Mahalnya Dunia Pesantren
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang telah ada sejak dulu. Kadang, pesantren dianggap sebelah mata oleh sebagian orang. Dikarenakan, fasilitas yang kurang memadahi, manajemen pendidikan yang kurang tersistem, peserta didik atau santrinya terkenal kucel, kumal, kotor. Itu stigma yang sering muncul, yang sering juga saya dengar.
Konsep 'mencerdaskan kehidupan bangsa' yang terkandung di dalam pembukaan UUD 1945 benar-benar diterapkan dipesantren. Bagaimana tidak? Pesantren menerapkan 'pembukaan penerimaan santri baru' tapi tidak ada 'penutupan', karena mau mendaftar kapan saja pasti diterima. Berbeda dengan sekolah. Dan, biasanya yang masuk ke pesantren adalah mereka yang 'kurang neruntung' dari segi finansual atau bahkan segi kecerdasan.
Dari segi finansial, mereka para orang tua yang kurang mampu menyekolahkan anaknya, akan mencari alternatif pendidikan, yaitu pesantren. Karena pesantren terkenal murah.
Segi kecerdasan, tidak semua memang, tapi ini adalah sebuah cerita dari seorang pengasuh pondok pesantren. Menceritakan bahwa ada wali santri yang memiliki beberapa anak, yang pintar disuruh mendaftar ke kedokteran, teknik, giliran yang 'dianggap' bodoh barulah dimasukkan ke pesantren. Lantas bagaimana Islam berkembang kalau terus-terusan anak 'bodoh' yang dikirim orang tua untuk kader penerus perjuangan Nabi?
Karena pesantren tidak pernah menolak santri dalam bentuk apapun, kyai kadang kerepotan bagaimana cara mencover semua santrinya agar menjadi 'berhasil'. Berbeda dengan stigma 'sekolah favorit' yang mana selalu menghasilkan lulusan relatif baik dibanding sekolah 'pinggiran'. Jadi tidak heran ketika proses masuknya dengan seleksi ketat, pintar, dan lulus dengan predikat memuaskan! Pesantren benar-benar mencerdaskan santrinya, dengan input seadanya menghasilkan lulusan terbaik di bidangnya.
Tidak semua santri dengan latar belakang 'terbuang' memang, ada yang memang benar-benar ingin belajar agama secara mendalam. Bukan sekedar karena terpaksa keadaan.
Pesantren yang 'murah' kadang disalahgunakan oleh oknum-oknum santri. 'Dari pada kos', mereka berkata seperti itu. Pesantren sering digunakan sebagai 'kos murah'. Asal tahu saja, pesantren itu mahal!
Pesantren itu mahal! Suatu saat, pernah saya mendengar obrolan Pak Kyai mengenai perincian pengeluaran listrik, ledeng air, bisyaroh (gaji) ustad-ustadzah yang membantu pak kyai dalam mendidik santri-santrinya. Belum masalah akhirussanan (khataman), sebagai agenda tahunan. Dan itu dicover Pak Kyai, sebdiri! Tanpa meminta bantuan orang lain. Wakau kadang ada yg suka rela membantu. Namun paling mencapai seperempat pengeluaran pun tidak.
Karena kami makan ikut 'ndalem' dimasakkan oleh Bu Nyai, tidak memasak sendiri,maka biaya yang kami keluarkan hanya sebatas biaya makan. Itu pun kalau dihitung-hitung hanya lima belas ribu saja perhari. Dan tidak diwajibkan! Ada yang sama sekali tidak dibebani biaya sepeser pun! Dengan dalih dari Pak Kyai 'yang penting mau mengaji, sudah alhamdulillah,rejeki sudah ada yang mengatur'.
Saya heran dengan Pak Kyai, kenapa sebegitu berjuangnya. Padahal bukan anaknya, saudara juga bukan, namun mau membiayai santrinya. Dengan menggratiskan, secara tidak langsung, Pak Kyai telah ikut menafkahi santrinya. Ada pula yang sudah gratis, juga diberi uang saku setiap berangkat sekolah saat tahun ajaran baru pun ada yang diberi kitab atau uang untuk membeli kitab.
Pondok tempat kami memang kecil, dengan jumlah 30-40 santri saja. Miris kadang, ketika telah tahu bagaimana perjuangan Pak Kyai begitu, dan ada pula oknum yang memanfaatkannya dengan dalih kos murah. Ya, secara fasilitas memang seadanya. Kamar, listrik, air sebagai fasilitas utama dalam bentuk fisik. Jika dihitung itu sudah mahal. Belum lagi ngaji, ilmu yang secara cuma-cuma diberikan.
Coba bayangkan, dengan analogi bahwa ilmu pesantren adalah ilmu agama seperti disekolah. Dianalogikan begini: disekolah siswa kurang mampu menangkap pelajaran agama, dan memerlukan les tambahan guna mengejar ketidakmampuannya. Nah, sekarang berapa biaya les dari bimbingan belajar diluaran sana? Yang hanya beberapa jam saja setiap minggu. Dipesantren bisa 24 jam dalam sehari!!!
Sudah ada gambaran kan, betapa mahalnya pesantren? Kalau memang mau buka-bukaan masalah biaya. Namun, Pak Kyai tidak mempermasalahkan itu. Cukup ada santri yang berhasil, berakhlak baik pun sudah senang. Sehingga pada suatu saat beliau berpesan 'jadilah orang kaya, kaya hati, biar tidak sedikit-sedikit bingung masalah harta, kaya juga dalam harta, pinter saja tidak cukup, karena berjuang juga butuh modal'
Dalam pesan yang lain 'ketika membeli kitab (buku ilmu) jangan sampai ditawar, tidak berkah', mungkin ini alasan kenapa 'dimurahkan', karena banyak orang yang ketika mamasukkan anaknya ke sekolah atau bimbel dengan biaya mahal mereka biasa saja, namun ketika dipesantren mereka menjerit. Jangankan pesantren, madrasah diniyyah yang di kampung-kampung, -yang biasanya dilakukan pada sore hari, kalau membayar disamakan dengan bimbel palingan juga tidak ada orang tua yang membawa anaknya mengaji. Maka dari itu, untuk mencegah 'ketidak berkahan' sebab orang tua santri 'ngedumel' masalah biaya, maka dimurahkan oleh Pak Kyai. Berbeda dengan pendidikan formal, memang kalau fasilitasnya sama, ya akan sebanding biayanya, hanya saja kalau pendidikan formal tetap harus bayar, entah bagaimana sistemnya.
Jadi, mari luruskan niat saat masuk pesantren. Dan saya mohon, tahu dirilah dengan seorang kyai, karena ilmu itu mahal. "50 juta uang dikeluarkan belum tentu bisa paham 100% kitab kecil seperti Jurumiyya", begitulah analogi mahalnya ilmu dari beliau. Itu baru ilmunya, belum yang lain-lain, listrik misal. Makanya, jangan mudah menyalahkan seorang kyai, kalau bisa, ya membantu. 😊😊😊
Komentar
Posting Komentar
Mau menyanggah? Silahkan! Jangan lupa sambil tersenyum biar bumi tidak kehilangan keindahan alamnya. Kamu.