Implementasi Cinta Dengan Menyiksa

 


Banyak kegilaan yang semakin bermunculan di setiap titik logika manusia. Tak semua, namun manusia memiliki sisi kenaifannya masing-masing. Seakan harus terbalut dengan putihnya kafan padahal raganya telah membusuk lama. Ini kan merepotkan! Misal begini, Anda yang diberi wasiat oleh orang yang akanmeninggal berupa ‘harus selalu mengganti kafannya ketika nanti sekira telah kotor dalam kubur’, padahal itu yang sangat tidak mungkin, jika menggunakan metode pengkuburan dengan cara ‘normal’. Ya, saya muslim, bayangkan saja ilustrasi ini secara muslim.
Kembali kepada masalah kenaifan, orang akan senantiasa membangun citra baik padahal buruk atau setingkat lebih baik dari ‘buruk’ yaitu ‘kurang baik’. Bagaimana cara untuk untuk terlihat tetap baik? Membangunlah sebuah citra, dengan mengorbankan sesuatu atau momen tertentu. Hal ini mungkin saja disengaja karena memang pandai dalam memanajemen tingkah, atau tidak disadari bahwa itu hal yang salah. Misal, menyontek, dalam membangun citra baik –kepada orang yang tidak mengetahui proses tentunya, dalam nilai berupa angka. Seseorang akan dengan percaya dirinya menggunakan berbagai cara jitu ‘menyontek yang baik dan benar, 100% berhasil’. Ini dalam nilai dia tidak jujur, namun keterus-terangannya dalam mencari ‘jawaban’ telah sangat jujur. Tipe kedua, dia berusaha untuk tidak menyontek baik itu menulis pada catatan kecil entah di kertas, tangan yang nanti bisa dihapus dengan ludah, atau di mejayang warna tinta tersamarkan, dia tidak melakukan itusemua, namun merasa senan ketika menemukan jawaban dari dua temannya yang saling berbisik bertukar jawaban. Inikan naif! Merepotkan orang yang seperti ini! Keseluruhan terlihat baik namun sama juga kan, mengambil jawaban dari orang lain, tak ijin pula? Saat ternyata kedua temannya yang saling berbisik itu ketahuan, dia pun tetap akan merasa ‘saya kan tidak curang, wong tidak sengaja’.
Nah, intermezo di atas hanya sebuah gambaran kecil untuk tetap ‘terlihat benar’ atau bisa dikatakan ‘membenarkan’. Nah begitulah otak, otak akan senantiasa mencari pembenaran sedangkan hati mengajak kepada kebenaran.
Namun tak semua hati (disini akan saya sebut dengan angan) mengilustrasikan kebenaran. Ada pula angan yang mengajak kepada keburukan. Misal mencuri, kan salah? Siapa yang disalahkan? Angan akan mencari pelaku utama, kemiskinan, kekurangan, ‘Tuhan yang tak adil’ –kalau ini bahaya, lantas siapa lagi? Ujung-ujungnya setan yang disalahkan. Setan lagi-setan lagi.
Di sinilah titik kegilaan manusia, tak pernah mau disalahkan. Lebih ke oknum memang, karena ada juga yang mudah mengakui kesalahan walaupun dia tidaktahu-menahu tentang apa kesalahannya dengan mengatakan, “iya aku yang salah, maaf ya” bisa juga ditambah embel-embel “jangan cemberut terus dong”. Saya pun akan menyalahkan orang yang seperti itu. Ya maklum, saya manusia, dan kadang juga bisa berperan sebagai oknum. Mencari ‘pemakluman’ dalam kesalahan yang general termasuk sebuah kesalahan juga, inilah fasik. Fasik adalah mereka yang tahu tentang salah dan benar namun masih dilanggar juga.
Batin manusia memanglah begitu, berbolak balik dengan kecepatan yang sangat cepat, jangankan batin, coba saja mata anda ditetesi saos atau cuka, atau kulit anda digigitkan ke koba, pasti sakitnya seketika tidak menunggu sekian detik, itulah perjalanan informasi dalam syaraf. Sedangkan syaraf yang masih jasad saja sebegitu cepat, apalagi batin yang letaknya pada ruh, dan ruh tak memerlukan syaraf. Seberapa cepat? Mungkin dari pembaca ada yang pakar perhitungan bisa diteliti, karena saya bukan ranahnya kesitu.
Kadang batin merespon sesuatu dengan spontan, tanpa berfikir untuk menganalis duduk perkaranya telebih dahulu. Inilah yang bahaya, ada sebuah perkataan bijak mengatakan “jangan mengambil keputusan akan sesuatu saat marah (membenci) atau saat keadaan senang (mencintai)”, kalau ini dilakukan akan memengaruhi validitas dari keputusan. Misal seorang laki-laki melihat wanita, seburukapapun entah fisik atau tingkah, andai suka akan dikatakan baik, dan akan tetap cinta. dan ketika benci, akan berlaku sebaliknya.


