dari buang air besar sehingga gerak anda kurang maksimal, anda akan di cap sebagai orang yang bodoh. Saya pun akan menganggap anda bodoh juga. Maaf.
Ya begitulah, kadang agak sedikit ribet juga saat kita hidup dengan orang lain. Yang keberadaan orang lain itu juga kadang kita bituhkan. Kita berusaha serealistis mungkin dalam menentukan pilihan kita. Malah dianggap apatis. Saat kita mengabaikan kepentingan pribadi, tak ada kemungkinan 1% pun kalau kebutuhan pribadi kita akan di selesaikan teman kita.
Contohnya saja saat hari esok, adalah hari presentasi dan makalah belum selesai. Bertepatan hari ini juga ada sebuah perlombaan dari teman-teman kita. Kita senantiasa memilih untuk menyelesaikan makalah, tugas dosen. Kita akan dianggap apatis, karena tidak mau mendukung teman kita yang sedang berjuang membawa nama kelas. Padahal, mereka pun, yang jika kita berangkat untuk mendukung, mana mau menyelesaikan tugas dari dosen yang harus kita selesaikan.
Belajarlah saling mengerti, jangan terlalu banyak memberikan tuntutan terhadap orang lain. Karena kita tidak akan pernah tahu apapun itu yang sebenarnya terjadi dari orang lain.
#realistis
#dianggapApatis
#bijaklahSebagaiTeman
#temanYangCerdas
Semarang, 24 November 2018
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.