-Rileks saja ini masih pembukaan belum masuk inti, karena baru akan masuk sekarang. Bukan tulisan resmi, jadi santai saja dan ambil hikmahnya, anggap saja saya sedang mengobrol dengan anda. Monggo lho di enakkan dulu makanannya. Hhe


Saat kita mengatakan kasih, kita membayangkan sesuatu yang harmoni tanpa konflik apapun. Melodi kehidupan saling bersinergi dalam kata kasih. Namun bagai mana jika disandingkan dengan kata ‘psikopat’? pembunuhan, darah, siksa, tertawa tanpa merasa dosa keta menyiksa, pembunuhan secara berlahan, congkel mata, iris kuping, sayatan kecil di kulit, pemotongan jari satu persatu. Kejam, jijik untuk membayangkan, jadi ketika anda (pembaca) bukan psikopat, tak usah lah membayangkan.
Namun ini nyata. Psikopat itu adalah kadaan penyimpangan atau kelainan jiwa yang condong pada kekerasan. Keras disini bukan ‘keras’ yang tendensinya seperti pada promosi pengobatan alternatif. Yang sering dipampang di pinggir jalan atau promosi dalam suplemen, bukan! Ah, saya tahu bahwa Anda paham kekerasan disini maksudnya apa.
Begini, ini masalah serius jika anda teliti melihat gemerlapnya dunia, ada kelompok atau individu tertentu dengan memiliki jalan pikiran yang sama yaitu mencintai atau mengkasihi sesuatu namun nyatanya dia adalah psikopat. Walaupun tidak membunuh juga, atau memotong jari orang, namun kekejaman itu muncul dari mulutnya. Misal menyuruh membunuh misalnya. Ini kan sangat bahaya, jika ‘sebatas keinginan’ yang terlalu lama terpendam dan menjadikan konsep membunuh tersebut sebagai pembenaran.
Hingga, dikatakan tingkat rantai makanan tertinggi adalah manusia, ancaman tertinggi populasi suatu makhluk hidup adalah manusia. Contoh, singa, singa tidak akan membunuh kijang sekedar hobi, atau lucu-lucuan terus tertawa melihat kijang kesakitan. Mereka membunuh hanya memenuhi kebutuhan makannya. Apakah singa kejam? Tidak, karena kodratnya memang begitu, susunan organ pencernaannya memang cocoknya untuk ‘perdagingan’ bukan ‘perumputan’. Berbeda dengan manusia, kadang melukai sesuatu, kucing misalnya, masih tidur pulas pantatnya dioles balsem atau sengaja dibanting dan sebagai bahan tertawaan. Ini jelas kejam. Namun menyimpangan etika ini terlihat jelas, dan itu salah, serta salah satu bibit kekejaman. Bisa saja untuk mencari kepuasan batin hanya dengan menyiksa kucing tidak dapat tercukupi, hingga mencari alternatif lain, yaitu orang lain.


.........................................................................
Semua hal berawal dari ‘coba-coba’.
Saya, 2020
.........................................................................


Ada juga kekejaman yang terselubung dengan dalih ‘kasih’, nah ini yang saya tegaskan pada judul. Coba deh cari di Youtube, IG, FB atau apapun media sosial elektronik yang menyediakan kolom komentar, dengan mengetik kata kunci ‘penyiksaan kucing, penyembelihan kucing, pembakaran hewan hidup-hidup’, atau apapun yang sejenis, saya tidak menyarankan untuk menonton, tapi bacalah komentar-komentarnya.
Disitu terpapar banyak hal mengenai lontaran belas kasih terhadap binatang yang ada di video atau foto yang diunggah, namun lihat respon mereka terhadap ‘tokoh’ manusianya. Sadis kan? Saya sebagai manusia, merasa wajar ketika ada yang kasihan dengan binatangnya, namun untuk sampai memperlakukan ‘tokoh manusia’ selayaknya ‘tokoh binatang’, walau sebatas angan, masih merasa sanksi. Karena tak sanggup melihat manusia ‘dibegitukan’.
Kok bisa ya manusia sekejam itu ‘sekedar’ berangan untuk menyiksa sesama manusia? Padahal singa pun tak mungkin seperti itu. Membela diri masih mungkin, atau membela anaknya. Tapi kan atas dasar ‘membela’. Kalau anaknya diganggu dan induk singa tak melindungi, bodoh lah!
Kalau melukai orang dan itu darurat, atau dalam bahasa fiqh-nya dzoruroh itu masih bisa. Namun dengan syarat yang harus dipenuhi, seperti menjaga agama, nyawa, harta, kehormatan. Misal kalau sedang jalan-jalan lantas dibegal terus teman anda diancam dibunuh, kan dari pada teman anda yang mati, mending pembegalnya kan? Pembunuhan dalam hal ini, hukum negara pun masih bisa dipertimbangkan.  Berbeda jika membunuh begalnya dengan cara sengaja jalan-jalan ke tempat biasa begal nongkrong, ini bisa disebut pembunuhan berencana.
Ingat, membela, bukan menyerang. Kalau bom bunuh diri di tempat ibadah, itu menyerang. Atau mengumpulkan masa yang sesama merasa agamanya didzolimi dengan menggeruduk pemerih, menuntut sang penista untuk dihukum seberat-beratnya, membawa spanduk bergambar ‘penista’ yang diisi kalimat pedas, nah kalau itu saya tidak tahu. Maklum saya imannya masih lemah, jadi ketika ada kemunkaran, saya tidak memilih menghilangkannya dengan tangan ataupun mulut, belummampu saja, sehingga cuma dengan ingkar dalam hati. wkwkwk
Tapi sekali lagi, jika dengan kesengajaan, baik itu perbuatan ataupun angan, jangan lah berfikiran untuk sesekali menyakiti seseorang. Selain dapat membuat pikiran semakin menyimpang dikemudian hari, bisa juga terkena pasal makar jika berupa ajakan untuk ‘melukai atau membenci’ orang lain. Belum lagi ada pasal ITE. Kan rugi sendiri.

Mari bijak bermedia!!!


Komentar

Masyhur

Kuatlah dan Tetap Menjadi Sampah Masyarakat

Takutlah Jika Ibadah Kita Malah Membuka Pintu Neraka

Jangan Terlalu Sering Ngomong Kasar, BAHAYA!!!